Inilah Penyebab Pertumbuhan Kredit Terkontraksi Minus 0,47 Persen

Inilah Penyebab Pertumbuhan Kredit Terkontraksi Minus 0,47 Persen
ilustrasi/Net

KATTA - Peneliti ekonomi dari Lingkar Studi Perjuangan (LSP) Gede Sandra menyebut argumen pemerintah soal kontraksi pertumbuhan kredit disebabkan memburuknya kondisi ekonomi dan melemahnya daya beli masyarakat tidak sepenuhnya benar.

Pertumbuhan kredit perbankan pada Oktober 2020 diketahui mengalami kontraksi minus 0,47%, angka pertumbuhan kredit terburuk sejak krisis ekonomi 1998.

"Ada faktor lain yang lebih dominan yang menyebabkan terjadinya kontraksi pertumbuhan kredit dan semakin merosotnya daya beli, yaitu terjadinya efek crowding out dalam perekonomian kita," kata Gede melalui pesan elektronik kepada redaksi, Selasa (8/12/2020).

Crowding out effect atau efek mendesak timbul akibat pemerintah sangat agresif meminjam dana dari publik melalui penebitan surat utang negara (SUN) dengan suku bunga tinggi, yang menyebabkan suku bunga di pasar keuangan mengalami kenaikan sehingga membuat swasta enggan berinvestasi.

Rendahnya investasi ini pada akhirnya menyebabkan perekonomian melambat dan daya beli masyarakat melemah.

"Bagaimana efek crowding out ini terjadi di Indonesia? Secara sederhana, dana perbankan tersedot ke surat utang pemerintah yang berbunga tinggi, sehingga perbankan menjadi kekurangan dana untuk menyalurkan kredit," tutur Gede.

Gede lantas menyinggung data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), per 23 Oktober 2020 total surat berharga negara (SBN) yang dimiliki bank mencapai Rp 1.348 triliun. Sementara bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu, total dana bank di SBN rupiah hanya Rp 670 triliun.

"Artinya selama setahun telah terjadi kenaikan 100 persen dari dana perbankan di surat utang pemerintah," imbuhnya.

Gede menjelaskan besarnya dana perbankan yang tersedot ke surat utang dipicu masyarakat pemilik dana besar di perbankan lebih memilih untuk membeli surat utang pemerintah karena bunganya tinggi dan 100 persen ditanggung oleh negara bila terjadi krisis keuangan.

Berbeda bila mereka menyimpan dana di tabungan atau deposito yang hanya ditanggung hingga Rp 2 miliar oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Ia membandingkan tingkat kupon Savings Bond Ritel untuk seri SBR009 periode 11 Agustus 2020 sampai 10 November 2020 adalah 6,3%, sementara rata-rata suku bunga deposito 1 tahun 24 bank nasional hanya 3,7% atau bahkan lebih kecil lagi jika dibandingkan rata-rata suku bunga deposito 1 tahun bank HIMBARA yang hanya 3,6%.

"Artinya bila kita menempatkan dana di surat utang pemerintah, ada selisih keuntungan bunga sebesar 2,6 persen dibandingkan dengan hanya menempatkan dana di deposito. Selisih bunga inilah yang menyebabkan tersedotnya dana perbankan ke surat utang pemerintah sehingga pertumbuhan kredit perbankan terkontraksi," tambahnya.

"Bila pertumbuhan kredit mengalami kontraksi, dapat dipastikan bahwa uang yang beredar di masyarakat sangat terbatas sehingga akhirnya daya beli masyarakat juga akan semakin merosot," tambahnya.

Gede lantas menjelaskan bahwa kunci dari bangkitnya perekonomian adalah pertumbuhan kredit yang positif dan tinggi. Hal ini dibuktikan dari pengalaman negara Cina dan Vietnam yang berhasil mencatatkan pertumbuhan ekonomi positif di era pandemi.

Ekonomi Cina tumbuh 4,9% karena dipacu pertumbuhan kredit yang melesat hingga 13%. Atau ekonomi Vietnam berhasil tumbuh 2,6% karena didorong pertumbuhan kredit sebesar 7,2%.

Apa yang membuat pertumbuhan kredit di Cina dan Vietnam tetap menggeliat? Gede menjelaskan akibat bunga surat utang lebih rendah dari bunga deposito.

Ia mencontohkan di Vietnam misalnya tingkat bunga (yield) surat utang pemerintah untuk 10 tahun hanya 2,3%, lebih kecil dari suku bunga deposito 1 tahun di perbankan Vietnam yang hanya 4%.

"Ini kebalikan dari yang terjadi di Indonesia. Artinya dana perbankan Vietnam tidak akan tersedot ke surat utang pemerintahnya, sehingga tetap mampu menyalurkan kredit untuk sektor bisnisnya," demikian kata Gede Sandra.[]

Top