Deradikalisasi

Kelompok Cipayung Harus Kembali ke Kampus

Kelompok Cipayung Harus Kembali ke Kampus
Hermawan Taslim (kelima dari kiri)/Ist

KATTA - Kekosongan latihan politik di kampus oleh para mahasiswa yang tergabung dalam kelompok Cipayung membuat kampus kosong dan direbut oleh kelompok yang bergiat dengan mengatasnamakan agama (radikal).

"Membiarkan kampus kosong dari kegiatan politik para mahasiswa di kandangnya sendiri mengakibatkan masuknya kelompok agamis keras yang berniat menguasai kampus. Padahal Kampus merupakan sarana yang tepat bagi para mahasiswa untuk belajar politik secara bijak dengan berpijak pada Pancasila," kata Ketua Forum Komunikasi Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Hermawi Taslim saat menghadiri Kongres PMKRI di Ambon, Maluku, Minggu (9/2/2020).

Menurutnya, salah satu cara untuk melaksanakan deradikalisasi di kampus adalah dengan mengembalikan kelompok Cipayung ke kampus atau back to campus.

Sudah saatnya, sebut dia, pemerintah memulihkan keberadaan organisasi extra universiter, kembali ke basisnya di kampus agar para mahasiswa secara bijak menularkan semangat keIndonesiaan dan ke-NKRI-an di kalangan mahasiswa.

Kata dia, kelompok Cipayung yang merupakan rumah bersama bagi organisasi extra campus seperti HMI, PMKRI, GMNI, GMKI dan PMII telah membuktikan keberadaannya selama puluhan tahun setia kepada ideologi pancasila. Jika kehidupan kegiatan extra kampus dikembalikan lagi, pemerintah akan sangat terbantu oleh kelompok Cipayung dalam program deradikalisasi.

"Saya yakin jika kelompok Cipayung kembali ke kampus, proses deradikalisasi akan dipercepat dan bersih dari pemikiran-pemikiran radikal dan extrims yang mengancam eksistensi ideologi Pancasila.

Sepanjang sejarah perjalanan bangsa ini, telah terbukti organisasi extra kampus yang dikenal dengan sebutan Kelompok Cipayung merupakan pilar-pilar tanggung penjaga tegaknya Pancasila dan nasionalisme Indonesia," ujar Taslim lebih lanjut.

Taslim menjelaskan lebih lanjut bahwa Indonesia perlu melihat Ambon yang sekarang disebut sebagai City of Music, City of Harmony setelah terjadi konflik saudara yang mengatasnamakan agama. Kota ini selalu menjadi tempat tujuan berbagai acara nasional yang ingin memunculkan keharmonisan kehidupan bangsa, agama dan suku ataupun kelompok.

Oleh karena itu diyakini oleh Taslim bahwa, jika Kelompok Cipayung untuk beraktifitas seperti tahun 1970-an, sudah pasti dunia kemahasiswaan akan lebih bergairah, lebih menawarkan visi nasionalime dan patriotisme melalui organisasiny masing-masing. Dan sudah pasti, Kelompok Cipayung akan menjadi garda terdepan bagi tegaknya Pancasila di Kampus-kampus.

"Jaman sudah berubah dan kita  bisa melihat dampak kerusakan dengan ditinggalkannya kampus oleh Kelompok Cipayung. Praktis dinamika mahasiswa tidak ada dan mahasiswa dibiarkan mandul tidak mengerti masalah apa yang dihadapi oleh bangsa dan negara Indonesia senyatanya.

Kita tidak ingin kekosongan itu dicuri lagi oleh kelompok yang anti Pancasila. Jika roh kehidupan extra kampus dikembalikan tentu akan didukung oleh para alumninya yang telah mendirikan KAHMI, FORKOMA PMKRI,  PA GMNI, IKA PMII dan PNPS GMKI," tegas Taslim.[]

Top