Strategi Putin Bikin Bursa Asia Gulung Tikar, IHSG Tercukur Tragis 6,57 Persen

Strategi Putin Bikin Bursa Asia Gulung Tikar, IHSG Tercukur Tragis 6,57 Persen
Vladimir Putin/Net

KATTA - Pekan yang sangat suram terlihat harus dijalani pelaku pasar di seluruh Asia kali ini. Bermula dari sentimen yang hadir di pasar minyak dunia, kepanikan investor  semakin liar tak terkendali untuk semakin menderaskan tekanan jual hingga menjatuhkan indeks dalam rentang yang sangat tragis.

Laporan yang berhasil dihimpun menyebutkan, langkah dan kebijakan pemerintah Rusia yang beralih dengan kini tidak lagi mengabulkan usulan  organisasi kartel minyak dunia, OPEC untuk memangkas produksi minyak dunia guna menyelamatkan harga minyak dari terpaan badai sentimen wabah Coronavirus.

Pemerintahan Vladimir Putin kini mulai menilai bahwa pemangkasan produksi minyak usulan OPEC justru hanya menguntungkan Amerika Serikat untuk memperluas penetrasi pasarnya, di mana kini negeri pimpinan Donald Trump itu telah menjelma sebagai produsen minyak terbesar dunia dengan kapasitas produksi telah jauh melampaui 12 juta barel per hari.

Keputusan Rusia tersebut kemudian disambut dengan kecewa oleh OPEC yang secara de-facto di bawah pimpinan Arab Saudi. Laporan terkait menyebutkan, pihak Arab Saudi yang kini berbalik untuk mendorong produksinya hingga lebih dari 10 juta per barel dalam waktu cepat.

Kabar dari Arab Saudi tersebut kemudian dengan cepat direspon panik oleh pelaku pasar dengan menilainya sebagai sinyal perang harga minyak akan segera datang. Harga minyak akhirnya mengalami tekanan jual yang sangat tragis hingga sore ini dengan  runtuh 22,67% untuk bertengger di kisaran $31,92 per barel (untuk jenis WTI) setelah sempat rontok lebih hebat di kisaran $27,34 per barel.

Jebolnya harga minyak dalam rentang sangat ekstrim tersebut kemudian memantik hancurnya saham-saham perminyakan dan energi di seluruh bursa saham Asia untuk menjungkalkan indeks dengan sangat curam. Kepanikan semakin liar merembet hingga pasar surat utang.

Besaran imbal hasil surat utang pemerintah AS berjangka 10 tahun bahkan sempat ambruk dengan bertengger di bawah kisaran 0,5%. Situasi ini tentu dengan mudah menghadirkan tekanan pada saham-saham perbankan.  Aksi panik pelaku pasar semakin tak tertahankan untuk memburu safe haven assets dengan meroketkan harga emas dunia untuk kini menembus level psikologis pentingnya di kisaran $1.700 per Ounce.

Jalinan kepanikan yang semakin liar tersebut semakin sempurna dengan pergerakan indeks Wall Street di pasar spot yang diperdagangkan menurun hingga 5%. Bursa saham Asia akhirnya semakin terbakar dalam menjalani sesi perdagangan awal pekan yang sangat muram kali ini, Senin (9/3/2019).

Hingga sesi perdagangan sore ditutup, seluruh indeks di bursa saham utama Asia tenggelam dalam kemuraman yang dalam. Bursa saham Australia cukup parah menderita dengan indeks ASX 200 jebol 7,33% untuk menutup sesi di 5.760,6.

Keruntuhan tragis juga mendera bursa saham Jepang dengan indeks Nikkei terjungkal curam 5,07% untuk berakhir di 19.698,76.  Sementara pada bursa saham Hong Kong, Indeks Hang Seng merosot tragis 4,23% untuk singgah di 25.040,46, dan pada bursa saham Korea Selatan, indeks KOSPI terhempas 4,19% untuk parkir di kisaran 1.954,77.

Keruntuhan sangat tragis seluruh indeks di Asia tersebut kemudian dengan mudah menghadirkan petaka bagi bursa efek Indonesia. Indeks harga saham gabungan (IHSG) terlihat langsung turun curam sejak awal sesi pagi dan meniti zona koreksi curam secara konsisten di sepanjang sesi perdagangan. IHSG kemudian menutup sesi dengan ambruk 6,57% untuk berakhir di 5.136,81.

Gerak runtuh lebih jauh IHSG kali ini juga sekaligus menjadikan sangat rentan untuk segera menembus ke bawah level psikologis pentingnya di kisaran 5.000. Seluruh saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan berdasar nilai perdagangan tercatat kembali terkapar dalam zona koreksi yang sangat tajam, seperti: BBCA, BBRI, ASII, BBNI, BMRI, TLKM, UNVR, PGAS, HMSP, PTBA, UNTR, ADRO, GGRM, ANTM, INDF, KLBF, serta CPIN.

Kinerja sangat buram IHSG terlihat tak jauh berbeda dengan pola gerak nilai tukar mata uang Rupiah. Laporan menunjukkan, gerak nilai tukar Rupiah yang juga konsisten menapak zona pelemahan signifikan di sepanjang sesi hari ini.

Hinga sesi perdagangan sore ini berlangsung, Rupiah tercatat bertengger di kisaran Rp14.392 per Dolar AS atau merosot tajam 1,05% dibanding posisi penutupan sesi perdagangan akhir pekan lalu. Sentimen dari hancurnya pasar surat utang pemerintah AS, yang semakin memantik perburuan safe haven assets  menjadikan Rupiah sangat rentan untuk tersudut di zona pelemahan sebagaimana terjadi pada sesi hari ini.[]

Top