Analisa Sederhana 6 Laskar FPI Ditembak Mati Polisi

Versi Polda Metro Diragukan

Analisa Sederhana 6 Laskar FPI Ditembak Mati Polisi
Ilustrasi/Net

KATTA - Tidak sedikit pihak yang meragukan penjelasan polisi tentang insiden Tol Jakarta-Cikampek KM 50 yang menewaskan enam anggota laskar Front Pembela Islam (FPI).

Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran mengakui enam anggota FPI Jakarta itu ditembak mati oleh anak buahnya saat sedang mengawal Imam Besar (IB) Habib Rizieq Shihab (HRS).

Keraguan terhadap penjelasan Irjen Fadil soal kronologi kejadian antara lain disampaikan Azwar Siregar. Tulisan Azwar berisi analisis sederhana tentang kasus penembakan enam laskar FPI beredar melalui aplikasi WhatsApp tadi malam.

Azwar memulai analisanya terkait pernyataan Irjen Fadil bahwa penembakan dilakukan sebagai tindakan tegas dan terukur karena laskar FPI ingin menyerang petugas.

Dia lantas mengungkap kelemahan-kelemahan kronologi kejadian seperti disampaikan Irjen Fadil. Ada enam hal penting yang diutarakannya, antara lain matinya CCTV di sekitar kejadian.
 
Berikut analisa lengkap Azwar Siregar.

Analisis bagus dan sederhana tentang kasus penembakan 6 laskar FPI, semoga membuka fikiran dan mata hati publik.

"Yang ingin...?" -- Polda Metro punya bukti rekaman percakapan laskar FPI "yang ingin" menyerang polisi. "Yang ingin...?"

Saya catat "yang ingin". Artinya baru asumsi. Sedangkan fakta sesungguhnya belum terbukti sama sekali. Justru yang terjadi ada enam orang yang mati di tangan Polisi.

Ayo kita bicara fakta:

1. Polisi menguntit rombongan IB.

Atas dasar apa Polisi menguntit IB?
Apakah kasus IB dianggap kasus extra ordinary?
Ingat, IB bukan buronan seperti Harun Masiku!

2. Para penguntit berpakaian preman.

Wajar ada reaksi dari Pengawal IB. Karena sudah sering terjadi kasus penganiayaan di Jalanan oleh orang-orang tidak dikenal (OTK).

Sebagai contoh, kasus pembacokan di Jalan Tol terhadap Bung Hermansyah, ahli IT yang membongkar Chat Fake yang dituduhkan kepada IB.

Rilis pertama FPI juga menyebut 6 orang anggotanya diculik OTK.

3. Media latah atau memang sengaja menyebut terjadi tembak-menembak.

Faktanya kejadian tersebut justru baru diketahui secara luas oleh publik setelah 13-15 jam kemudian. Setelah Kapolda Metro Jaya melakukan konferensi pers.

Sekarang era media sosial, kalau memang ada tembak-menembak (berarti terjadi saling adu tembak, bisa beberapa menit), maka sepuluh menit kemudian sudah pasti ramai di televisi dan media Sosial.

Seharusnya media menggali lebih dalam informasi sebelum melakukan informasi menyesatkan kepada publik. Kalau ada saling tembak, paling tidak ada bekas tembakan di mobil yang dikendarai para Penguntit.

4. Polisi menyebutkan mereka terpaksa melakukan tindakan yang tegas dan terukur (menembak mati) karena para pengawal IB sudah membahayakan nyawa petugas.

Pertanyaan pertama:

Yang dimaksud membahayakan nyawa itu seperti apa?

Kalau cuma mobil saling pepet, bukannya petugas kepolisian dengan pakaian preman (berpakaian preman, jadi posisi saat itu tidak ada yang tahu mereka petugas kepolisian) yang menguntit?

Bukannya seharusnya para penguntit yang lebih tepat disebut membahayakan nyawa dan terbukti memang menghilangkan nyawa 6 orang?

Pertanyaan kedua:

Yang dimaksud diksi "tindakan tegas dan terukur" itu seperti apa? Apa iya masih wajar disebut terukur kalau pada akhirnya semua korban meninggal dunia?

5. Semua CCTV di area tol mati.

Alasan sementara pihak Jasa Marga karena lagi ada perbaikan (maintenance). Tolonglah...! Rakyat kita tidak semuanya sebodoh yang kalian pikirkan.

Kenapa kejadian yang sama persis terjadi ketika Bung Hermansyah dibacok di Tol juga tahun 2017?

6. Buat netizen yang bertanya: Kalau korbannya pihak kepolisian, apa tanggapan anda?

Pertama saya tidak terbiasa berandai-andai. Tapi untuk memuaskan keinginan anda, maka saya akan berikan pencerahan tambahan.

Kalau penguntit berpakaian dinas lengkap dengan mobil patroli, terus memberhentikan rombongan mobil IB, katakanlah dengan alasan razia SIM (karena memang tidak ada alasan yang lain), terus rombongan berusaha menerobos, silahkan lakukan tindakan yang terukur dan tegas tadi. Kalaupun ada rombongan IB yang tewas tertembak, masyarakat akan paham.

Sampai sekarang saya tetap tidak paham. Kejahatan apa yang dituduhkan kepada IB? Sampai-sampai dilakukan proses penguntitan segala?

Apakah IB tersangka teroris? Tersangka koruptor? Tersangka pembunuh? IB baru "mau diperiksa" (belum tersangka) dalam pelanggaran PSBB.

"Bung, anda belum menjawab, bagaimana kalau polisi yang jadi korban?"

"Bagaimana bisa saya menjawab pertanyaan andai-andai yang tidak mungkin terjadi. Emang pernah ada anggota FPI membunuh polisi? Pernah..? Ya tidak pernah!

"Setahu saya anggota Ormas FPI cuma sering menggebuki pelaku maksiat. Terus bolak-balik dan selalu hadir ketika ada bencana alam".[]

Top