Kecerdasan Beradaptasi di Tengah Pandemi

Kecerdasan Beradaptasi di Tengah Pandemi
Ilustrasi/Net

DALAM sebuah kesempatan saya sempat berdialog agak serius dengan Prof. Suyanto, Ph.D., Mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta dan Dirjen Kemdikbud. Beliau mengungkapkan bahwa keberhasilan seseorang terletak pada empat hal.

Pertama, kreativitas, yakni kemampuan menciptakan sesuatu yang baru. Kreativitas menurut beliau faktor utama keberhasilan sebuah bisnis, apapun bentuknya. Di era saat ini industri kreatif, pendidikan kreatif, ekonomi kreatif, merupakan hal yang dapat bertahan hidup. Inti dari kreativitas adalah kemampuan memberikan hal baru di tengah kemandegan.

Kedua, inovasi, yakni pembaruan. Mulai dari bentuk, proses, dan hasil yang baru dimunculkan dan berbeda dari sebelumnya. Inovasi berjalan progresif. Melihat masa depan sebagai tantangan.

Ketiga, kecerdasan, yakni kemampuan mengelola potensi yang dimiliki diri sendiri ke arah yang produktif. Seseorang yang tidak mengenali dan tidak dapat melejitkan potensi yang dimiliki akan tertinggal. Itulah orang yang cerdas.

Keempat, akses, yakni kemampuan membangun relasi dengan berbagai pihak. Menurut beliau, tiga faktor di atas jika tidak didukung oleh faktor terakhir terkadang tidak menghasilkan apapun.

Empat hal di atas pada hakikatnya harus terjadi dalam dunia pendidikan. Output pendidikan harus mencetak peserta didik dengan empat kompetensi tersebut.

Pendidikan Beradaptasi di Tengah Pandemi

Di tengah pandemi Covid-19 yang tidak kurun mereda sebenarnya pemerintah telah mencontohkan kebijakan yang adaptif. Sebagai bukti adalah diperbolehkannya menggunakan kurikulum darurat di tengah pandemi. Sebagaimana dalam surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 719/P/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus.

Dalam keputusan tersebut, Mendikbud Nadiem Anwar Makarim menjelaskan bahwa guru boleh saja mengikuti kurikulum nasional. Namun, jika tidak memungkinkan kurikulum dapat disederhanakan. Bahkan, guru diperbolehkan membuat kurikulum yang tepat dengan melihat kondisi daerah masing-masing.

Waktu mengajar guru juga tidak harus memenuhi 24 jam. Ada fleksibilitas dan adaptasi dalam kebijakan tersebut. Intinya, Mendikbud telah memulai dan mengajarkan bahwa sebuah proses pendidikan tidak boleh kaku. Harus ada kecerdasan adaptasi di dalamnya.

Peran Guru

Profil guru dalam pandemi saat ini juga harus beradaptasi. Semula guru adalah sosok yang ajeg di depan kelas, kini hal tersebut telah berubah. Saat ini guru harus menjadi content creator atau bahkan menjadi artis Youtube sebagaimana yang sedang viral.

Hal ini bukanlah mengada-ada, karena perubahan medan tempur yang semula di kelas kini bergeser ke media sosial. Tidak ada salahnya, jika perubahan medan tempur tersebut diikuti perubahan profil pada sosok seorang guru.

Tidak bisa dimungkiri, jika suatu saat nanti, penilaian kinerja guru dilihat dari profil media sosialnya. Bahkan, saat ini di perusahaan besar, sudah tidak lagi melihat curriculum vitae dalam rekrutmen karyawan. Perusahaan cukup men-tracking profil karyawan melalui media sosialnya.

Dahulu guru adalah yang digugu dan ditiru. Guru adalah orang yang menjadi panutan di depan kelas dan sekolah. Namun, guru di era pandemi dan pembelajaran jarak jauh, guru harus menjadi influencer.

Guru harus mampu menyuguhkan tontonan yang menuntun peserta didik ke arah yang positif. Menyuguhkan saja tidak cukup, tapi juga ikut mengarahkan dan membawa peserta didik memiliki framework cerdas dalam mengakses dunia maya. Inilah sosok guru yang diharapkan hadir di tengah Covid-19 dan proses pembelajaran jarak jauh sebagaimana yang dicanangkan pemerintah.

Orang Tua yang Adaptif

Pembelajaran jarak jauh masih banyak yang susah menerimanya. Hal itu karena sebagian masyarakat, khususnya orang tua tidak mau keluar dari zona nyaman. Jika sistem telah berubah, guru sudah beradaptasi, tapi orang tua masih mengeluh, maka yang dirugikan adalah peserta didik sendiri (lebih tepatnya anak kita sendiri).

Orang tua harusnya ikut berubah, meskipun terasa berat. Alvin Toffler mengatakan, ketika zaman telah berubah, maka yang tidak berubah akan ditinggal oleh zaman. Itulah buih, menurut Buya Syafii Ma’arif. Manusia hidup, harus menjadi ombak, tegas beliau.

Sesuatu yang tidak berubah pasti ditinggalkan zaman. Adagium ini sangat nyata. Sebagaimana nasib Odol, nama merek pasta gigi, yang tidak pernah ditemukan lagi di pasar.

Odol, dahulu memang mampu menguasai pasar, tapi saat ini tinggal nama. Apa arti sebuah nama jika tidak memberikan arti saat ini. Banyak analis mengatakan bahwa Odol gagal melakukan perubahan, atau transformasi.

Sebagai orang tua, sangat tidak elok mengajarkan kemandegan pada anak-anaknya. Jangan bunuh rasa curiosity (rasa ingin tahu) anak karena kemalasan kita untuk berubah. Kesalahan memberikan motivasi saat ini, akan menjadi penderitaan dua puluh tahun yang akan datang bagi anak-anak kita.[***]

*Penulis adalah aktivis Pegiat Pendidikan Indonesia (PUNDI), Sekretaris Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah.

Top