Selamat Ultah Gus Ami, Berjuang Membela Rakyat

Selamat Ultah Gus Ami, Berjuang Membela Rakyat
Foto/ist
"DEMO yang canggih adalah berhasil tak kena pukul. Kalau masih kena, belum canggih,” kata Muhaimin terkekeh.

Sejak usia dini, Muhaimin Iskandar sudah sangat lekat dan terbiasa dengan dunia politik. Politik bagi Gus Ami, sapaannya, berwajah keras. Politik itu represif.

Dunia politik adalah bagian tak terpisahkan dari diri dan kehidupannya. Baik kakek buyut, kakek, maupun ayahnya, mereka adalah pribadi-pribadi aktivis, sosok-sosok pekerja keras.

Ketua DPR RI termuda ini kerap menyaksikan aktivitas mereka di NU, termasuk perjalanan politik mereka. Maka tak heran darah pekat politik mengalir deras dalam dirinya.

Menginjak usia remaja, Gus Ami aktif terlibat dalam diskusi-diskusi mengenai politik. Ketika itu dirinya masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah. Pada masa-masa inilah dia mulai mengenal dan merasakan bagaimana represifnya kekuasaan Orde Baru.

Pada awal dekade 80, rezim Orde Baru melarang perkumpulan, diskusi maupun pengajian yang bisa membahayakan kedudukan Sang Presiden, Soeharto. Bukan pemandangan asing lagi bila Aparat Kodim (Komando Distrik Militer) dan kepolisian turun ke desa-desa untuk melarang masyarakat berdiskusi mengenai politik.

Satu hal yang sangat membekas di memorinya, ketika aparat melarang ayahnya melakukan pengajian.

Tak hilang dari ingatan Gus Ami saat duduk di kelas dua Tsanawiyah, bersama kawan sekelas sedang larut dalam diskusi perihal kekayaan Soeharto.

Diskusi itu dilakukannya dalam sesi pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Karena aktivitas tersebut, satu kelas dipanggil ke Kodim langsung diinterogasi penuh.

Bisa dibayangkan suasana batin, seusia itu disidang aparat lengkap. Itu sangat membekas, tapi bukan jera malah menjadi spirit untuk lebih berani di masa mendatang.

Ya, kaum nahdliyin kala itu memang tengah menghadapi masa-masa suram. Berbagai intimidasi silih menghampiri. Alasannya jelas, karena NU bergabung ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

NU kian termarjinalisasikan oleh para aktor-aktor rezim Orde Baru. Seolah ada sebuah kesepakatan umum: pokoknya semua harus Golkar.

Hingga pada 1984, NU memutuskan keluar dari dunia politik dan kembali ke khittah sebagai organisasi kemasyarakatan.

Keputusan itu diambil untuk menghindari tekanan lebih keras dari rezim Soeharto kepada NU. Bertepatan dengan itu, Gus Ami pindah ke Yogyakarta. Di sana duduk di bangku Madrasah Aliyah Negeri I.

Siapa mengira, di kota pelajar inilah Gus Ami makin mengenal dunia politik. Berbagai diskusi dan pergaulan kian mematangkan pandangannya.

Lulus dari Aliyah tahun 1985, lalu masuk Insitut Agama Islam Negeri (IAIN)—kini Universitas Islam Negeri—dan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.

Namun meski sudah mengenal politik lebih mendalam, dirinya belum memiliki ketertarikan terjun ke politik praktis.

Gerakan politik yang dia pilih bersama teman-teman mahasiswa lainnya adalah gerakan pemikiran lewat kelompok diskusi, demonstrasi di jalan-jalan, dan gerakan terjun ke masyarakat langsung yang menjadi embrio dari LSM (lembaga swadaya masyarakat).

Dia menyelami gerakan “politik pemberdayaan” sampai 1987. Setelah itu, dia pun memasuki dunia ormas dengan bergabung ke dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Dengan masuk ormas, Gus Ami hendak memperluas jaringan berikut mengubah orientasi organisasi pemuda.

Setelah terpilih menjadi ketua cabang PMII Yogyakarta, Gus Ami masuk Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), organisasi induk ormas bidang kepemudaan.

Di KNPI Yogyakarta, dirinya menduduki posisi wakil ketua. Keterlibatan di KNPI membawanya mengenal Tjahjo Kumolo yang kini menjadi politisi PDIP. Saat itu, Tjahjo adalah ketua umum KNPI Pusat.

Ketika sudah masuk KNPI, Gus Ami lalu mencetuskan pembubaran KNPI dalam rangka kritik monoloyalitas dan penyeragaman.

Menurutnya KNPI tidak salah, hanya kehilangan orientasi saja karena tidak memiliki kemampuan kritik, hanya memiliki kemampuan mengoordinasi.

Di Yogyakarta inilah, Muhaimin Iskandar mengenal pertama kali sosok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Yudhoyono yang masih berpangkat perwira menengah mulai membicarakan pergeseran paradigma TNI.

Benih perkenalan itu, berbarengan dengan posisinya sedang menelurkan pergeseran paradigma gerakan mahasiswa dan pemuda di Yogyakarta.

Pada 1991, Gus Ami merampungkan studi di UGM dan hijrah ke Jakarta. Bersama Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dia mendirikan lembaga swadaya masyarakat (LSM) bernama Lembaga Pendapat Umum (LPU).

Dia meyakini LPU semacam lembaga analisis perkembangan. Dia membentuk lembaga itu jauh sebelum menjamurnya lembaga-lembaga kajian di beberapa tempat, dengan posisi sebagai kepala Divisi Kajian LPU.

Bersamaan dengan itu, Muhaimin terlibat dalam Forum Demokrasi yang dipimpin Gus Dur. Forum ini gencar melancarkan kritik terhadap rezim Soeharto.

Pada tahun 1995, Muhaimin bergabung dengan Erros Djarot menerbitkan Tabloid Detik dan menduduki posisi sebagai kepala penelitian dan pengembangan (Litbang).

Tabloid ini tak berumur panjang. Lantaran sangat keras mengkritik pemerintah, Detik dibreidel. Muhaimin dan kawan-kawan berunjuk rasa di depan Istana memprotes pembreidelan tersebut.

Unjuk rasa itu dibubarkan paksa dengan kenangan indah, dirinya beruntung tidak kena pukul aparat.

Dari Monas, Muhaimin mampir ke kantor PBNU di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat untuk bertemu Gus Dur.

“Kata Gus Dur, bagus tak kena pukul. Canggih. Demo yang canggih adalah berhasil tak kenal pukul. Kalau masih kena, belum canggih,” kata Muhaimin terkekeh.

Muhaimin kembali ke jalur politik ormas ketika terpilih menjadi ketua umum Pengurus Besar PMII. Pada masa kepemimpinannya (1994-1997), Indonesia tengah memasuki masa-masa kritis.

Aksi penolakan terhadap sistem pemerintah Soeharto yang otoriter dan represif makin keras. Puncaknya terjadi pada Mei 1998. Reformasi meletus. Aksi people power yang dilakukan mahasiswa berhasil membuat Soeharto memutuskan mundur dari kursi presiden. Rezim Orde Baru runtuh. Pintu ke arah demokrasi menjadi terbuka.

Presiden BJ Habibie yang meneruskan tongkat estafet pemerintahan dari Soeharto memutuskan menggelar pemilihan umum (Pemilu) pada 1999. Partai politik mulai bermunculan.

Muhaimin muda mulai masuk politik praktis ketika ditunjuk oleh Pengurus Besar NU untuk merumuskan konsep mengenai Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Dia menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga dan membangun pondasi. Muhaimin yang mewakili unsur Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Kala itu, Muhaimin tak pernah terpikir akan menduduki jabatann tertentu di partai yang tengah dibangunnya. “Saya bergabung saja. Mengikuti pertemuan di Semarang, Kalimantan dan beberapa daerah,” kenangnya.

Ketika deklarasi, Gus Dur memanggil dirnya untuk menjadi sekjen mendampingi Pak Matori Abdul Djalil yang diangkat menjadi ketua umum.

Kemungkinan ditunjuk menjadi sekjen karena selama ini dia yang menyusun semua, termasuk menyempurnakan logo.

Alhamdulillah, katanya masuk kekuasaan politik praktis saat sudah ‘merdeka’. Sudah era demokrasi.

PKB yang didukung NU memperoleh suara signifikan pada Pemilu 1999 yang merupakan pemilu pertama di alam demokrasi. Muhaimin yang menjadi caleg dari daerah pemilihan Surabaya-Sidoarjo melenggang ke Senayan.

Muhaimin ditunjuk sebagai ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa(FKB) yang pertama. Selang beberapa minggu kemudian, Muhaimin sudah memasuki jajaran pimpinan DPR. Itu menjadi wakil ketua DPR mewakili FPKB.

Gus Ami menjadi wakil ketua DPR dan ketua fraksi pada usia 32 tahun. “Jadi saya ketua fraksi termuda dan pejabat tinggi negara termuda. Tidak ada menteri-menteri saat itu yang semuda saya,” kata Muhaimin bangga.

Dan hingga kini, rekor sebagai wakil ketua DPR termuda belum terpecahkan.

Pada 2004, pemilihan pimpinan DPR berlangsung dengan sistem paket. Muhaimin satu paket dengan Agung Laksono (Golkar), Soetardjo Soerjogoeritno (PDIP), dan Zaenal Ma’arif (PBR).

Paket yang diusung Koalisi Kebangsaan itu mengalahkan paket yang dijagokan Koalisi Kerakyatan. Dan, Muhaimin bisa kembali menempati posisi wakil ketua DPR hingga 2009.

Dunia politik yang telah arungi Muhaimin selama tiga dekade terakhir telah melabuhkannya pada banyak posisi terhormat: Wakil Ketua DPR, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, ketua umum PKB, wakil ketua MPRI RI.

Pasca pemilu 2019, Gus Ami , menempati kembali pimpinan DPR RI untuk yang ketiga kalinya. Prestasi politik yang belum bisa diraih oleh banyak orang.

Kini Gus Ami memilih istiqomah dalam mengarungi jalan politik tanah air, tetap menjadi Ketua Umum PKB dengan menjabat posisi sebagai pimpinan DPR RI.

Wajah politik keras yang pernah dikenal Muhaimin Iskandar telah berubah wujud menjadi “ramah” terhadapnya. Politik baginya adalah seni segala kemungkinan terbaik untuk mengabdikan diri pada bangsa dan negara.

Kini dalam logo PKB ada simbol lebah, diartikan sebagai yang akan terus menebarkan kebaikan layaknya seekor lebah mencari harumnya bunga untuk menjadikan madu yang bermanfaat untuk banyak orang.

Dan Gus Ami optimistis metaformosis politik itu juga akan membawa kemajuan bagi bangsa ini. Dengan melakukan kerja politik terukur dan bersesuaian dengan dinamika masyarakat.

Dengan usia yang relatif muda tapi pengalaman kiprah di legislatif, eksekutif sekaligus menjabat Ketua Umum DPP PKB, menjadikan Gus Ami sebagai tokoh diperhitungkan lima tahun mendatang.

Saat di pucuk pimpinan partai politik lain, relatif berumur kalaupun ada yang lebih muda tidak sebanding dengan kiprah yang Gus Ami torehkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Selamat berjuang dan ultah ke-54 Gus Ami.[]


*Penulis adalah pengamat politik dan alumni UIN Jakarta.

Top