KAMI Memang Beda dengan KAMU

KAMI Memang Beda dengan KAMU
Foto deklarasi KAMI, 18 Agustus 2020/Net

MASYARAKAT rasionalis bertanya-tanya, siapa KAMU ini, hingga seperti pemuja berhala pada jaman Jahiliyah..!?

KAMU adalah hanyalah akronim dari "Kaum Anti MUhasabah," merupakan suatu kaum yang tidak memiliki sense of crisis, sense of the truth, and a sense of care.

Kaum ini bukan hanya tidak memiliki rasa krisis atas keadaan bangsa, tapi juga tidak perduli apa yang tengah terjadi pada rakyat, dan bagi kaum ini benar dan salah menjadi relatif, tergantung siapa yang dinilai.

Jika pujaannya yang dikritik, sekalipun benar nilainya kinerja ekonominya -5.32%, kaum ini akan membantahnya dengan berbagai sentimen, bukan argumen. Ingat!! Hanya sentimen, bukan argumen.

Sebab jika argumen, pasti ada nilai" intelektual yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiyah melalui  kajian akademis.

Karena hanya  sentimen maka seluruh narasi yang kaum ini sebarkan dalam berbagai media, baik melalui komunitas buzzer maupun influncer, atau pemuja secara perorangan, contennya hanya nyinyiran, caci maki, menyerang  pribadi" para tokoh dan deklalator, kemudian diakhiri dgn berbagai fitnah.

That's it!!, his abilities were just that. Hanya sampai disitu kualitas kaum ini.

Padahal jika mereka mau jujur, pada bulan agustus 2020 ini sudah ratusan datang ke KAMI melalui Rizal Ramli, mereka berharap agar Rizal Ramli dapat membantu perbaikan bangsa ini.

Mereka diantaranya adalah anggota Satgas Nasional Cakra Buana PDIP, berserta beberapa ormas,  para tokoh NU kultural diantaranya adalah KH Yahya Romli dan Gus AAM, cucu dari pendiri NU, tokoh NU ini meminta agar Rizal Ramli menyelamatkan nahdliyyin yang sedang terpuruk.

Telah hadir juga para Purnawiraan TNI yang tergabung dalam Forum Komunikasi Patriot Perduli Bangsa.

Mereka semua ini adalah perwakilan jutaan rakyat yang tidak bisa lagi bersuara, karena parlemen sebagai wakil mereka, sudah menjadi bagian koalisi pembuat masalah.

Sekali lagi, jika KAMU jujur, semua ini menunjukan bahwa bangsa ini sedang bermasalah.

Namun cerita fakta ini ternyata tidak sedikitpun menyentuh nurani kaum yang tergolong dalam KAMU (Kaum Anti Muhasabah), kondisi bangsa tetap dianggap baik-baik saja, rationalitas berpikir tergerus oleh fanatisme intuitif, paham yg meyakini memuja idola itu akan memberikan kebaikan, dibandingkan dgn berpikir rasional.

Ini mirip cerita dukun ponari beberapa tahun lalu, para pemujanya  meyakini, bhw batu yang turun dari langit, yang dimiliki Ponari dapat menyembuhkan berbagai penyakit, maka Ponari pun diberi gelar orang pinter selevel profesor.

Ada beberapa katagori kaum dalam KAMU ini, yang selalu kepanasan dan seperti kebakaran jenggot dengan adanya KAMI ini.

Kaum pertama, para politisi di Parlemen yang bergabung dalam partai koalisi.

Kaum ini merasa gerah dengan hadirnya KAMI, karena mereka sadar telah gagal menjalankan fungsinya sebagai anggota parlemen.

Teori demokrasi Michael G. Roskin, (1939), menyatakan bahwa anggota parlemen adalah Constituency Worker, pekerja untuk para pemilihnya, dan sebagai Critism Government, (pengeritik pemerintah), bukan menjadi bagian dari masalah executive regime.

Kemudian kaum ini membuat narasi nyinyir tentang KAMI, untuk alibi agar kegagalan sebagai wakil rakyat yang tidak amanah tersebut tidak terus diungkap.

Kaum kedua, mereka para politisi dari partai koalisi, tapi tidak duduk diparlemen, mungkin waktu pemilu mereka tidak laku, akhirnya hanya sebagai aktifis partai saja, nyinyir kaum ini kepada KAMI  lebih masif, mungkin kurang kegiatan dipartainya, sehingga tiap hari kerjanya hnya sebagai aktifis membuat narasi nyinyir  dimedsos, pastinya mereka lebih populer dikalangan nitizen sebagai politikus abal-abal.

Kaum ketiga, mereka para politisi jalanan, tidak punya posisi apa-apa, baik di parlemen maupun partai, mereka hanya para pemuja rezim executive maupun legislatif.

Kaum ini ada yang bersifat bisnis, seperti buzzer atau influencer, konon khusus influncer dana rakyat yang dipakai menurut ICW hingga Rp 90,45 miliar.

Sedangkan kaum non bisnis sangat murah meriah, mereka tidak dibayar seperti para pentolannya, tapi mereka militan dlm hal membuat narasi nyinyir dan penghinaan, mereka inilah para relawan rezim yang berkeliaran di berbagai medsos.

Yang menarik dari ketiga kaum ini, dari sisi mutu, tidak ada argumen yang scientifis terhadap kritikan dari KAMI, malah yang ada sentimen unlogical, kesannya yang penting defensif, kalau kepepet atas suatu pertanyaan, tentu Covid menjadi sasaran kambing hitam yang wajib dipersalahkan kaum ini.

Itulah KAMU, kepuasaan kaum ini hanya ketika bisa mencela keberadaan KAMI, bukan berargumen rasional.

KAMU memang beda kelas dengan KAMI. Ayamm.. sorry.[]

Chepy Trisna
Pemerhati politik dan hukum.

Top