Seekor Lebah Hinggap di PKB

Seekor Lebah Hinggap di PKB
Foto/Net

SETELAH Munas di Bali, PKB resmi menambahkan gambar lebah pada logo partai. Tersiar maksud, lebah dipilih karena sifatnya yang selalu menebar manis dengan tidak merusak ekosistem yang ada.

Niatan etik PKB bisa dibaca sebagai strategi komunikasi politik pasca keberhasilannya dalam pemilu 2019. Keberhasilan harus dimaknakan lebih elegan dan santun, karena makin tinggi prestasi makin banyak ujian.

Prestasi politik punya banyak sisi yang harus diwaspadai, baik dari internal maupun dari eksternal partai. Dua sisi ini menjadi mata koin keberlanjutan politik PKB di tengah dinamika politik Tanah Air.

Sebagaiman kita semua tahu, periode kedua Jokowi bakal menyisakan banyak pekerjaan bagi partai politik. Apakah kemesraan itu akan berlanjut pada 2024, atau malah mencari peasangan baru.

Lima tahun ini anggap saja masa taaruf untuk melangsungkan pertunangan mengusung siapa dan karena apa berpasangan. Waktu yang lebih dari cukup bagi PKB untuk mencari alternatif baru.

Perlu disampaikan secara internal PKB ada riak peremajaan pasukan. Sangat terbaca dari jajaran pengurus yang dihuni wajah baru dan jika ada wajah lama sudah teruji loyalitasnya kepada partai.

Wajah baru sengaja dihadirkan untuk merespon dinamika pemilih millenial, terutama lini pergerakan partai terkait perkembangan komunikasi politik modern. Mereka dipasang sedini mungkin untuk merespon tuntutan politik millenial yang terus menguat.

Bukan barang aneh politik milenial pasca kehadiran teknologi informasi. Mereka adalah komunitas dinamis sekaligus atraktif, yang jika dibiarkan bisa menggerus suara PKB di masa depan.

Lewat tangan kaum milenial pula semangat mencari seokor lebah akan coba dimainkan. Di mana dunia sudat dilipat, butuh daya jelajah akurat untuk menampung aspirasi generasi gadget itu.

Adapun tokoh lama yang dipertahankan memang merupakan barang bagus stok lama. Mereka adalah penyeimbang dari kejutan politik millenial yang boleh jadi mengoyak misi perjuangan PKB.

ABG tua ini punya rasa milenial dalam masa bhaktinya nanti, bisa mentransformasikan hal baik lama untuk selanjutnya dikawinkan dengan hal baru yang lebih baik. Proses substansiasi ini menjadi penting mengingat dalam banyak praktik partisipasi politik milenial punya risiko coba dan salah.

Setelah itu dianggap berhasil maka target pentingnya mendorong Gus AMI, demikian istilah baru bagi Cak Imin, menjadi sosok ideal untuk diusung sebagai calon presiden. Wakil Ketua DPR RI ini sudah punya rekam jejak lebih dari cukup, yang kurangnya adalah kelayakannya diusung sebagai capres.

PKB harus kita akui sebagai partai pertama pasca reformasi, yang bisa mengantarkan kadernya menjadi presiden. Gus Dur adalah profil aktual bagi PKB untuk meneropong 2024 adalah panggung tepat untuk mengusung Gus AMI sebagai capres.

Sasaran besar itu tentu saja butuh konsistensi terutama dalam cita rasa di ruang publik dan dorongan kuat dari internal PKB. Tanpa dua usaha itu nampaknya Gus AMI bakal kesulitan menjadi capres.

Ini terkait setiap parpol bakal berusaha sekuat tenaga menyuguhkan kader terbaiknya. Beberapa bintang sudah mengisi pos penting yang bisa langsung tancap gas menuju RI satu. Rekam jejak dan usianya juga relatif setara, sehingga pertarungan makin kompetitif.

Jika semua skenario lebah ini berhasil, dipastikan PKB menjadi partai besar dan solid. Mengulang sejarah awal reformasi yang berhasil menjadikan Gus Dur sebagai presiden. Kita tunggu sajalah![***]

Top