Perbankan India Lagi Kiamat, IHSG Kembali Kalap Terhajar Coronavirus

Perbankan India Lagi Kiamat, IHSG Kembali Kalap Terhajar Coronavirus
Ilustrasi/Net

KATTA - Sentimen muram di sesi penutupan pekan ini akhirnya semakin sempurna dengan datangnya kabar buruk dari India. Setelah sekian lama sentimen dari persebaran wabah penyakit menakutkan asal China akibat infeksi Coronavirus menguasai panggung di bursa global, sentimen tak kalah suram datang dari negeri dengan perekonomian terbesar ketiga di dunia, India.

Laporan terkini dari wabah Coronavirus yang kini dilabeli dengan nama virus Covid-19 itu menunjukkan, jumlah korban tewas  di AS yang kini telah mencapai 12 jiwa dengan angka kasus infeksi telah berada di kisaran 200.

Terus meningkatnya angka infeksi serta korban tewas di AS kemudian memantik ketakutan investor hingga membuat indeks Wall Street longsor cukup dalam di sesi perdagangan Kamis (5/3/2019). Laporan bahkan menyebutkan, gerak indeks Wall Street di pasar berjangka yang masih terus menurun hingga sesi perdagangan sore ini di Asia, Jumat (6/3/2019).

Laporan suram dari Coronavirus di AS kali ini semakin sengit mencengkeram di Asia setelah kabar dari India menyebutkan salah satu bank terbesar di negeri itu yang harga sahamnya  rontok lebih dari 50%. Adalah perusahaan YesBank, demikian nama perusahaan bank swasta  terbesar kelima di India itu yang kali ini sedang apes tak tertahankan.

Hingga sore ini, saham YesBank tercatat bertengger di kisaran ₹17,95 (sekitar Rp3.600) setelah ambruk 51,42%.  Laporan menyebutkan, management YesBank yang kini mulai  diambil alih oleh Bank Sentral India, RBI selama 30 hari ke depan  menyusul  tingginya pinjaman yang berkinerja buruk.

Langkah RBI  tersebut dengan cepat memantik tekanan jual pada saham YesBank hingga kini. Terlebih, sejumlah analisis yang beredar menyebutkan harga saham YesBank yang mungkin hanya layak di kisaran ₹1 saja alias sekitar Rp200 per lembarnya

Situasi perbankan di India menjadi semakin rumit ketika kabar beredar bahwa bank terbesar di India, State Bank of India diklaim berniat mengambil alih YesBank, di mana kabar ini kemudian menghantam saham State Bank of India rontok curam hingga 12%.

Rangkaian kabar buruk dari situasi perbankan di India tersebut semakin menghantarkan kukuhnya pesimisme pelaku pasar di Asia untuk melongsorkan indeks dalam taraf sangat curam. Posisi India yang merupakan perekonomian terbesar ketiga di Asia, dengan mudah menyeret kepanikan di seluruh Asia yang sebelumnya telah didahului oleh rebahnya kinerja perekonomian China akibat wabah Coronavirus.  

Hingga sesi perdagangan sore ini berakhir, indeks  KOSPI di bursa saham Korea Selatan tercatat anjlok 2,16% untuk menutup sesi di 2.040,22. Gerak runtuh tajam juga mendera bursa saham Jepang dengan indeks Nikkei ambles 2,72% untuk terhenti di 20.749,75.

Sementara pada bursa saham Hong Kong, indeks Hang Seng tersungkur 2,32% untuk menutup sesi di 26.146,67, dan pada bursa saham Australia, indeks ASX 200 terpangkas tajam 2,81% untuk singgah di 6.216,2.

Kepungan sentimen buruk tersebut membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) di Jakarta kembali terhempas dalam zona  merah. IHSG terlihat konsisten menapak gerak turun curam di sepanjang sesi hari ini untuk kemudian menutup sesi dengan ambruk 2,47% di 5.498,54.

Laporan dari jalannya sesi perdagangan juga memperlihatkan,  nyaris seluruh saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan berdasar nilai perdagangan yang harus jatuh dalam jurang koreksi.  Saham-saham tersebut diantaranya adalah: BBRI, BBCA, TLKM, BBNI, BMRI, ASII, PGAS, HMSP, serta UNTR dan GGRM.

Sementara laporan dari pasar valuta memperlihatkan situasi yang tak jauh berbeda dengan gerak nilai tukar mata uang Rupiah kembali terdampar di zona merah. Rupiah tercatat konsisten menapak pelemahan cukup tajam di sepanjang sesi hari ini.

Hingga sore ini, Rupiah tercatat bertengger di kisaran Rp14.245 per Dolar AS setelah terhajar koreksi tajam 0,49%.  Sentimen melemahnya indeks Dolar AS yang kini berada di kisara terendahnya di 96,26, terlihat tak mampu dimanfaatkan oleh Rupiah untuk membukukan penguatan lebih lanjut.

Hal ini mengingat terpaan sentimen Coronavirus yang masih memberikan ancaman dan kerawanan bagi kinerja perekonomian Asia.

Catatan menunjukkan, runtuhnya posisi indeks Dolar AS yang kali ini lebih dikontribusi oleh melonjaknya mata uang Yen Jepang, dan Euro serta Swiss Franch, akibat langkah penurunan suku bunga acuan oleh Bank sentral AS, The Fed beberapa hari sebelumnya.[]

Top