Dampak Keterpurukan Ekonomi Saat Ini Akan Lebih Gawat dari Krisis 98

Dampak Keterpurukan Ekonomi Saat Ini Akan Lebih Gawat dari Krisis 98
Rizal Ramli/Net

KATTA - Ekonom senior Rizal Ramli mewanti-wanti bahwa dampak keterpurukan ekonomi Indonesia yang terjadi saat ini bisa lebih gawat dibandingkan saat terjadi krisis moneter pada tahun 1998.

"Awal tahun depan, semester satu, kita akan menghadapi kesulitan cashflow dan dampak dari krisis multidimensi ini akan lebih gawat dibandingkan pada tahun 98," kata Rizal menjawab pertanyaan Fadli Zon seperti dilihat redaksi dalam video di Youtube Fadli Official, Sabtu (26/12/2020).

RR, demikian Rizal Ramli disapa, mengatakan kesulitan ekonomi saat ini nyaris merata dialami masyarakat di pulau Jawa dan luar Jawa. Sementara pada tahun 1998 aktivitas ekonomi masyarakat di luar Jawa masih hidup.

"Krisis monter 98 akibat kebanyakan utang. Tetapi rakyat di luar Jawa malah senang karena petani karet, sawit, cokelat yang tadinya hanya dapat 1 dolar 3000 menjadi 1 dolar 15 ribu. Sehingga mereka malah lebih makmur. Tapi hari ini di luar Jawa sudah tidak ada lagi ekses kapasitas," tutur mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri di era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini.

"Yang kedua, memang macam-macam komoditi ini lagi problem. Jadi walaupun rupiah melemah kesulitan di Jawa dan luar Jawa nyaris sama," tambahnya.

RR mengatakan pandemi Covid-19 bukan satu satuya faktor penyebab keterpurukan ekonomi yang terjadi saat ini. Berbagai indikator makro ekonomi sudah menunjukkan perlambatan jauh sebelum Covid muncul awal tahun 2020. Inilah yang menurut RR akan membuat dampak keterpurukan ekonomi saat ini lebih gawat dari tahun 1998.

"Karena faktornya juga banyak. Satu kebanyakan utang. Untuk bayar bunga utang saja harus pinjam, perlu utang baru. Tahun depan untuk bunganya saja sekitar 345 triliun dan untuk bisa bayar bunga itu kita harus utang lagi. Terjadi negatif flow lah," jelasnya.

Faktor lainnya pertumbuhan kredit terkontraksi sangat dalam. Normalnya kredit tumbuh 15-18% namun dari Januari hingga September 2020 hanya tumbuh 3%. Dan bahkan pada September 2020 minus 0,4%.

"Ini banyak yang tidak memperhatikan, pada bulan September pertumbuhan kredit negatif. Belum pernah terjadi sejak 1998. Ini artinya apa? Uang yang ada di rakyat disedot untuk bayar utang melalui mekanisme membeli SUN dan sebagainya," jelasnya.

"Inilah yang memukul daya beli rakyat biasa. Kalau pertumbuhan ekonomi 10 persen uang yang beredar masih banyak. Ekonomi masih hidup dan rakyat ada pendapatan. Hari ini selain karena Covid, rakyat tidak ada kerjaan," tuturnya lagi.

Selain berbagai indikator tersebut, dampak krisis ekonomi saat ini akan lebih gawat dibanding krisis 98 karena menurut RR pemerintah tidak punya kemampuan untuk mengurangi beban ekonomi rakyat kecil. Berbagai kebijakan yang dibuat pemerintah justru menambah beban rakyat.

Mantan anggota panelis ekonomi Perserikatan Bangsa Bangsa ini mencontohkan, untuk menutup defisit dan utang pemerintah beraninya memungut pajak dari rakyat kecil. Bukan memungut pajak dari korporasi besar seperti Astra, perusahaan tambang dan sektor-sektor lainnya.

"Inilah yang membuat tax ratio Indonesia bukan naik malah turun. Waktu saya Menko Perekonomian 20 tahun lalu, tax ratio kita sudah 11,5 persen. Sebelum krisis hanya 10 persen, dengan krisis ini penerimaan pajak akan anjlok lagi bisa-bisa hanya 60 persen dari target. Ini yang menjelaskan kita akan kesulitan cashflow," papar Rizal.

Contoh lainnya kebijakan membentuk Lembaga Pengelola Investasi atau Sovereign Wealth Fund (SWF) yang diharapkan dapat menghimpun dana hingga US$100 miliar di tengah makin susah mendapatkan pinjaman.

"Sekarang mulai pinjam dari bilateral. Bunganya memang agak lebih murah tapi kasihnya uang gobangan. Enam negara masing-masing hanya kasih pinjaman di bawah 1 miliar dolar AS, total hanya 4 sekian miliar dolar AS. Kita kebalik-balik, bikin sovereign fund padahal sovereign itu artinya duit Republik Indonesia yang kelebihan yang kita taruh di fund. Ini kita harapkan funding dari negara lain. Ini namnya foreign fund," demikian kata Rizal Ramli.[]

Top