Berharap Aksi The Fed, IHSG Selamat Dari Kiamat

Berharap Aksi The Fed, IHSG Selamat Dari Kiamat
Gedung The Fed/Net

KATTA - Rentetan sentimen suram dari persebaran wabah penyakit mematikan akibat infeksi Coronavirus terlihat masih menyita porsi besar perhatian pelaku pasar hingga sesi perdagangan hari ini. Pelaku pasar terlihat masih kesulitan untuk lepas dari cengkeraman sikap pesimis menyusul situasi terkini di Korea Selatan dan Italia serta Iran yang justru semakin sulit.

Serangkaian laporan terkini yang beredar menyebutkan, persebaran wabah Coronavirus yang berasal dari China itu yang kini terus mengurung sejumlah wilayah di Korea Selatan hingga mengancam kinerja perekonomian negeri Ginseng itu tahun ini.

Laporan lebih rinci menyebutkan, besaran angka kasus infeksi Coronavirus yang terus menjulang hingga kini telah melampaui kisaran 800-an.  Sedangkan laporan terkini dari China menyebutkan, meski jumlah korban tewas dan angka kasus infeksi telah mulai melambat,  lonjakan masih tetap terjadi untuk menghadirkan ancaman bagi kinerja perekonomian China yang vital bagi dunia.

Situasi  serupa dengan Korea Selatan juga dilaporkan terjadi di Italia dan Iran, hingga semakin mengukuhkan sikap pesimis pelaku pasar di Asia dalam menjalani sesi perdagangan hari kedua pekan ini, Selasa (25/2/2019).

Tekanan jual akhirnya kembali hinggap dalam taraf cukup intens untuk menghantarkan indeks dalam jurang koreksi. Terlebih di sesi perdagangan sebelumnya, indeks Wall Street mengalami keruntuhan tertajam dalam dua tahun terakhir, pesimisme semakin sulit dihindarkan di Asia.

Namun perkembangan terkini yang beredar di kalangan pelaku pasar terlihat mampu untuk sedikit meredakan kepanikan investor. Serangkaian laporan menyebutkan, peluang besar bagi Bank Sentral AS untuk menurunkan suku bunga acuannya beberapa waktu mendatang. Ekspektasi tersebut terutama dilatari telah terlalu kuatnya posisi indeks Dolar AS dalam beberapa hari terakhir.

Untuk dicatat,  posisi indeks Dolar AS yang telah sempat bertengger di kisaran 99,8 pada beberapa hari terakhir  yang pada gilirannya mengancam kinerja perekonomian AS dalam memompa ekspor produk manufakturnya.

Situasi ini semakin tersokong oleh langklah penurunan suku bunga yang telah dilakukan oleh sejumlah bank sentral, seperti Bank Sentral China, PBoC pekan lalu.  Pada bursa saham Korea Selatan, ekspektasi penurunan suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS, The Fed kemudian berpadu dengan ekspektasi serupa yang akan dilakukan oleh otoritas Bank Sentral Korea Selatan.

Sejumlah laporan menyebutkan, pihak Bank Sentral Korea Selatan yang sangat mungkin akan seger amenurunkan suku bunga acuannya untuk mencapai titik terendahnya sepanjang sejarah menjadi sebesar 1,0% beberapa waktu ke depan.

Sentimen tersebut kemudian dengan segera mampu membalik sikap investor di bursa saham Korea Selatan untuk melakukan aksi akumulasi. Akibatnya, indeks KOSPI yang sebelumnya sempat terseret di zona merah mampu beralih ke zona hijau dengan melonjak signifikan usai terhajar koreksi lebih dari 3% di sesi perdagangan hari sebelumnya.

Lepas dari seluruh ekspektasi pada aksi yang akan diambil The Fed, secara  umum, sikap pesimis pelaku pasar masih cukup dominan. Gerak indeks oleh karenanya sekedar reda dari kepanikan yang lebih parah dan cenderung untuk bertahan di zona koreksi.

Hingga sesi perdagangan sore berakhir, bursa saham Jepang terlihat menjadi yang paling merana dengan indeks Nikkei terjungkal sangat dalam 3,34% untuk menutup sesi di 22.605,41. Gerak turun curam juga kembali dibukukan oleh bursa saham Australia, dengan indeks ASX 200 terpangkas tajam 1,6% untuk berakhir  di 6.866,6.

Sementara pada bursa saham Hong Kong, indeks Hang Seng naik 0,27% untuk terhenti di 26.893,23, dan pada bursa saham Korea Selatan, indeks KOSPI berhasil berbalik positif dengan melonjak tajam 1,18% untuk parkir di 2.103,61.

Kepungan situasi dan sentimen dari bursa regional yang  sedikit mereda dari kepanikan tersebut, kemudian menjadi bekal bagi indeks harga saham gabungan (IHSG) di bursa efek Indonesia untuk mencoba beralih ke zona hijau.  Gerak IHSG terlihat berulang kali berupaya menginjak zona penguatan tipis  setelah mengawali sesi perdagangan pagi dengan  penurunan curam.

IHSG kemudian terlihat konsisten menapak rentang gerak terbatas hingga sesi perdagangan sore. IHSG  kemudian menutup sesi hari ini dengan menurun moderat 0,34% untuk singgah di posisi 5.787,14. Ekspektasi dari aksi yang akan dilakukan The Fed, dengan demikian berhasil menyelamatkan IHSG dari kiamat gerak runtuh lebih tajam di sesi hari ini.

Pantauan dari jalannya sesi perdagangan menunjukkan, gerak harga saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan berdasar nilai perdagangan yang bervariasi. Saham unggulan seperti: BBCA, BBRI, BMRI, ASII, UNVR, PGAS, UNTR, PTBA, serta INDF tercatat mampu menutup dengan kenaikan.

Sementara saham unggulan lain seperti:  TLKM, BBNI, HMSP, serta ANTM dan GGRM kembali bergulat di zona merah.

Pola gerak IHSG yang terjebak di rentang sempit juga seiring dengan pola gerak nilai tukar mata uang Rupiah. Hingga sesi perdagangan sore ini berlangsung, Rupiah tercatat bertengger di kisaran Rp13.893 per Dolar AS atau merosot 0,24%.[]

Top