Hasil Penelitian Tunjukan Rokok Elektrik Bantu Seseorang Berhenti Merokok

Hasil Penelitian Tunjukan Rokok Elektrik Bantu Seseorang Berhenti Merokok
Foto/net

KATTA - Penelitian terbaru dari University of Queensland, Australia menemukan fakta mengejutkan, bahwa rokok elektrik dapat dijadikan alat bantu untuk menghentikan kebiasaan merokok.

Pada penelitian itu menunjukan rokok elektrik 50 persen lebih efektif daripada terapi pengganti nikotin (NRT). 83 persen partisipan yang menggunakan rokok elektrik memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk berhenti merokok dibandingkan mereka yang disodorkan NRT.

Selain itu, hanya 9 persen dari mereka yang melanjutkan penggunaan NRT.

“Rokok elektrik lebih efektif daripada produk NRT, karena rokok elektrik mengantarkan nikotin dengan jumlah sedikit untuk meringankan gejala putus obat. Selain itu, rokok elektrik juga memberikan pengalaman perilaku dan sensoris yang serupa dengan rokok konvensional,” kata Dr. Gary Chan dari National Centre for Youth Substance Use Research, The University of Queensland, melalui siaran pers yang diterima, Selasa (5/5/2021).

Dikutip dari studi yang sama, sebagian besar pustaka yang diamati masih menggunakan rokok elektrik keluaran awal sebagai objek penelitian. Ini artinya, ada kemungkinan rokok elektrik keluaran terbaru yang mampu mengantarkan nikotin dengan lebih efisien dapat lebih efektif dalam mengurangi keinginan pengguna kembali merokok.

Di dalam negeri, penemuan ini sejalan dengan riset Universitas Brawijaya yang dipublikasi awal tahun lalu, yang menyatakan bahwa Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) dapat membantu mengurangi konsumsi rokok.

Edukasi dan Riset HPTL di Indonesia masih kurang

Walaupun pengguna HPTL terus meningkat, dan banyak perokok yang ingin berhenti, studi mengenai produk HPTL di Indonesia masih sangat terbatas. Akibatnya, mereka yang ingin berhenti merokok tidak memiliki informasi yang akurat mengenai pilihan yang lebih rendah risiko.

Padahal, laporan The Global State of Tobacco Harm Reduction (GSTHR) yang terbit pada 18 April 2021, 48,6 persen perokok di Indonesia ingin berhenti merokok. Sayangnya, jika menilik dari data yang dimiliki oleh Badan Pusat Statistik (BPS), persentase perokok Indonesia hanya berhasil turun 0,3 persen menjadi 28,7 persen pada 2020. Peralihan ke produk HPTL juga terbilang lamban di Indonesia, di mana menurut laporan GSTHR jumlah pengguna HPTL baru mencapai satu (1) persen saja. Edukasi menyeluruh mengenai guna produk dan risiko masih perlu ditingkatkan. Di sisi lain, riset terkait produk HPTL yang sudah beredar juga perlu disosialisasikan dengan lebih optimal.

Hal ini diamini Prof. Kholil, Guru Besar Universitas Sahid Jakarta, yang ikut meneliti pengguna produk tembakau alternatif. Pada studinya, Prof. Kholil melihat bahwa sebagian besar perokok dewasa belum familier dengan produk tembakau alternatif, ataupun mengenali manfaat produk yang mampu meminimalkan risiko akibat merokok.

Ia mengatakan, riset serupa perlu untuk terus dikembangkan, tidak hanya dari sisi perilaku pengguna, akan tetapi juga dari sisi produk dan kandungan di dalamnya, guna memastikan cita-cita menekan angka perokok dapat dicapai

Top