Kejahatan Kerah Putih

Kejahatan Kerah Putih
Ilustrasi/Net

MALING ayam di kampung biasanya digebuk massa. Jerih payah tiap hari memberi makan menjadi sia-sia karena ulah tangan tidak bertanggung jawab.

Perasaan gondok menyebabkan warga sekampung memutuskan cara paling memuaskan dengan hukuman memukul berjamaah. Tapi hasilnya tetap saja tidak maksimal, kejadian maling ayam masih terjadi di tengah sulitnya mencari sesuap nasi.

Kejahatan rakyat jelata kontras dengan prilaku kaum berdasi di tanah air. Posisi kuat seorang pejabat publik kerap disalahgunakan oleh demi keuntungan pribadi dan kelompoknya.

Mereka menggunakan cara-cara canggih dalam mengeruk keuntungan. Dari fasilitas kekuasaan sampai SDM yang mumpuni menghilangkan jejak kejahatan. Kalaupun mereka tertangkap tangan, standar perlakuannya tidak seperti maling ayam.

Tragisnya mereka adalah yang dikenal sebagai tokoh yang peduli sesama, baik bentuk santunan maupun sumbangan lainnya. Kita akhirnya menyatakan itu semua topeng yang terbuka ketika mereka sudah di penjara.

Bahkan ada yang sampai seorang anak mengikuti jejak ayah dan ibunya yang sudah duluan dipenjara. Saat sama, keluarga itu dikenal orang sekitar sebagai yang berjiwa sosial tinggi.

Topeng itu dipakai dalam kesadarannya untuk tetap dermawan di ruang publik. Tapi sebenarnya lebih jahat dari seorang yang maling ayam di kampung, sudah digebuk bareng-bareng dengan status dikenal hanya memenuhi kebutuhan hidup. Sementara penjahat berdasi masih tetap dielu-elukan meski sudah berada di penjara.

Efek kejahatan mereka juga tersebar ke beberapa tempat dengan korban bisa berjumlah ribuan. Kontras dengan seorang warga di kampung yang kehilangan seekor ayam dengan radius tidak melebihi luasan kampung pada umumnya di tanah air.

Bila Anda bagian dari yang belum memiliki e-KTP, maka termasuk dari efek luar biasa kejahatan kerah putih. Belum efek tidak langsung yang terjadi semisal beberapa proyek megah yang akhirnya kandas gara-gara korupsi.

Yang paling menakutkan dari itu adalah pelakunya tidak seorang dan terdiri dari banyak kalangan sampai aparatur penegak hukum. Ini yang menyulitkan pengungkapan tuntas, bahkan memungkinkan dilakukan lagi meski sudah ada di jeruji besi.

Bahkan ada yang sudah menjadi narapidana, tapi tetap menjalankan bisnis haramnya dengan model dan operator berbeda. Bagi terpidana tersebut hanya ada sedikit kerugian dibandingkan menjalankannya dalam kondisi bebas.

Kebebasan mereka juga ada yang didapatkan meski menjadi narapinda. Mereka sangat berbeda dengan maling ayam yang menjalani hukuman sesungguhnya, tidak bisa membeli kemewahan hidup meski jadi narapidana.

Status narapidana juga hanya indah di muka persidangan, faktanya mereka masih bisa mendapatkan layaknya orang bebas. Akan menjadi raja sepanjang masa, karena celah hukum masih tersebar banyak.

Ada juga yang akhirnya bisa mendapatkan pengurangan hukuman karena alasan sepintas lalu manusiawi, tapi sebenarnya kekuatan uang mereka yang mengubah keadaan. Jika ada denda, tidak sebanding dengan tumpukan uang haramnya.

Kita semua masih akan menerima kenyataan pahit parodi penegakan hukum ini. Karena telah terjadi kebiasaan sampai para penentu kebijakan, yang tersisa hanya hukuman sekelas maling ayam.

Apakah akan lahir perubahan, mengingat bangsa ini masih membutuhkan keadilan hukum sebagai syarat meraih kemajuan? Kita jangan sampai putus asa, karena negeri ini harus lebih maju dan sejahtera.

Jika kita menyerah, sama saja memelihara mentalitas terjajjah sepeti pernah terjadi pada leluhur kita. Dan ini sebagai tanggung jawab melanjutkan cita besar pendiri republik ini, yang mengorbankan tenaga; fikiran hingga nyawa.

Maling ayam memang tetap harus dihukum, seraya berjuang untuk menghukum penjahat kerah putih. Minimal dengan tetap tidak mentolerir jika itu terjadi dalam lingkungan keluarga, masyarakat dan negera.

Yakin usaha sampai melahirkan negeri bersih dan beradab, bisa sejajar dengan bangsa lain di dunia. Pantang menyerah pada sindikat maling kelas kakap, mereka memang kuat tapi harus lenyap dari muka bumi.

Jangan sampai generasi kita di masa mendatang menerima kenyataan pahit sekarang ini. Biarkan kita susah payah membongkar tabir kepalsuan, yang nanti akan sangat bermanfaat.[]

Top