Terhantam Teknikal, IHSG Rontok di Tengah Pesta Asia

Terhantam Teknikal, IHSG Rontok di Tengah Pesta Asia
Joe Biden/Net
KATTA - Setelah menjalani beberapa hari sesi perdagangan dengan lonjakan tinggi secara beruntun dan konsisten, Indeks harga saham gabungan (IHSG) akhirnya terdampar di zona koreksi dalam menjalani sesi perdagangan hari keempat pekan ini, Kamis (5/3). Sementara sentimen eksternal  yang hinggap terlihat masih cukup kondusif.

Laporan dari Amerika Serikat bahkan menunjukkan gerak indeks Wall Street yang kembalu membukukan lonjakan sangat tajam  berkat sentimen dari prospek cerah pencalonan Joe Biden dalam gelaran Super Tuesday dari Parta Demokrat untuk menggusur Preiden AS Donald Trump dari Gedung Putih dalam pemilihan Presiden November depan.

Prospek cerah dari Joe Biden tersebut kemudian dengan cepat direspon oleh pelaku pasar di Wall Street dengan memborong sejumlah saham yang terkait dengan sektor kesehatan terutama farmasi. Lonjakan harga saham-saham sektor kesehatan tersebut akhirnya semakin liar dan mengganas hingga meroketkan indeks Wall Street.

Sentimen yang sangat mengesankan dari sesi perdagangan di Wall Street tersebut kemudian semakin bersinar berkat pernyataan pimpinan lembaga Dana Moneter Internasional (IMF),  Kristalina Georgieva yang mengklaim bahwa pihaknya bersiap mengguyur dana hingga sebesar $50 milyar (lebih dari Rp700 triliun) guna menangani  imbas persebaran wabah penyakit mematikan akibat infeksi Coronavirus atau virus Covid-19.

Kristalina juga menekankan, bahwa besaran dana tersebut sudah tersedia dan tinggal digunakan selekasnya. Pernyataan bernada positif tersebut sudah barang tentu menjadikan investor kembali beralih ke  sikap optimisme.

Tekanan beli terlihat sempat mengendur di pertengahan sesi perdagangan pagi ini, namun secara perlahan berhasil merangkak  semakin intens untuk menghantarkan indeks melonjak dalam rentang tajam.

Hingga sesi perdagangan sore berakhir, bursa saham Hong Kong terlihat berhasil menahbiskan diri sebagai yang terkuat dengan Indeks Hang Seng melambung tajam 2,08% untuk mengakhiri sesi di 26.767,87. Gerak naik tajam juga berhasil dibukukan bursa saham Korea Selatan  dengan indeks KOSPI melompat curam 1,26% untuk menutup sesi di 2.085,26.

Sementara pada bursa saham Jepang, indeks Nikkei tercatat melonjak signifikan 1,09% untuk terhenti di 21.329,12, dan pada bursa saham Australia, indeks ASX 200 menanjak 0,1,11% untuk mengakhiri sesi di 6.395,7.

Laporan dari bursa komoditas dunia juga memperlihatkan, sikap optimisme yang masih bertahan dengan ditunjukkan masih bertahannya harga minyak dunia di zona hijau. Selain serangkaian sentimen dari Amerika Serikat dan IMF, gerak harga minyak semakin berupaya melonjak pulih akibat sentimen ekspektasi pemangkasan produksi yang diprakarsai oleh organisasi kartel minyak dunia, OPEC.

Sejumlah laporan terkait sebelumnya mengklaim, OPEC yang sedang menggalang kerjasama dengan sejumlah negara produsen minyak besar lainnya,  terutama Rusia untuk melakukan pemangkasan produksi lebih besar lagi guna menyelamatkan harga minyak dari tekanan jual yang semakin  intens akibat terpaan sentimen wabah Coronavirus.

Pantauan terkini menunjukkan, harga minyak untuk jenis WTI yang masih bertahan di kisaran $46,83 per barel atau menguat moderat 0,11%.

Serangkaian sentimen  optimis tersebut akhirnya semakin terkukuhkan untuk membuat investor di Asia bertahan melakukan tekanan beli guna melesatkan indeks.

Namun situasi berbeda terpaksa harus dialami bursa efek Indonesia, di mana indeks harga saham gabungan (IHSG) terpaksa ambruk di zona merah akibat terseret potensi teknikal. Sebagaimana diketahui, IHSG telah berhasil membukukan lonjakan tajam dan konsisten dalam beberapa hari sesi perdagangan terakhir secara beruntun.

Potensi koreksi teknikal akhirnya sulit ditahan dengan sejumlah pelaku pasar melakukan aksi profit taking. Gerak IHSG akhirnya konsisten menapak zona merah di sepanjang sesi perdagangan hari ini untuk kemudian menutup dengan turun moderat 0,21% di posisi 5.638,13.

Gerak turun IHSG yang hanya berada dalam  rentang moderat tercermin cukup  akurat  dari pola gerak saham unggulan yang bervariasi. Saham-saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan berdasar nilai perdagangan tercatat masih berhasil bertahan di zona positif, seperti: BMRI, ASII, BNLI, serta KLBF.

Sementara sejumlah saham unggulan lain tercecer di zona koreksi seperti: BBRI, BBCA, BBNI, UNVR, ADRO, PTBA, UNTR, serta SMGR.

Kinerja IHSG yang sulit bertahan di zona positif kali ini terlihat seiring dengan laporan dari pasar valuta, di mana nilai tukar mata uang Rupiah terhempas di zona pelemahan. Rupiah di pasar spot bahkan tercatat konsisten menapak zona pelemahan cukup signifikan.

Hingga sesi perdagangan berakhir, Rupiah masih diperdagangkan di kisaran Rp14.175 per Dolar AS atau merosot 0,44% dibanding posisi penutupan sesi perdagangan hari sebelumnya.[]

Top