Hati-Hati Fenomena Pom-Pom dan FOMO di Kalangan Investor Pemula

Hati-Hati Fenomena Pom-Pom dan FOMO di Kalangan Investor Pemula
Ilustrasi/Net

KATTA - Kenaikan saham Gamestop, perusahan video  game, secara signifikan menjadi perbincangan hangat dan menjadi  sorotan khusus secara global beberapa waktu lalu. Meroketnya harga saham Gamestop bermula dari pembicaraan para investor retail melalui forum Reddit, ‘WallStreetBets’. Para investor kecil ini bergabung dan saling mengajak satu sama lain untuk melakukan pembeli saham Gamestop secara massal.

Meskipun aksi masif pembelian saham itu membuat harga saham Gamestop melesat, namun kenaikan tersebut memaksa para hedge fund besar yang memakai saham Gamestop untuk transaksi short selling (jual kosong) merugi. Dalam short selling, investor meminjam saham yang belum dimilikinya dari broker saham, kemudian menjualnya dengan harga tinggi, dan kemudian  membelinya kembali dengan harga lebih rendah, dengan tetap mempertahankan selisihnya. Akan tetapi jika suatu saham tiba-tiba melonjak, maka investor tersebut terpaksa harus membelinya kembali dalam keadaan rugi. Kenaikan harga saham Gamestop  disinyalir sebagai fenomena pom-pom saham yang memang sedang ramai terjadi, termasuk di Indonesia baru-baru ini.

Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Hasan Fawzi, menilai, bukan tidak mungkin hal itu juga akan terjadi di BEI. Namun, dia menegaskan, jika hal tersebut terjadi seharusnya dilandasi dengan pemahaman yang benar terhadap prospek saham tersebut.

Maraknya Investor Saham Pemula di Indonesia

Pasar modal Indonesia menunjukkan geliat positif dengan terus bertambahnya investor di tengah pandemi Covid-19. BEI mencatat jumlah investor sebanyak 3,9 juta Single Investor Identification (SID) atau melonjak 56% jika dibandingkan dengan  posisi di akhir tahun 2019. Investasi di pasar modal banyak digemari publik saat ini khususnya kaum milenial.

Data PT. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) juga menunjukkan bahwa demografi investor untuk usia di bawah  30 tahun berjumlah 54,8% dan usia 31-40 tahun berjumlah 22,6% dari total investor pasar modal di Indonesia, dapat dikatakan lebih dari  75%  investor pasar modal Indonesia berada pada usia mudaatau produktif.

Grant Thornton Indonesia melihat banyaknya investor baru ini patut menjadi perhatian, terlebih lagi dengan munculnya  fenomena pom-pom dimana saham dipompa (pump) agar harganya melejit oleh individu atau kelompok sehingga tampak  menggiurkan. Fenomena ini juga bersamaan dengan maraknya influencer yang ikut membicarakan soal investasi saham dengan merekomendasikan saham tertentu sehingga semakin meningkatkan antusiasme publik untuk berinvestasi saham.

Marvin Camangeg, Advisory Director Grant Thornton Indonesia mengatakan saham tidak jarang dianggap sebagai instrumen  investasi yang mampu menghasilkan keuntungan yang relatif tinggi. Namun, sama seperti investasi pada umumnya, potensi  keuntungan yang tinggi dari investasi saham juga tentu diikuti dengan risiko yang tinggi, fakta ini yang seringkali kurang diperhatikan oleh investor pemula.

Performa beberapa perusahaan yang sempat mengalami kenaikan harga saham hingga ratusan persen juga mendorong  banyaknya investor newbie menjadi merasa FOMO (Fear of Missing Out) dimana mereka akhirnya bertindak impulsifhanya  karena takut ketinggalan momentum untuk mendapatkan keuntungan dalam waktu singkat.

Banyak akhirnya investor pemula yang salah kaprah dengan menginvestasikan uang untuk kebutuhan sehari-hari bahkan  berutang dengan bunga besar, mereka yang tadinya berharap mendapat keuntungan cepat justru banyak yang berakhir dengan rugi besar. Akan lebih baik apabila investor pemula belajar dan meningkatkan pemahaman terlebih dahulu sebelum berinvestasi saham. Hal ini dapat dilakukan dengan mengikuti webinar dan workshop tentang pasar modal yang sering diselenggarakan oleh  instansi berkaitan ataupun bergabung dengan komunitas pemain saham sehingga para investor pemula bisa langsung mendengarkan dan belajar dari orang–orang yang sudah berpengalaman dalam bermain saham.

"Pelajaran yang dapat dipetik di sini adalah bahwa pasar saham dapat diibaratkan seperti rimba. Kita akan menemukan berbagai jenis hewan. Ada hewan yang kuat secara alami karena ukuran tubuhnya yang besar, namun ada juga hewan yang kuat semata-mata karena mereka selalu bergerombol dalam jumlah besar. Selain itu sekarang teknologi juga telah mengubah aturan permainan.  Jadi sebelum berinvestasi saham, perlu memahami profil resiko perseorangan, tetap rasional dan tidak bergantung pada intuisi saja waktu pemilihan saham. Selalu mencari bantuan dari para penasihat investasi yang dapat membantu  dan memberikan bimbingan dalam keputusan berinvestasi," tutup Marvin.[]

Top