Grasi Tepidana Korupsi

Grasi Tepidana Korupsi
Ilustrasi/Net

GRASI adalah hak konstitusional seorang presiden dalam menjalankan fungsi pembuat keputusan terkait hukuman seseorang. Setelah banyak mempertimbangkan masukan dari pihak terkait, seorang presiden akan memberikan grasi bagi terpidana.

Masalah yang muncul biasanya terkait siapa yang diberikan grasi. Publik akan mentolerir bagi terpidana selain korupsi, mengingat ia merugikan banyak orang bahkan bisa merubuhkan bangunan kebangsaan.

Sebut saja kasus e-KTP yang menjerat Setya Novanta yang efeknya masih terasa hingga sekarang. Setiap warga negara yang masih belum kebagian pembuatan e-KTP akan merasakan dampak buruk korupsi.

Perasaan dirugikan menjadi pemicu keengganan publik atas pengampunan koruptor. Bahkan bagi kebanyakan orang hukuman koruptor terasa masih belum cukup melahirkan efek jera.

Hukuman koruptur juga dijalankan secara tidak semestinya, para koruptor bisa mendapat pengurangan hukum dengan caranya sendiri. Pengurangan lahir dengan melakukan transaksi oleh oknum tertentu ketika di penjara.

Jeruji besi bak istana megah bagi mereka tidak seperti dugaan sementara orang di luar. Yang tadinya ruang sempit dan kumuh menjadi kamar nyaman dengan setumpuk fasilitas wah.

Bahkan mereka bisa mengendalikan roda bisnis dari bilik penjara. Tamunya berdatangan hampir setiap waktu, terutama ketika ada hajat besar dalam pemerintahan, dari bagi-bagi kavling proyek sampai proyeksi jabatan.

Tersiar bisik-bisik di kalangan elit tertentu, ada satu pemerintahan kota di Banten yang jika ada butuh untuk promosi jabatan harus menghadap ke Sukamiskin. Jika sang majikan berkenan maka separuh lebih bakal lancar di tangan para birokrat.

Gosip ini makin terasa mengingat taring sang majikan sudah banyak dikuatkan oleh para birokrat dan pelaku bisnis. Mereka tidak pernah meninggalkan ritual sowan sampai sekarang.

Ritual itu juga mencakup perselisihan bagi-bagi realisasi anggaran ketika RAPBD disahkan. Daripada bersusah payah bekerja lebih efektif diselesaikan di salah satu serambi di Sukamiskin. Keuntungannya bahkan bisa diambil di muka dengan jumlah lumayan besar.

Menyimak semua keistimewaan itu lalu kita semua masih dipertanyakan ketika menggugat grasi terpidana korupsi? Pikiran juga menjadi tidak sehat ketika grasi tersebut beralasan kemanusiaan.

Bagi rasa kecewa karena ulah koruptor hampir tidak alasan maaf atas segala efek negatif dari korupsi. Dia adalah kejahatan kemanusiaan ekstra yang tidak ada preseden pemaafan bahkan hingga terpidana korupsi tutup usia.

Fakta kemiskinan karena tata kelola uang negara yang masih coreng moreng lebih bermakna dari kosakata kemanusiaan bagi terpidana korupsi. Kemiskinan lebih dahsyat daripada empati pada seorang koruptor, karena terasa oleh sebagian banyak publik.

Bungkusan kemanusiaan bagi grasi terpidana korupsi pada gilirannya mengoyak platform kebangsaan. Bahwa kepentingan publik lebih didahulukan dari kepentingan personal terpidana korupsi.

Terpidana korupsi harus lebih bersyukur dibandingkan nasib menimpa terpidana korupsi di negara lain. Hukuman di tanah air tidak sampai menghilangkan nyawa dibandingkan, misalnya, di negeri tirai bambu.

Selain hukuman yang masih manusiawi, terpidana korupsi juga masih bisa mendapatkan kemewahan meski harus keluar setoran dari kocek sendiri. Biayanya juga relatif terjangkau karena simpanannya melimpah ruah.

Ada adagium bahwa hukuman yang diterima masih sangat jauh dari jumlah pundi berhasil dikumpulkan para koruptor. Sebagian dari mereka bahkan ada yang akhirnya bisa menjadi pemenang dalam hajatan demokrasi, karena dari modal elektabilitas dan kapital jauh  dibandingkan dengan para pesaingnya.

Hukuman bagi mereka pada gilirannya tidak lebih dari dagelan hukum. Karena secara kualitatif tidak mampu menghentikan mata rantai kejahatan korupsi. Bahkan jika mereka bebas bisa dengan mudah kembali duduk di kursi kekuasaan.

Publik masih tidak bisa melawan lupa ketika terpidana koruptor bebas, mencalonkan kembali yang akhirnya terpilih. Mereka hanya jadi mesin demokrasi untuk kepentingan sang majikan. Jadi sudah sepantasnya, grasi bukan sekedar basa-basi![***]

Top