Kajari Jaktim: Terungkapnya Korupsi Kepala BPN DKI Jakarta Berangkat dari Putusan Bebas Paryoto

Kajari Jaktim: Terungkapnya Korupsi Kepala BPN DKI Jakarta Berangkat dari Putusan Bebas Paryoto
Foto/net

KATTA - Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Timur, Yudi Kristiana, menyatakan pengungkapan kasus dugaan tindak pidana korupsi kasus tanah di Cakung berangkat dari putusan bebas mantan pegawai pengukur tanah

di Badan Pertanahan Nasional (BPN), Partoyo.

Pada perkara ini, mantan Kepala BPN Kantor Wilayah DKI Jakarta, berinisial JY dan AH dijadikan tersangka korupsi senilai Rp 1,4 triliun.  

"Memang penanganan perkara ini sebenarnya berangkat dari fakta-fakta persidangan perkara pemalsuan yang sidang di PN Jaktim," ujar Yudi saat dihubungi wartawan, beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan, dari sejumlah fakta persidangan itu lantas dibuat telaah intelijen. Lantas dari sejumlah pendalaman ditemukanlah sejumlah bukti dan fakta untuk dilakukan penyelidikan pidana khusus, berdasarkan Surat Perintah Penyelidikan Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Timur Nomor : Print-05/M.1.13/Fd.1/11/2020 tertanggal 12 November 2020.

"Dari hasil penyelidikan tersebut ternyata ditemukan peristiwa pidana terkait tindak pidana korupsi," bebernya.

Kemudian setelah itu di akhir Desember,  dilakukan ekspos alias gelar perkara. Tim sudah sampai kesimpulan bahwa cukup bukti untuk penetapan tersangka. "Kami umumkan di awal tahun, sudah ditetapkan tersangka," kata Yudi yang pernah menjadi Jaksa di KPK ini. 

Dia membeberkan, JY dan AH melakukan korupsi dengan modus membatalkan 38 sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) dan menerbitkan Sertifikat Hak Milik (SHM) No. 4931 tertanggal 20 Desember 2019 di Kampung Baru, RT 009/RW008, Kecamatan Cakung Barat, Kota Jakarta Timur. 

Sertifikat yang dibatalkan tersebut sebelumnya atas nama PT SV yang selanjutnya diterbitkan sertifikat baru tersebut atas nama AH dengan luas 77.852 meter persegi. "Kerugian masyarakat terjadi akibat perbuatan tersangka sebesar nilai tanah, yakni Rp 1,4 triliun," ungkap dia. 

Kedua tersangka dikenakan pasal Pasal 9 UU RI No 31 Tahun 1999 Jo UU RI No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP Jo pasal 64 KUHP Atau Kedua Pasal 21 UU RI No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.

Dihubungi terpisah, Kasi Intel Kejari Jaktim Ady Wira Bhakti mengamini, kasus ini berangkat dari fakta persidangan kasus pemalsuan akta tanah yang menjerat Paryoto, yang kemudian oleh hakim telah divonis bebas.

"Ada korelasi. Tapi secara pasal nggak ada hubungannya. Kasus pidum itu berdiri sendiri. Ini kasus tipikornya, case-nya berbeda," ujarnya. 

Dia juga memastikan, akan ada pengembangan dalam penyidikan kasus ini. "Kalau pengembangan pasti ada. Ini kan masih proses penyidikan. Kita tunggu saja," tandas Ady.[]

Top