Tokoh Oposisi Semakin Mendapat Tempat di Hati Rakyat

Tokoh Oposisi Semakin Mendapat Tempat di Hati Rakyat
Ilustrasi

KATTA - Tokoh politik yang tetap konsisten bertahan di jalur oposisi semakin mendapat tempat di hati rakyat ketimbang figur yang menerima tawaran duduk di kursi menteri Kabinet Indonesia Maju.

Analis sosial politik Universitas Negeri Jakarta, Ubedilah Badrun, menilai, ada beberapa nama yang bisa bersinar untuk dijagokan di Pilpres 2024 mendatang.

"Tokoh-tokoh oposisi sipil sesungguhnya jauh lebih punya peluang. Tokoh seperti Rizal Ramli, Syahganda Nainggolan, Jumhur Hidayat," ujar Ubedilah.

Selain tokoh nonparpol, kans untuk Pilpres 2024 mendatang, menurut Ubeidilah, juga bisa diraih oleh sejumlah kepala daerah yang kerap berbeda dengan kebijakan pemerintah pusat.

"Misalnya Anies Baswedan, Ridwan Kamil mungkin lebih punya peluang untuk Pemilu 2024, termasuk juga Ganjar Pranowo," kata Ubedilah.

Sementara, sambung Ubeidilah, nama Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo belum bisa merebut hati rakyat.

Ubeidilah berpendapat, AHY tidak akan mendapatkan dukungan luas jika tidak secara tegas menyatakan oposisi. Hal itu juga semakin berat karena ada darah militer di diri putra Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mempunyai segmentasi tersendiri di masyarakat. Begitu pun dengan Gatot Nurmantyo.

"Gatot ada ruang kelemahan yang melekat pada dirinya, yaitu kesan militeristiknya yang kuat dimana sebagian rakyat masih cukup traumatik dipimpin kalangan militer. Begitu juga pada AHY kesan militernya masih belum hilang, seperti juga pada Prabowo," katanya seperti dilansir RMOL, Senin (28/12/2020).

Kiai NU Taruh Harapan Besar Pada Rizal Ramli


Sejumlah kiai kultural asal Jawa Timur dan Jawa Tengah yang tergabung dalam Komite Khittah NU 1926 atau KKNU 1926 dipimpin KH Agus Solachul Aam Wahib Wahab dan akrab dipanggil Gus Aam meminta Rizal Ramli bersedia menjadi pemimpin nasional yang akan datang.

Gus Aam mengungkapkan kesulitan ekonomi saat ini terasa sampai ke bawah. Termasuk yang dirasakan para pengasuh pondok pesantren, sebab berbulan-bulan mereka menghentikan kegiatan belajar-mengajar. Tentu, kata Gus Aam, kondisi itu juga berdampak pada masyarakat di lingkungan pesantren. Sebab selama ini roda ekonomi mereka bergerak karena keberadaan pesantren.

"Pak Rizal Ramli punya pengalaman 20 tahun lalu. Saat itu ekonomi terpuruk imbas krisis moneter. Namun kondisi saat itu berhasil diatasi oleh beliau. Bahkan perekonomian yang minus 3 persen bisa diubah menjadi tumbuh 4 persen hingga akhirnya tumbuh 7 persen sampai sebelum Gus Dur dilengserkan," ujar Gus Aam dalam acara webinar Ngopi RR Edisi-4  - Membangkitkan Ekonomi Pesantren di Tengah Pandemi Corona, Keniscayaan atau Ilusi? Senin (24/8/2020).


Ia menilai RR sebagai figur yang cerdas dan berani. Kriteria pemimpin itu yang dibutuhkan untuk membawa bangsa ini menuju adil dan makmur.

Gus Aam mencontohkan ide cemerlang RR menyatukan seluruh bank syariah milik pemerintah agar asetnya bisa bertambah besar sehingga bisa bersaing dengan bank umum milik swasta.

"Rizal Ramli itu cerdas dan berani. Kepeduliannya pada nahdliyyin juga sudah terbukti. Ini pemimpin nasional yang dibutuhkan saat ini dan untuk masa depan," imbuh cucu pendiri NU, KH. Wahab Chasbullah ini.

Emak-emak Minta Rizal Ramli Pegang Kepemimpinan Nasional

Sebanyak 35 emak-emak perwakilan dari berbagai komunitas UMKM yang terafiliasi dalam Perempuan Peduli Nusantara (PPN) sambangi kantor ekonom senior, Dr. Rizal Ramli di bilangan Tebet, Jakarta Selatan. Emak-emak yang berasal dari Jakarta, Aceh, Medan Padang, Lampung, Bogor, Yogya, Solo, Sragen, Lombok, dan Gorontalo ini menyampaikan keluh kesah dan meminta solusi pada Menko Ekuin era pemerintah Abdurrahman Wahid alias Gus Dur itu atas kondisi usaha yang ambruk akibat resesi ekonomi dan juga dampak pandemi Covid-19 atau Corona.

Ketua Umum PPN, Inge Mangundap mengaku, kecewa dengan berbagai kebijakan tidak populis yang dikeluarkan pemerintah di tengah krisis. Misalnya sebut Inge, kenaikan iuran BPJS Kesehatan, sistem pendidikan online yang menambah beban biaya lantaran harus membeli kuota internet, dan penyaluran dana bansos yang masih semerawut.

"Pemerintah terkesan tak punya hati sama rakyatnya sendiri. Bayangkan, di saat krisis tega-teganya pemerintah naikin iuran BPJS, naikin TDL, dan sebagainya. Harusnya kan perhatikan dong industri kreatif, kredit untuk UMKM ditambah dan dipermudah," cetus Inge di Jakarta, Kamis (27/8/2020).


Inge pun membandingkan, cara penanganan krisis ekonomi di era pemerintahan Jokowi dengan masa kepemimpinan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang dinilai lebih bijak dan membuahkan hasil yang sangat bagus.

"Era Gus Dur itu kan arsitek ekonominya Bang Rizal. Faktanya, beliau (red. Rizal Ramli) mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi dari minus 3 persen ke positif 4,5 persen kurang dari 2 tahun. Bahkan, di tengah krisis, gaji PNS, pensiunan, TNI dan Polri bisa naik 125 persen. Jadi, kita yakin banget kalau Bang RR mampu memperbaiki kondisi ekonomi sekarang ini," tandas Inge.[]

Top