Asyiknya Jadi Anak Presiden

Asyiknya Jadi Anak Presiden
Salah satu usaha kuliner milik Gibran Rakabuming Raka, yang merupakan putra sulung Presiden Joko Widodo

ARTIKEL tirto.id bertajuk "Keluarga Pebisnis & Konglomerat di Balik Bisnis Gibran dan Kaesang" (https://tirto.id/keluarga-pebisnis-konglomerat-di-balik-bisnis-gibran-dan-kaesang-f7PX) yang terbit di penghujung 2020 membuat sebagian publik tercengang. Bagaimana mungkin ada investor yang mau berinvestasi hingga jutaan dollar AS untuk usaha kuliner yang terbilang masih baru? Terlebih lagi saat ini perekonomian nasional sedang ambruk akibat pandemik Covid-19, sehingga secara otomatis daya beli juga lesu. Lalu, apakah ini murni bisnis atau ada modus lain dari pihak tertentu?    

Dilansir Tirto.id, Nailul Huda, analis ekonomi digital dan inovasi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), mengungkap bahwa model bisnis yang dilakoni anak Presiden Jokowi, yakni, Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep, bukan hanya bisnis  kuliner semata. Tapi, patut diduga modus operandi pengusaha untuk dekat dengan orang nomor satu di negeri ini. Nilai "investasi" yang sudah dikeluarkan, menurut Huda, ibarat “tidak ada makan siang gratis” dari relasi bisnis tersebut.

“Kalau tidak melihat sisi ekonomi-politiknya, startup bisnis yang dimiliki atau dikelola secara bersama oleh Gibran dan Kaesang merupakan startup bisnis seperti biasa. Artinya, mereka akan membutuhkan suntikan modal untuk bisa terus beroperasi maupun berekspansi. Model bisnis yang dikenal doyan bakar uang meskipun sudah membuka beberapa cabang di kota-kota Indonesia."

“Kalau cuman mengandalkan brand ‘bisnis anak presiden’ terus invest, ya bisa jadi hanya upaya untuk mendekati presiden,” kata Huda. 

Sejak Kapan?

Publik umumnya telah mengenal bisnis mebel Presiden Jokowi bernama PT Rakabu Sejahtra, yang terafiliasi dengan PT Toba Sejahtra milik Luhut Panjaitan. Cerita Jokowi berkongsi bisnis dengan Luhut bermula pada 2007 saat masih menjabat Wali Kota Solo lewat teman satu alumni Fakultas Kehutanan UGM, Bambang Supriyambodo. Di Rakabu, Jokowi telah menempatkan Kaesang Pangarep,  sebagai komisaris pemilik 51% saham senilai Rp16,2 miliar.

Namun, Gibran Rakabuming dan Kaesang tak melanjutkan usaha mebel ayahnya, mereka lebih memilih usaha beragam bisnis kuliner. Pada 2010, saat berusia 23 tahun, Gibran memulai usaha katering bernama Chili Pari. Pada 2015, kakak-adik ini mendirikan Markobar. Dua tahun kemudian, mereka membangun Sang Pisang. Ketiga bisnis kuliner ini kemungkinan sudah familier.

Gibran dan Kaesang boleh saja mengklaim bisnis mereka berkembang tanpa ada peran pengaruh politik bapaknya. Namun, dari penelusuran Tirto.id, ada irisan peran Jokowi saat menjabat presiden, mendekatkan kedua putranya dengan sumber-sumber pendanaan yang menggerakkan usaha rintisan makanan dan minuman mereka yang lain.

Irisan pengaruh politik Jokowi dan bisnis anaknya itu bisa dilihat dari perusahaan bernama Harapan Bangsa Kita, yang menjadi induk usaha untuk sejumlah bisnis kuliner yang dijalankan oleh Gibran dan Kaesang.

Dikenal sebagai GK Hebat, perusahaan induk berkantor di Generali Tower, kawasan bisnis Gran Rubina, Jakarta Selatan, ini membawahi Sang Pisang, Yang Ayam, Ternakopi, Siap Mas, Let’s Toast, dan Enigma Camp, serta menjalin kemitraan bisnis dengan para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah.

GK Hebat berdiri pada akhir 2019 dari kongsi tiga perusahaan, masing-masing PT Siap Selalu Mas milik Gibran dan Kaesang; PT Wadah Masa Depan yang terafiliasi dengan keluarga Gandi Sulistiyanto (Direktur Utama Sinar Mas); dan PT Gema Wahana Jaya milik keluarga Theodore Permadi Rachmat, satu dari 50 orang terkaya di Indonesia. Di GK Hebat, Anthony Pradiptya menjabat direktur dan Kaesang sebagai komisaris.

Anthony Pradiptya, umur 34 tahun, adalah putra Gandi Sulistiyanto. Di PT Wadah Masa Depan, ia menjabat direktur utama, sementara Gibran sebagai komisaris utama dan Kaesang sebagai direktur. Ada juga Wesley Harjono (39), menantu Sulistiyanto, sebagai komisaris. Keluarga Sulistiyanto membangun perusahaan induk dalam bidang energi, infrastruktur, properti, dan digital lewat PT Gan Konsulindo (dikenal juga Gan Kapital) pada 2011.

PT Gan Kapital memakai layar ketiga lewat PT Sinergi Optima Solusindo, unit bisnis strategisnya, dengan memiliki saham senilai Rp50 juta di PT Wadah Masa Depan. Sinergi Optima Solusindo, dalam keterangan website resmi Gan Kapital, adalah perusahaan konsultasi bisnis yang melayani kebutuhan digital venture, energi, dan sebagainya. Wesley dan Anthony menjabat direktur dan komisaris di PT Sinergi. Nama Gandi Sulistiyanto muncul sebagai pemegang saham di PT Gan Kapital, bersama kedua anaknya, Anthony (Direktur Utama) dan Edwin Prasetya (Direktur). Sementara Wesley Harjono menjabat Direktur Keuangan.

Sulistiyanto adalah pebisnis yang punya karier bagus di Sinar Mas sejak bergabung pada 1992. Ia menjabat Direktur Utama Grup Sinar Mas sejak 2002 dan Wakil Ketua Umum Eka Tjipta Foundation, organisasi nirlaba keluarga Widjaja, pendiri Sinar Mas. Sinar Mas adalah perusahaan konglomerasi yang punya ratusan unit usaha, dari bisnis bubur dan kertas, sawit, perbankan, sekuritas dan asuransi, telekomunikasi, properti, hingga infrastruktur dan pertambangan batubara. Eka Tjipta Widjaja, yang meninggal dunia dalam usia 98 tahun pada Januari 2019, adalah satu dari lima orang terkaya di Indonesia.

Selain perusahaan keluarga Sulistiyanto, ada PT Aldiracita Sekuritas Indonesia yang memiliki saham senilai Rp29,6 juta di PT Wadah Masa Depan. Perusahaan terbuka ini beralamat di Sinar Mas Land Plaza Menara III, Jakarta Pusat. Aldira Sekuritas punya anak usaha bernama PT Surya Timur Alam Raya (STAR Investment) di mana Frenky Loa adalah komisaris utamanya. Frenky Loa juga menjabat komisaris utama di PT Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry, perusahaan kemasan kertas dan karton Grup Sinar Mas.

Afiliasi lain, PT Aldiracita Sekuritas Indonesia memiliki saham senilai Rp10,7 juta di PT Ternak Kopi Indonesia, salah satu usaha rintisan kedua anak Presiden Jokowi.

Sementara konglomerat TP Rachmat atau dikenal Teddy Rachmat memiliki saham senilai Rp9.009.600 melalui PT Gema Wahana Jaya di GK Hebat. Ia pemilik saham mayoritas senilai Rp14,4 miliar di PT Gema Wahana Jaya, dan putra sulungnya, Christian Ariano Rachmat, pemilik saham senilai Rp1 juta. Putra keduanya, Arif Patrick Rachmat, menjabat komisaris di perusahaan tersebut.

Ariano Rachmat, yang juga Wakil Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk., tidak merespons upaya konfirmasi Tirto.id untuk bertanya tentang alasan di balik dia, ayahnya, dan saudara kandungnya berminat berinvestasi pada perusahaan anak Jokowi, hingga laporan ini dirilis.

Anak Presiden-pun Punya Pengaruh Hingga Proyek Bansos? 

Laporan Majalah Tempo edisi 19 Desember 2020, bertajuk Upeti Bansos untuk Tim Banteng, menyebut mantan Menteri Sosial Juliari Batubara dan tim khususnya diduga menunjuk rekanan untuk memproduksi goodie bag, yang akhirnya jatuh kepada PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex. Dikabarkan, penunjukan langsung itu berkat rekomendasi Gibran Rakabuming Raka yang tak lain adalah putra sulung Presiden Jokowi.  

Menurut dua anggota staf Juliari Batubara, masuknya nama Sritex merupakan rekomendasi putra Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka. “Itu bagian anak Pak Lurah,” tutur seorang di antaranya. Sebutan “Pak Lurah” mengacu pada Jokowi.

Kuasa hukum Juliari, Maqdir Ismail, belum bisa memberi tanggapan soal upeti yang diduga diterima dan disalurkan kliennya. “Mohon maaf, saya tidak bisa menjawab pertanyaan karena saya belum bisa berkomunikasi dengan Pak Juliari P. Batubara,” kata Maqdir.

Namun, pemberitaan Majalah Tempo langsung ditepis Gibran dan menegaskan hal itu hanya fitnah belaka.

"Saya tidak pernah merekomendasikan atau memerintah dan ikut campur dalam urusan bansos. Silahkan dikroscek ke KPK," kata Gibran seperti dikutip dari SuaraSurakarta.id, Senin (21/12/2020).

Selain membantah tidak terlibat dalam korupsi dana bansos, Gibran berseloroh ingin korupsi yang lebih besar seandainya benar dia melakukannya.

"Saya enggak pernah seperti itu. Kalau mau korupsi ya yang lebih besar dong. Tapi enggak saya nggak," ungkapnya.

Meski Gibran menyangkal berita Majalah Tempo, PT Sritex melalui Corporate Communication Head, Joy Citradewi tidak menampik adanya pesanan goodie bag untuk keperluan bansos dari Kemensos.

"Inquiry tersebut diterima oleh pihak marketing kami langsung dari Kemensos dan telah diproses sesuai dengan prosedur yang berlaku," tegas Joy, Senin (21/12/2020).

Namun Joy menegaskan, pihaknya mengklarifikasi bahwa tudingan yang beredar mengenai adanya rekomendasi dari Gibran Rakabuming tidak benar.

"Kami menghormati proses hukum dan berharap isu ini dapat segera dituntaskan dengan baik," ucapnya.

Setelah ramai dibicarakan soal dugaan keterlibatan Gibran dalam pemberian rekomendasi pengadaan goody bag untuk bansos, tagar #TangkapAnakPakLurah untuk menyinggung Gibran trending di Twitter sejak Minggu (20/12/2020) hingga Senin (21/12/2020). Setidaknya ada lebih dari 48 ribu cuitan menggunakan tagar #TangkapAnakPakLurah memenuhi linimasa Twitter.

Sementara itu, Jubir KPK, Ali Fikri mengaku akan terus mendalami kasus yang mencatut Gibran Rakabuming Raka.

"Kami memastikan bahwa setiap informasi tentu akan digali dan dikonfirmasi kepada para saksi-saksi yang dipanggil dan diperiksa oleh tim penyidik KPK tersebut," kata Ali dilansir suara.com, Senin (21/12/2020).

Sembari menunggu komitmen KPK untuk membongkar dugaan keterlibatan Gibran dalam kasus korupsi bansos, alangkah asyiknya kita mendengarkan lantunan musik lawas yang dibawakan Iwan Fals berjudul "Bento".

Top