Polda Kepri Tak Promoter

Coret Calon Taruni Positif Covid-19 Tanpa Bukti Medis

Coret Calon Taruni Positif Covid-19 Tanpa Bukti Medis
Neta S Pane/Net

KATTA - Ind Police Watch (IPW) meminta Polri transparan terkait seleksi taruna maupun taruni yang diterima untuk menempuh pendidikan. Permintaan itu disampaikan menyusul keluhan seorang calon taruna Akpol yang tereliminasi karena dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19.
 
"Agar kasus ini transparan Polri harus mengusut bahkan bisa lakukan test swab Covid 19 apakah benar yang bersangkutan positif Covid-19,"  kata Ketua Presidium IPW Neta S Pane kepada KATTA, Minggu 9 Agustus 2020.

Informasi tereleminasinya calon taruna Akpol viral di media sosial. Informasi tersebut diunggah ke media sosial oleh akun Twitter bernama @siap_abangjagoo. Akun tersebut mengaku sebagai calon taruna Akpol peringkat satu di Kepulauan Riau. Namun dirinya gagal melanjutkan pendidikan karena positif terjangkit Covid-19.

Neta mengatakan berbagai keluhan memang kerap bermunculan di setiap penerimaan Akpol mulai dari isu dugaan membayar hingga lainnya. Menurut dia munculnya berbagai keluhan di setiap penerimaan Akpol menunjukkan adanya masalah serius dalam proses rekrutmen meski Polri selalu mengatakan proses penerimaan sudah transparan.

Terkait kasus calon taruni asal Kepri, Neta menilai ada yang aneh yang belum diungkapkan polri secara transparan. Dari ciutannya di Twitter, sang calon Akpol mengaku didatangi pihak Polda yang menjelaskan dirinya tidak bisa ikut ke tingkat pusat karena positif Covid-19. Tapi, pihak Polda tidak memberikan surat atau bukti-bukti medis. Sementara hasil sweb yang dilakukan yang bersangkutan hasilnya negatif.

"Jadi ada masalah disini. Hal inilah yang harus diusut mabes polri, kenapa pihak Polda Kepri ceroboh dan tidak transparan sejak awal. Mabes polri jangan cuci tangan dengan mengatakan, jika ada masalah calon Taruni itu seharusnya mengadu ke Propam," ungkap Neta.

Masalah utamanya kata Neta bukanlah persoalan mengadu ke Propam atau tidak. Melainkan sistem dan sikap Polda yang  tidak promoter harus dipermasalahkan dan diusut mabes Polri. Terutama soal kedatangan pihak Polda ke rumah calon Taruni tanpa membawa data valid dan konkrit.

"Inilah sumber masalahnya yang harus diusut mabes Polri. Kenapa pembatalan keberangkatan calon Taruni itu ke tingkat pusat tidak dilakukan secara promoter. Karena calon Taruni itu merasa tidak ada lagi tempat mengadu yang bisa dipercaya, dia pun mengadu ke publik lewat Twitter dan itu sah karena polri adalah lembaga publik yang memang harus dikontrol publik jika ada dugaan kecurangan di dalamnya rekrutmen calon taruni," beber Neta.

Dalam untaian curhatnya di Twitter, akun @siap_abangjagoo mengatakan dirinya adalah peringkat satu se-Provinsi Kepri.

"Jadi, kemarin itu aku daftar ikut seleksi Akpol, masih seleksi daerah sih. Tapi, Alhamdulillah aku ranking 1 se-provinsi, udah sampai sidang akhir," kicau akun tersebut.

Dengan raihan peringkat satu se-Provinsi Kepri, tahap selanjutanya calon taruni tersebut akan melanjutkan seleksi ke tingkat pusat.

Seleksi tingkat pusat dilaksanakan di Semarang, Jawa Tengah. Akhirnya, wanita yang tak disebutkan namanya itu bersiap-siap untuk berangkat menuju Semarang.

Karena pandemi virus Corona, ia harus mengikuti serangkaian tes Covid-19 untuk memastikan dirinya terbebas dari virus tersebut.

"Aku udah prepare buat berangkat ke Semarang, udah rapid sendiri tgl 31 Juli biar ga mepet disuru rapid tiba tiba sebelum kesana, udah tidur nyenyak begitu la pokoknya," curhatnya.

Dia bercerita mempersiapkan diri untuk mengikuti tes di tingkat pusat, termasuk melakukan rapid test Corona. Dalam utas yang dibuatnya, dia menampilkan rapid test yang dilakukannya menunjukkan hasil negatif COVID-19.

Dalam foto hasil rapid test, terlihat rumah sakit tersebut memiliki kode area telepon 0778, yang merupakan kode telepon untuk daerah Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri).

Pada cuitan selanjutnya, dia mengunggah sebuah video saat pihak kepolisian datang ke rumahnya menyampaikan bahwa dia positif COVID-19, sehingga tak bisa ikut seleksi. Dia pun gugur di seleksi Akpol di tingkat pusat.

"Terus, sorenya dtg orang dari Polda ke rumahku. Ngasi kabar kalau aku dinyatakan positif covid, tapi ngga ada bukti tertulis resmi kalau aku emang beneran positif covid. Yaudah, intinya gabisa berangkat aja gitu alias gugur," cuitnya.

Tak terima dengan vonis tersebut, dia lalu melakukan swab test mandiri. Berdasarkan hasil swab test di klinik, dia dinyatakan negatif COVID-19. Selain itu, dia rontgen paru-paru dan melakukan rapid metode Eclia.[]

Top