Faktanya Rakyat Sudah Resesi, Apa Saran Rizal Ramli?

Faktanya Rakyat Sudah Resesi, Apa Saran Rizal Ramli?
Rizal Ramli/Net

KATTA - Tim ekonomi pemerintah menyebut Indonesia belum masuk tahap resesi meski produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 minus 5,32%. Ekonom senior Rizal Ramli punya pandangan berbeda.

"Dalam bahasa sederhana, kalau rakyat menengah ke bawah kebanyakan sudah resesi dari beberapa bulan yang lalu," kata Rizal Ramli di Jakarta, kemarin. "Resesi sudah terjadi dan akan terjadi. Yang belum resesi hanya pejabat saja," ujarnya.

Rizal menyinggung soal rendahnya daya beli masyarakat. Ia juga menyinggung rendahnya pertumbuhan kredit pada kuartal I-2020 yang hanya 4% padahal jika ekonomi mau tumbuh 6% pertumbuhan kredit harus 15-16%.

RR, demikian Rizal Ramli disapa, mengatakan kemerosotan ekonomi yang terjadi saat ini gejalanya sudah dia ungkap 1,5 tahun lalu. "Tapi seperti biasa dibantah-bantah oleh tim ekonomi pemerintah dengan angka-angka yang tidak benar. Dan nyatanya sekarang terjadi," kata mantan anggota tim panel penasihat ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini.

Rizal menyebut kemerosotan ekonomi kian dalam ditambah Covid-19 atau Corona. Ia memperkirakan kedepan ekonomi akan tambah merosot terutama karena belum ada tanda-tanda Corona akan melandai.

"Pertumbuhan ekonomi pada kuartal III juga akan negatif," ucap RR yang dijuluki "Sang Penerobos" karena ide-idenya yang tidak konvensional namun tepat sasaran dan berpihak pada kepentingan rakyat.

Rizal yang saat menjadi Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan era Pemerintahan Gus Dur sukses menyulap pertumbuhan ekonomi dari minus 3% saat ditinggalkan Habibie tumbuh hingga 4,9% dalam waktu 18 bulan, menyinggung soal kebijakan ekonomi pemerintah Jokowi. Menurutnya kebijakan ekonomi yang dibuat tidak efektif.

"Kalau dengar sih kelihatan manis tapi saya selalu melihat apa yang terjadi di lapangan terutama golongan menengah bawah. (Pandemi Corona) kan sudah 4 bulan sejak Maret, nyaris tidak ada kebijakan yang betul-betul dirasakan manfaatnya oleh golongan menengah bawah," ucap Rizal.

Misalnya terkait kebijakan stimulus. Paket stimulus diberikan kepada perusahaan-perusahaan atau korporasi besar padahal saat ini rata-rata kapasitas produksi hanya 40%.

"(Perusahaan) dikasih stimulus memang mau naikan produksi? Rugi dia karena tidak ada permintaan. Membantu yang besar-besar hari ini dengan stimulus tidak ada dampaknya. Buntutnya (stimulus mereka) gunakan membeli emas, dipakai untuk spekulasi mata uang atau membeli aset-aset (tanah dan bangunan) yang saat ini harganya sudah rendah," tutur Rizal.

Rizal menyarankan dua strategi yang perlu dijalankan pemerintah Jokowi. Pertama menciptakan permintaan. Dalam situasi krisis, katanya, prioritas kebijakan harus menyasar rakyat golongan menengah ke bawah.

"Kuncinya permintaan dulu dipompa, terutama (permintaan) dari golongan menengah ke bawah. Karena kalau ada uang mereka pasti belanjakan karena marginal propensity to consume-nya 99%. Kalau ini yang dilakukan baru ada permintaan, ada demand," tutur Rizal.

Kemudian fokus pada sektor pangan. Menurut tokoh berjuluk "Rajawali Ngepret" ini, sektor pertanian mempunyai nilai ekonomi yang dapat membuat Indonesia bertahan dari krisis, termasuk krisis yang ditimbulkan oleh pandemi Corona.

"Dari dulu yang positif kan pertanian. Kami sudah sampaikan dalam kondisi krisis seperti ini pertanian bisa jadi dewa penyelamat. Oleh karena itu kita harus genjot pertanian. Selain karena resiko Coronanya juga sedikit, kalau pangan bagus rakyat pikirannya tenang," demikian kata Rizal Ramli.

Diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal II-2020 minus 5,32%. Meski begitu Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan Indonesia masih belum memasuki fase resesi.

Menurut Sri Mul, sebuah negara baru dapat dikatakan masuk ke fase resesi apabila realisasi pertumbuhan ekonomi secara tahunan atau year on year (yoy) terkontraksi selama dua kuartal berturut-turut.

"Biasanya dalam melihat resesi itu, dilihat year on year untuk dua kuartal berturut-turut. Tidak menggunakan Q to Q," katanya dalam konferensi pers virtual, Rabu 5 Agustus 2020.

Dengan teori tersebut, menurut Sri Mul, Indonesia belum dapat dikatakan masuk ke fase resesi. Pasalnya, jika dilihat secara tahunan, realisasi pertumbuhan ekonomi RI baru terkontraksi satu kali tahun ini. Pada kuartal I-2020, realisasi pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 2,97 persen (yoy).[]

Top