Repdem Minta Presiden Jokowi Berhentikan Menteri Lutfi

Agar Tidak Jadi Duri dalam Kabinet

Repdem Minta Presiden Jokowi Berhentikan Menteri Lutfi
M. Lutfi/Net

KATTA - Organ sayap PDI Perjuangan, Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) dengan tegas menolak impor beras yang diprogramkan oleh Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi.

"Tindakan Menteri Perdagangan untuk melakukan impor beras itu jelas bertentangan dengan visi presiden, mencintai produk dalam negeri dan membenci penggunaan produk asing," ujar Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Repdem Abe Tanditasik, Senin (22/3/2021).

Dikatakannya, dalam sektor pengadaan pangan harusnya para pembantu presiden memprioritaskan penyerapan hasil panen petani dan meningkatkan hasil produksi bahan pangan dalam negeri.

"Hasil awal sudah sangat baik dengan indeks ketahanan pangan mencapai 62,6 persen. Artinya kebutuhan dalam negeri sudah sangat tercukupi," katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, Presiden Jokowi sudah mencanangkan "food estate" untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.

"Inilah yang harus dipacu oleh para pembantu Presiden. Bukan memanipulasi data kemudian mencanangkan impor," tekannya.

Abe Tanditasik menyinggung Badan Urusan Logistik (Bulog) yang menurutnya mesti konsisten untuk menyerap hasil panen raya petani yang jatuh pada bulan Maret-Mei 2021. Stok impor beras 2018 sebanyak 275.811 ton harus segera dikeluarkan, apalagi 106.642 ton diantaranya sudah mengalami penurunan mutu dan harus menjadi produk olahan bukan untuk makanan manusia.

Dengan demikian, Repdem mencurigai Menteri Lutfi sedang mengakomodir kepentingan pemburu rente dari program impor yang dipaksakan ini.

Selain itu, Repdem mencurigai bahwa Lutfi sedang menguntungkan sindikat untuk menjatuhkan harga serap petani pada saat panen raya sekarang ini.

"Karena Menteri Perdagangan secara jelas dan nyata menentang visi Presiden, Repdem mengusulkan kepada Presiden untuk memberhentikan Menteri Perdagangan sesegera mungkin agar tidak menjadi duri dalam daging dalam kabinet," demikian kata Abe Tanditasik.[]

Top