Airlangga Menjadi Ketum Lagi

Airlangga Menjadi Ketum Lagi
Foto/Net

MUNAS Golkar 2019 menyisakan harapan positif peran aktual partai politik dalam konsolidasi pembangunan nasional. Parpol sejatinya menjadi bonggol dari pohon kemajuan ibu pertiwi karena berdirinya parpol ditujukan untuk kemaslahatan umat, bukan untuk golongan apalagi segelintir elitnya.

Kadar etik parpol tersebut sering dilupakan banyak orang, mengingat parpol sudah terseret pada kepentingan lain. Getar pembajakan parpol terasa ketika beberapa kasus korupsi nyata-nyata melibatkan kepentingan parpol. Dari soal alibi aliran dana untuk hajatan politik sampai setoran langsung kepada petinggi parpol.

Karenanya, donasi parpol yang tadinya  mengandalkan sumbangan dari anggota dan atau sponsor akan dijamin oleh negara secara memadai. Motivasi ini sangat mulia mengingat keberadaan parpol tidak mungkin dihilangkan dalam tata kelola negara. Sistem demokrasi kita menempatkan parpol sebagai kanal aspirasi publik.

Golkar sendiri merupakan partai tertua dengan pengalaman mumpuni menjadi kanal aspirasi. Sejak berdirinya, Golkar sudah menancapkan pondasi kehidupan berbangsa dan bernegara selama puluhan tahun.

Masa pengabdian panjang Golkar ini tentu saja mengandung risiko coba dan salah. Terutama masa kekuasaan Soeharto yang sering dijadikan bukti banyak pengamat sebagai peran kurang elok dari Golkar.

Namun pembuktian ini juga tidak berusaha dikawinkan sisi positif Golkar dalam menata pembangunan selama 32 tahun lebih. Golkar lebih dilihat sebagai parpol yang punya masa kelam yang tidak layak tampil ke ruang publik.

Adalah Akbar Tanjung yang berusa menguak sisi positif peran Golkar ketika pasca reformasi banyak yang meminta Golkar dikubur dalam jagat politik tanah air. Alumni senior HMI ini berhasil menjelaskan ulang bahwa pembuktian kurang elok atas Golkar tidak semuanya benar.

Faktanya, Bang Akbar bisa menempatkan kembali Golkar dalam posisi papan atas pemenang pemilu. Bahkan dalam pemilu 2004 meraih posisi puncak di tengah hujatan dan cibiran politik dari banyak orang.

Perjalanan Golkar sampai akhirnya terpilih Airlangga pada 2017 memang banyak warna, terutama masa kepemimpinan Setya Novanto. Munaslub 2017 yang akhirnya menempatkan Airlangga di pucuk pohon beringin buah dari pembajakan posisi politik untuk mega korupsi e-KTP.

Golkar seolah berada di ujung tanduk politik nasional, nakhodanya pergi karena terbukti korupsi. Munaslub digelar penuh dengan kosakata etik. Parpol harus bersih dan menjadi kanal aspirasi publik sebagai yang diamanahkan oleh sistem demokrasi kita.

Dalam masa kepemimpinan Airlangga dari 2017, Golkar tampil beda. Meski stigmatisasi tidak pernah sepi menghantam pohon beringin, tapi konsolidasi tidak pernah padam.

Kecakapan anak dari Ir. Hartarto ini kentara dalam mengembalikan kepercayaan publik pada Golkar. Banyak pengamat yang menyangsikan perolehan suaranya di pemilu 2019. Tapi faktanya tidak melorot drastis, masih menempati posisi papan atas pemenang pemilu.

Pengembalian kepercayaan publik bukan usaha mudah, saat yang sama produsen kebencian pada Jokowi begitu massif. Golkar yang menjadi penyokong Jokowi akhirnya bisa selamat dari stigma negatif.

Rupanya keberhasilannya masih dipertanyakan dengan drama rivalitas pra Munas. Airlangga tetap seperti biasa tidak atraktif bahkan memberi ruang prospek bagi Bamsoet dalam bursa Ketua MPR RI.

Kejelian memproduksi nilai positif ala Airlangga berbuah, akhirnya terpilih secara Aklamasi. Drama rivalitas berakhir manis, bahkan Bamsoet dipastikan menempati posisi Wakil Ketua Umum DPP Golkar.

Dari sana nampak gaya melempar umpan lambung dengan posisi tenang bisa menyelamatkan Airlangga dari angin puting beliung. Sejak dia memimpin angin itu terus berusaha merobohkan pohon beringin.

Tapi nyatanya berhasil mengantarkan Jokowi menjadi presiden untuk yang kedua kali. Saat yang sama menjadikan dirinya sebagai nakhoda partai untuk yang kedua kali.

Prestasi dua bintang dalam langit ibu pertiwi ini memang bakal diuji, bukan hanya pujian tapi juga caci maki. Sebuah konsekuensi tidak bertepi bagi siapa pun yang berjanji untuk ibu pertiwi.[]

Top