KAHMI Menyayangkan Pemecatan Dua Warek UIN Jakarta

KAHMI Menyayangkan Pemecatan Dua Warek UIN Jakarta
Ilustrasi/Net

KATTA - Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) menyatakan sikap terkait pemecatan dua Wakil Rekor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Andi M. Faisal Bakti dan Prof Masri Mansoer.

Pemecatan dilakukan Rektor UIN Jakarta Prof Amany Lubis di tengah tuntutan penegakan Mahkamah Etik atas dugaan penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh oknum dosen terkait kegiatan pembangunan asrama mahasiswa.

"Kami menyayangkan atas terjadinya pemecatan terhadap Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Kelembagaan di tengah persoalan tuntutan penegakan Mahkamah Etik atas dugaan penyalahgunaan yang dilakukan oleh oknum dosen," demikian pernyataan sikap KAHMI Rayon UIN Syarif Hidayatullah Jakarta seperti dilihat KATTA, Sabtu (20/2/2021).

KAHMI menyatakan sikap, bersama pihak lain sama-sama mendorong rektorat agar meninjau ulang keputusan pemecatan.

Selain itu KAHMI meminta rektorat fokus pada penyelesaian dugaan penyalahgunaan wewenang, serta menegakkan prinsip-prinsip good governance dan profesionalitas dalam menuntaskan kasus tersebut.

"Kami mendukung penegakan good university governance di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta," begitu poin lain pernyataan sikap tersebut.

KAHMI berpandangan sinyalemen konflik antara rektor dengan warek bidang kemahasiswaan dan warek bidang kerjasama dan kelembagaan adalah persoalan bagaimana mengorganisir dinamika komunikasi dan interaksi, serta distribusi kerja yang profesional. Sikap apriori rektor dan wakil rektor lainnya sangat disayangkan sehingga menyulitkan terbangunnya kerja profesional di tingkat rektorat.

"Sebagai konsekuensi di atas Kahmi Rayon UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tidak merekomendasikan siapapun untuk duduk menggantikan posisi kader kami tersebut," demikian pernyataan sikap KAHMI Rayon UIN Jakarta.

Diketahui, Rektor UIN Jakarta Prof Amany Lubis memecat Prof Andi M. Faisal Bakti dan Prof Masri Mansoer dari jabatannya masing-masing sebagai Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan.

Pemberhentian Prof Andi berdasarkan Keputusan Rektor Nomor 166, adapun Prof Masri diberhentikan melalui Keputusan Rektor Nomor 167. Pemberhentian keduanya berlaku sejak surat keputusan ditandatangani Prof Amany tanggal 18 Februari 2021.

"Yang bersangkutan dipandang sudah tidak dapat bekerja sama lagi dalam melaksanakan tugas kedinasan," demikian petikan keputusan rektor pada bagian menimbang dalam Keputusan Rektor Nomor 166 dan Keputusan Nomor 166.

Pencopotan dua warek diduga merupakan buntut dari laporan dugaan perbuatan melawan hukum terkait proyek pembangunan asrama mahasiswa ke penegak hukum.

Selain ke Polda Metro Jaya dugaan pelanggaran hukum dalam kegiatan pembangunan asrama mahasiswa UIN Jakarta telah dilaporkan ke Kejaksaan Agung, KPK, dan Kementerian Agama.

Pelaporan dilakukan oleh UIN Watch, UIN Bersih dan individu civitas akademika UIN Jakarta pada medio November-Desember 2020 dengan sangkaan dugaan peniupan dan/ penggelapan, korupsi, penyalahgunaan wewenang dan pelanggaran etik dengan terlapor antara lain rektor UIN Jakarta Prof Amany Lubis dan Ketua Panitia Pembangunan Asrama Mahasiswa Prof Suparta.

Dugaan pencopotan dua warek sebagai buntut pelaporan kasus pembangunan asrama mahasiswa antara lain disampaikan Koordinator UIN Watch Sultan Rivandi.

"Dugaan kuat kami seperti itu," kata dia melalui sambungan telepon kepada KATTA, Jumat (19/2/2021).

Dalam laporan dugaan pemalsuan yang dibuat ke Polda Metro Jaya, dicontohkan dia, UIN Watch mencantumkan dua nama Warek yang diberhentikan oleh Rektor UIN Prof Amany Lubis sebagai saksi.

"Sangat mungkin pemberhentian mereka sebagai upaya untuk menggagalkan atau mempersulit proses hukum atas kasus yang kami laporankan," ucap Sultan.[]

Top