Pesona Para Bintang

Pesona Para Bintang
Ilustrasi/Net

PEMILU 2019 menyisakan banyak bintang politik, secara merata ada di setiap partai politik. Mereka sudah menempati posisi penting, baik di internal maupun eksternal parpol. Posisinya secara nyata terlihat sebagai mata rantai menuju target politik lebih menjanjikan di masa mendatang.

Ada bulan madu terlihat dalam hubungan elit parpol, tapi ada juga yang terasa akan talak tiga. Panas dingin hubungan mereka tidak bisa disembunyikan, terutama pasca keterpilihan beberapa tokoh memimpin posisi kenegaran kita.

Pesona politik juga makin terlihat berkilau pada satu dan atau sebagian tokoh nasional. Dan pada tokoh lainnya ada nada kecewa atas dinamika yang terjadi dalam jagat politik tanah air.

Bagi politisi yang sudah matang merencanakan agenda politik, dinamika politik adalah makanan sehari-hari. Dia bukan hidangan mewah yang bisa melupakan diri atau bahkan mengendurkan semangat menghasilkan inovoasi politik.

Politisi matang adalah yang bisa menangkap kemana angin segar itu akan berhembus, seraya mempersiapkan infra struktur politik yang kuat. Mereka terlihat bisa mengarungi ombak kepentingan yang setiap detik terus berubah.

Sangat menarik terlihat pada sosok yang mudah kebakaran jenggot kalau dewi fortuna belum berpihak pada dirinya. Sikap tidak dewasa bahkan cendrung kekanak-kanakan karena tidak mendapat permen kekuasaan yang pada akhirnya akan dinilai oleh masyarakat.

Politik etik yang dipancarkan para politisi matang itu pada proses selanjutnya akan menghasilkan atensi masyarakat, bisa menambah keterkenalan sekalgus pada akhirnya menghasilkan efek elektoral di masa mendatang.

Politisi yang bangun kesiangan pada gilirannya kerap mengundang candaan dari publik, bahkan tak jarang mengundang cibiran. Bangun kesiangan memang punya risiko besar terutama dalam hal kesiapan diri dalam menyesuaikan dengan dinamika politik tanah air.

Biasnya mereka yang tidak cepat menyesuaikan diri akan tersingkir secara perlahan dari ruang publik. Atau ada juga yang akhirnya menunggu lamaran baru dari kekuatan politik lain, yang boleh jadi sebelumnya dia caci maki.

Menjadi politisi menawan itu memang punya banyak cara, yang salah satunya selalu siap menyesuaikan diri dengan dinamika. Sikap adaptif sekaligus kreatiflah yang akan menjadikan mereka yang bangun kesiangan akan bisa mendapat pesona baru.

Dalam masa mendatang memang pertarungan para bintang akan terasa lebih sengit, karena arena pertandingan makin melebar. Tidak ada satu bintang yang bersinar dominan dalam dinamika politik, kalaupun sudah menempati posisi strategis belum tentu mulus sampai waktu jelang kentestasi.

Pesona binang politisi itu akhirnya ditentukan oleh masyarakat yang punya hak menentukan siapa paling layak menjadi pemimpin. Politisi yang rajin tebar pesona tapi berjarak dengan kebutuhan publik pada akhirnya akan hilang ditelan bumi.

Politisi yang bisa bertahan sekaligus menabung elektoral di mata masyarakat pada akhirnya akan bisa bertarung dalam konstestasi lebih menjanjikan. Masyarakat sudah jeli melihat mana politisi rasa pesona dan mana politisi yang benar-benar menjanjikan perbaikan di masa mendatang.

Boleh jadi para bintang itu akan hilang pesonanya digantikan oleh kuda hitam datang terakhir. Seperti Jokowi yang tadinya seorang tukang kayu, tapi bisa mengalahkan pesona para bintang itu.

Jika kuda hitam itu memang benar-benar datang, para bintang hanya indah terlihat tapi sulit terasa dalam bilik suara. Sangat memungkinkan terjadi, karena pesona adalah citra bukan cita ideal lahir dari masyarakat.[***]

Top