Ferdy Yuman Berhasil Ditangkap Berkat Mobil Terparkir di Hotel

Ferdy Yuman Berhasil Ditangkap Berkat Mobil Terparkir di Hotel
Konferensi pers KPK soal penangkapan Ferdy Yuman.

KATTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjelaskan kronologi penangkapan Ferdy Yuman, tersangka dalam kasus suap dan gratifikasi mantan Sekretaris Mahkamah Agung Nurhadi.

Plh Deputi Penindakan KPK Setyo Budiyanto mengatakan pada Jumat 8 Januari 2021 KPK mendapatkan informasi dari masyarakat mengenai keberadaan Fredy di salah satu alamat di Surabaya, Jawa Timur.

"Kemudian tim bergerak ke lokasi, berkoordinasi dengan kepolisian Polda Jawa Timur serta kepala lingkungan setempat untuk melakukan penangkapan. Sesampai di lokasi ternyata yang bersangkutan tidak ada," ujar dia melalui konferensi pers daring pada Minggu, 10 Januari 2021.

Di lokasi, tim KPK mengamankan beberapa barang bukti diantaranya dokumen, handphone, dan satu unit mobil Fortuner warna hitam yang diduga milik Ferdy.

Tim KPK kemudian melakukan pencarian dengan menghubungi Polresta Malang dan Polsek Klojen untuk membantu menyisir keberadaan Ferdy.

"Kurang lebih pukul 23.45 WIB tim menemukan satu unit mobil terparkir yang dicurigai milik FY di salah satu hotel di wilayah kota Malang yang dipergunakan sebagai sarana untuk melarikan diri. Selanjutnya tersangka FY diamankan,"

Ia mengatakan setelah berhasil ditangkap Ferdy kemudian dibawa ke gedung merah putih KPK di Jakarta guna mengikuti proses hukum selanjutnya. Komisi anti rasuah menahan Ferdy selama 20 hari pertama terhitung sejak 10 Januari hingga 29 Januari 2021.

"(Ditahan) di Rutan KPK cabang Pomdam Jaya Guntur. Namun, sebagai upaya mencegah penyebaran Covid-19, yang bersangkutan terlebih dulu menjalani isolasi mandiri selama 14 hari," demikian kata Setyo Budiyanto.

KPK menetapkan Ferdy Yuman sebagai tersangka lantaran diduga menghalangi penyidikan dalam perkara Nurhadi. Ia disebut menghalangi-halangi petugas ketika akan meringkus Nurhadi dan menantunya, Rezky Herbiyono.  Atas perbuatannya, Ferdy disangkakan Pasal 21 Undang-Undang Tipikor.

Dalam perkara ini, KPK menetapkan tiga orang menjadi tersangka, yakni Nurhadi, Rezky Herbiyono dan Hiendra Soenjoto. KPK menduga Nurhadi melalui Rezky menerima suap dan gratifikasi senilai Rp 46 miliar.

Uang itu diduga diberikan agar Nurhadi mengurus perkara perdata antara PT MIT melawan PT Kawasan Berikat Nusantara. KPK menyebut menantu Nurhadi menerima sembilan lembar cek atas nama PT MIT dari Direkut PT MIT Hiendra Soenjoto untuk mengurus perkara itu.[]

Top