Jokowi Adalah Kita?

Jokowi Adalah Kita?
Foto/Net

PERTANYAAN judul sebagai kritik atas harapan kepemimpinan Jokowi lima tahun mendatang. Dalam jilid pertama prestasi Jokowi diamini sebagian besar publik, dengan raihan suara terbesar mengalahkan Prabowo.

Jokowi adalah antitesa dari politik pilpres yang biasanya dimenangkan oleh sosok mentereng. Ada karena karier militer sampai keturunan tokoh tenar berpengaruh. Juga karena sokongan dari para pemedal tajir melintir.

Tapi dia hanya seorang tukang kayu di kota kecil di Jawa Tengah. Berawal dari kenekatannya meraih kursi Wali Kota Solo, sukses menang di Pilgub DKI sampai moncer di bursa capres 2014.

Proses secepat kilat menyisakan harapan baru bagi publik. Yang tadinya disuguhkan sosok dengan taburan kiprah dan pemikiran tapi ternyata gitu-gitu ajja. Bahkan ada yang dirasa sangat otoriter hanya untuk menyelamatkan keturunannya.

Mendadak Jokowi pada 2014 adalah cerminan sahih dari harapan publik pada alumni tekhnik sipil UGM ini. Wong cilik bukan keturunan menak dan terpelajar punya magnet elektoral luar biasa.

Dari sinilah sebenarnya kita semua bertanya, apa yang dominan dari harapan pada sosok yang diklaim bagian dari dirinya? Jika memang hanya soal bosan dengan figur terkenal dan mentereng lalu beralih selera?

Moga saha harapan itu bersifat substansial bukan emosi tidak bertepi. Yang pada akhrinya menghilangkan daya kritik bagi Jokowi.

Kritik bukan berarti tidak simpati, tapi sebagai tanda kasih paling sahih bagi Jokowi. Tanda kasih yang selama ini penuh puja dan puji harusnya digeser dengan model lain.

Toh pada praktiknya lima tahun mendatang tidak ada yang menjadi oposisi seperti pada periode kemaren. Puasa oposisi dalam periode kedua ini sangat berbahaya bagi pemerintahan Jokowi.

Jokowi adalah kita harusnya berubah wajah lebih kritis sekaligus konstruktif. Jangan penuh dengan kosakata pujian yang cendrung berjarak dengan daya kontrol.

Inilah cinta yang sesungguhnya, bisa memuji sekaligus mengingatkan jika Jokowi terlena. Dia juga manusia biasa yang punya nafsu sebagaimana yang lainnya. Hanya dengan cinta seperti ini ibu pertiwi akan tetap tersenyum.[***]

Top