Klaim Coronavirus Oleh Jokowi Bungkam Stimulus Global, IHSG Terhajar Koreksi 1,67 Persen

Klaim Coronavirus Oleh Jokowi Bungkam Stimulus Global, IHSG Terhajar Koreksi  1,67 Persen
Presiden RI Joko Widodo/Net

KATTA - Sentimen dari pernyataan Presiden Jokowi soal telah terdapatnya dua WNI yang positif terinfeksi Coronavirus, akhirnya menjadi faktor kejutan di sesi perdagangan saham hari ini di bursa efek Indonesia.  Klaim oleh Presiden Jokowi tersebut bahkan dengan enteng melumat sentimen rilis data inflasi bulanan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). 

BPS dalam sebuah kesempatan mengklaim, besaran inflasi untuk sepanjang bulan Februari lalu yang mencapai sebesar 0,28% atau lebih tinggi dari perkiraan sejumlah analis di kisaran 0,16%.  Investor di Indonesia dengan cepat melakukan tekanan jual intens usai pengumuman oleh Presiden Jokowi tersebut hingga meruntuhkan Indeks harga saham gabungan (IHSG) lebih dari 1%. 

Sementara dari  sentimen eksternal yang melingkupi di sesi perdagangan  awal pekan ini di Asia, Senin (2/3/2019) terlihat masih terkait dengan persebaran wabah penyakit mematikan akibat infeksi Coronavirus, yang kini disebut virus Covid-19. 

Jumlah korban tewas akibat infeksi virus yang berasal dari China itu kini telah menembus lebih dari 3.000 jiwa di seluruh dunia.  Laporan terkait juga menunjukkan, akibat persebaran wabah yang sangat  menakutkan ini yang telah menghempas kinerja perekonomian China.

Rilis data terkini dari aktivitas manufaktur China yang ditunjukkan dengan indeks PMI  untuk bulan Februari lalu yang hanya berada di kisaran 40,3, atau telah cukup dalam mengalami kontraksi.  Untuk dicatat, indeks PMI yang berada di bawah 50,0 mengindikasikan terjadinya kontraksi pada aktivitas manufaktur dan sebaliknya bila indeks PMI berada di atas 50,0. 

Namun sentimen suram ini kekmudian berhasil ditepis oleh ekspektasi langkah yang akan diambil oleh tiga bank sentral, yaitu The Fed (Amerika Serikat), BoJ (Bank sentral Jepang) dan RBA (Bank Sentral Australia). Tiga bank sentral tersebut mengindikasikan akan menggelar penurunan suku bunga ataupun langkah stimulus lain  bila diperlukan guna meminimalisir  imbas Coronavirus. 

Pelaku pasar di Asia  akhirnya berhasil menepis untuk berbalik melakukan aksi akumulasi hingga melonjakkan indeks di  hampir seluruh bursa saham utama Asia. 

Hingga sesi perdagangan sore ini berakhir, bursa saham utama Asia tercatat hanya menyisakan bursa saham Australia yang masih harus berkubang dalam jurang koreksi, dengan indeks ASX 200 tergelincir curam 0,77% untuk menutup sesi di 6.391,5.

Sementara pada bursa saham Jepang, indeks Nikkei melonjak tajam 0,95% untuk berakhir di kisaran 21.344,08, dan pada bursa saham Hong Kong, indeks Hang Seng menguat 0,62% untuk menutup sesi di 26.291,68. Sedangkan pada bursa saham Korea Selatan, indeks KOSPI meloncat signifikan 0,78% untuk mengakhiri sesi hari ini di posisi 2.002,51.

Gerak indeks di hampir seluruh  bursa saham utama Asia tersebut yang berhasil  berbalik positif tersebut sempat menyeret  IHSG untuk beralih ke zona hijau. Namun situasi kemudian dengan cepat beralih ke zona koreksi curam menyusul pernyataan resmi Presiden Jokowi menjelang sesi perdagangan pagi ditutup. 

IHSG selanjutnya konsisten menapak zona koreksi tajam di sepanjang sesi perdagangan sore untuk kemudian menutup sesi awal pekan ini dengan merosot  tajam 1,67% di 5.361,25.

Laporan dari jalannya sesi perdagangan menunjukkan, kinerja seluruh saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan berdasar nilai perdagangan  yang  kembali ambruk di zona koreksi, seperti: BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, BBNI, GGRM, PTBA, HMSP, PTPP, ICBP, CPIN, serta SMGR.

Sementara kinerja sejumlah saham unggulan yang masuk dalam jajaran IDXG30 juga tercatat suram  dengan ditunjukkan anjloknya indeks IDXG30 sebesar 2,26% untuk menutup sesi di 123,67. 

Laporan berbeda datang dari pasar valuta, dengan gerak  nilai tukar mata uang Rupiah yang  mampu beralih menguat usai tergelincir di zona kemerosotan.  Sejak pertengahan sesi perdagangan sore, Rupiah terlihat berupaya berbalik menguat hingga sepenuhnya menginjak zona penguatan tajam.

Hingga sesi perdagangan sore ini berlangsung, Rupiah tercatat ditransaksikan di kisaran Rp14.265 per Dolar AS setelah beralih menguat signifikan 0,37% setelah sempat tergelincir di kisaran Rp14.400-an per Dolar AS.

Pelaku pasar terlihat masih mencoba mempertimbangkan sentimen  ekspektasi dari langkah  bank sentral AS dan Australia  yang diperkirakan akan menurunkan suku bunga acuan serta langkah Bank Sentral Jepang yang mungkin akan mengambil langkah stimulus lainnya guna meminimalisir imbas Coronavirus di pasar global. []

Top