Canda Menteri Erick Thohir Soal Bank BRI Tergilas Virus Corona, IHSG Ambruk 2,69 Persen

Canda Menteri Erick Thohir Soal Bank BRI Tergilas Virus Corona, IHSG Ambruk 2,69 Persen
Ilustrasi/Net

KATTA - Kepanikan serius kembali hinggap di sesi perdagangan saham di bursa efek Indonesia kali ini. Gerak turun indeks harga saham gabungan (IHSG) terlihat menjadi yang paling suram dibanding seluruh indeks di bursa saham utama Asia.  Sementara sentimen dari persebaran wabah Coronavirus masih menjadi beban bagi pelaku pasar, sentimen positif tidak tersedia sama sekali untuk sekedar meredakan kepanikan.

Laporan terkini dari persebaran wabah Coronavirus menunjukkan, semakin meluasnya serangan wabah yang berasal dari China itu hingga kawasan Eropa dengan menjangkau wilayah Jerman dan sejumlah negara Eropa lainnya. Sementara laporan serupa juga masih datang dari Iran dan Korea Selatan.

Situasi suram tersebut semakin meyakinkan pelaku pasar untuk melakukan tekanan jual dengan hasil dari sesi perdagangan di bursa Wall Street beberapa jam sebelumnya yang gagal membukukan gerak rebound teknikal usai rontok tragis dalam dua hari sesi perdagangan sebelumnya secara beruntun.

Sentimen suram semakin menjadi ketika laporan dari pasar komoditas dunia memperlihatkan runtuh tajamnya kembali harga minyak dunia. Hingga sesi perdagangan di Asia sore ini, Kamis (27/2/2019), harga minyak untuk jenis WTI  telah bertengger di kisaran $47,98 per barel atau rontok 1,5% dan sekaligus mencetak harga termurah dalam lebih dari setahun terakhir.

Kepanikan yang mendera pasar minyak dunia dilatari oleh kekhawatiran besar bahwa persebaran  wabah Coronavirus akan semakin memangkas kinerja perekonomian global untuk kemudian meruntuhkan permintaan minyak secara tajam.

Serangkaian sentimen tersebut akhirnya semakin mengukuhkan pesimisme pelaku pasar  untuk melakukan tekanan jual  intens. Gerak turun tajam indeks akhirnya kembali sulit dihindarkan hingga sesi perdagangan ditutup.

Bursa saham Indonesia, kini mendapat giliran menjadi yang paling terpukul dahsyat dengan IHSG harus ambruk 2,69% untuk menutup sesi di 5.535,69.  Sesi perdagangan saham di Jakarta  kali ini sangat kental dengan nuansa kepanikan investor.

Hal ini terlihat dari rontok tragisnya harga  saham unggulan yang selama ini menjadi favorit pelaku pasar di Indonesia, yaitu saham PT Bank BRI Tbk. Saham milik perusahaan perbankan BUMN terbesar di Indonesia  yang diperdagangkan dengan kode BBRI tersebut bergerak runtuh sangat tragis 7,81% untuk menutup sesi hari ini di Rp4.130 per lembarnya.

Keruntuhan saham BBRI kali ini semakin tragis mengingat sehari sebelumnya Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan candaannya agar investor memborong saham BBRI karena akan melakukan langkah sinergi dengan PT Pegadaian dan PMN  untuk menghasilkan kinerja luar biasa.

Namun Menteri Erick Thohir dalam kesempatan yang  sama tidak merinci langkah sinergi yang dimaksud dan proyeksi kinerja fundamental dari sinergi tersebut.

Candaan tersebut seakan kini langsung menuai tantangan dari investor yang justru melakukan tekanan jual hebat hingga merontokkan saham BBRI.

Sementara dari jalannya sesi perdagangan di Jakarta secara keseluruhan menunjukkan, keruntuhan tajam IHSG yang ditopang dengan sangat meyakinkan oleh saham-saham unggulan. Seluruh saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan berdasar nilai perdagangan kembali anjlok tak tertahankan, seperti: BBRI, BBCA, BMRI, ASII, BBNI, TLKM, PGAS, HMSP, UNVR, ADRO, PTBA, PTPP, ICBP, GGRM, ANTM, SMGR serta UNTR.

Laporan buruk dari perdagangan saham di Jakarta juga seiring dengan kinerja indeks di seluruh bursa saham utama Asia. Gerak turun indeks  terlihat nyaris merata mendera seluruh bursa saham utama Asia.

Hingga sesi perdagangan sore ini berakhir,  bursa saham Jepang kembali menderita dengan indeks Nikkei tertebas tajam 2,13% untuk menutup sesi di 21.948,23. Gerak turun juga mendera bursa saham Australia, dengan indeks ASX 200 anjlok 0,75% untuk singgah di 6.657,9, dan pada bursa saham Korea Selatan, indeks KOSPI terbabat 1,05% untuk berakhir di 2.054,89.

Sementara pada  bursa saham Hong Kong, indeks Hang Seng mampu beralih positif dengan naik moderat 0,31% untuk terhenti di 26.778,62.

Kinerja suram bursa saham Asia kali ini juga berseiring dengan laporan dari pasar valuta. Gerak nilai tukar mata uang Asia terpantau kembali cenderung mengalami tekanan jual di sepanjang hari ini. Tak terkecuali dengan mata uang Rupiah, di mana kini kembali menahbiskan diri sebagai mata uang dengan pelemahan tertajam di Asia.

Hingga sesi perdagangan sore ini  berlangsung, Rupiah tercatat diperdagangkan di kisaran Rp14.020 per Dolar AS setelah terpangkas 1,15%.  Posisi Rupiah di pasar spot bahkan  telah bertengger di kisaran Rp14.025 per Dolar AS atau ambruk 0,61%. []

Top