Bantahan Sri Mulyani Keliru, Resesi Sudah Terjadi!

Bantahan Sri Mulyani Keliru, Resesi Sudah Terjadi!

KATTA - Tidak perlu membantah RI belum resesi. Yang perlu dilakukan tim ekonomi pemerintah saat ini adalah bekerja bagaimana resesi berhenti di kuartal III dan IV 2020.

Begitu dikatakan pengamat kebijakan publik Achmad Nur Hidayat. Hal itu dia sampaikan menanggapi pernyataan Sri Mulyani yang menyebut Indonesia belum masuk fase resesi.

Sri Mul menyebut resesi sebuah negara diukur dari penurunan ekonomi 2 kuartal berturut-turut yang diukur dari perbandingan year on year (yoy). Sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal 1 2020 adalah 2.97% (yoy) dan kuartal 2 2002, -5.32% (yoy).

Achmad Nur mengatakan membantah Indonesia belum resesi dengan membandingkan resesi harus PDB year on year adalah keliru. Ia menyebut resesi sudah benar-benar terjadi.

"Ada dua fakta resesi terjadi, yaitu pertama fakta resesi teknikal yang diukur dari perbandingan PDB kuartal ke kuartal bahwa sudah terjadi penurunan berturut-turut di kuartal 1 dan 2 2020, dan fakta kedua data yang dirasakan pelaku usaha berupa penjualan eceran, purchasing manager indeks dan indeks ekspektasi ekonomi yang ketiganya menunjukan penurunan bersamaan dalam kuartal pertama dan kuratal kedua," katanya.

Ia mengingatkan Sri Mul soal konsensus dunia yang menyatakan bahwa: Economic recession is a period of time when a nation's GDP declines for at least two consecutive quarters in a quarter-to-quarter comparison. Berdasarkan definisi ini, fakta resesi teknikal yang diukur dari perbandingan PDB kuartal ke kuartal sudah terjadi penurunan berturut-turut di kuartal 1 dan 2 2020.

"Bila membandingkan kuartal ke kuartal maka pertumbuhan ekonomi kuartal 1 2020 adalah -2.41% (qoq) dan kuartal 2 2020 adalah -4.2% (qoq)," kata MadNur, sapaan akrab Nur Achmad Hidayat.

Baca: Faktanya Rakyat Sudah Resesi, Apa Saran Rizal Ramli?

MadNur dalam tulisannya berjudul "Resesi Terjadi, Ini Faktanya! Bantahan Sri Mulyani Keliru", juga mengingatkan Sri Mul definisi resesi terbaru yang dikeluarkan Biro Riset Ekonomi Nasional Amerika Serikat yang dikenal NBER. NBER mendefinisikan resesi bukan soal angka-angka PDB namun adalah penurunan ekonomi yang dirasakan masyarakat secara luas dalam beberapa waktu tertentu. Ukuran yang dimaksud adalah pendapatan riil, ketersediaan lapangan pekerjaan, produksi industri dan penjualan grosir-eceran.

Achmad Nur menyebut beberapa indikator dini permintaan domestik menunjukkan pelemahan seperti tercermin pada penjualan ritel, Purchasing Manager Index, ekspektasi konsumen, dan berbagai indikator domestik lain.

Data penjualan eceran mengalami penurunan -17.4% per Juni 2020. Penurunan tajam penjualan eceran terjadi sejak Januari 2020 sampai April 2020 seiring dengan perberlakuan PSBB. Bahkan penjualan eceran masih terlihat landai meski sudah relaksasi PSBB, akhir Juli 2020. Antara lain penurunan sandang (-73.1% yoy), peralatan informasi dan komunikasi (-21.1% yoy), penurunan perlengkapan rumah tangga lainnya turun -18.6%, makanan minuman dan tembakau turun -6.9%.

Optimisme pelaku usaha yang tercermin pada purchasing manager index jauh di bawah rata-ratanya 50. Akhir Juni 2020 tercatat PMI 39.1%. Penurunan tajam terjadi sejak Februari 2020 seiring dengan pemberlakuan PSBB.

Ekspektasi pelaku ekonomi juga terlihat rendah. Data Indeks ekspektasi ekonomi dari Bank Indonesia dan Danareksa menunjukan hal yang sama. Penurunan terjadi sejak kuartal 1 dan kuartal 2 tahun 2020.

"Melihat data-data penjualan eceran, optimisme pelaku usaha dan ekspektasi pelaku ekonomi berdasarkan definisi NBER, jelas sekali bahwa resesi ekonomi di Indonesia sudah nyata dirasakan publik," kata Achmad Nur.

Atas fakta tersebut, mestinya kata Achmad Nur dalam tulisannya, pengambil kebijakan menjadikan momentum ini untuk kontemplasi diri karena keterlambatan daya serap belanja pemerintah merupakan salah satu penyebab resesi terjadi. Pemerintah harus evaluasi kemampuan daya serapnya karena selama kuartal pertama dan kedua belanja negara sangat kecil dan di bawah ekspektasi.

Bagaimana menghentikan resesi di kuartal III dan IV 2020? Caranya menurut dia, dengan mempercepat belanja fiskal, penurunan lebih cepat dari suku bunga Bank plat merah BUMN dan memperbesar bantuan sosial tunai kepada mereka yang membutuhkan.

"Pemulihan Ekonomi Nasional jangan lagi wacana, publik menunggu efektivitas PEN yang dibuktika dari pertumbuhan ekonomi kuartal III yang tidak negatif," demikian kata Achmad Nur Hidayat.[]

Top