MAKI Serahkan Bukti Tambahan

Jaksa Pinangki Segera Jadi Tersangka Gratifikasi?

Jaksa Pinangki Segera Jadi Tersangka Gratifikasi?
Boyamin Saiman/Net

KATTA - Jaksa Pinangki Sirna Malasari sepertinya akan segera ditetapkan menjadi tersangka dugaan penerima gratifikasi.

Itu lantaran penyidik Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus) Kejaksaan Agung (Kejagung) telah mengantongi bukti tambahan.

Bukti terbaru itu didapat jaksa penyidik dari Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI). Bukti itu berupa dokumen perjalanan Pinangki ke Malaysia.

"Ini dalam rangka menambah (bukti gratifikasi)," kata Koordinator MAKI Boyamin Saiman di Gedung Kejagung, Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2020. "Tadi bertemu tim penyidiknya untuk memastikan data yang belum ada," ujarnya.

Pinangki dua kali terbang ke Malaysia, yakni tanggal 12 dan 25 November 2019. Keduanya dalam rangka bertemu terpidana kasus hak tagih Bank Bali Djoko Soegiarto Tjandra (Djoktjan). Padahal, saat itu status Djoktjan adalah buronan kelas kakap Kejagung.

"Pertama, berkaitan dengan data penerbangan ke Malaysia, itu saya memasukkan yang data temuan tiket terutama tanggal 12 (November 2019). Kalau tanggal 25 (November 2019), sudah ada," ujar Boyamin.

Pada tanggal 12 November, Pinangki terbang ke Malaysia menemui Djoktjan ditemani seorang pria berkepala plontos. Adapun pada 25 November, Pinangki berangkat dari Jakarta ke Malaysia bersama dengan pengacara Djoktjan, Anita Kolopaking.

"Temuan saya itu adalah diduga oknum jaksa ini (Pinangki) justru membiayai tiketnya Anita. Nah dari pengertian itu, itu dugaan gratifikasi karena dia dapat yang lebih lagi, ada penyerahan uang," kata Boyamin.

Informasi yang berkembang, uang yang diserahterimakan tersebut sebesar 500 ribu dollar Singapura atau setara 5 miliar rupiah. Uang dari Djoktjan itu dibagi-bagikan antara lain 50 dolar Singapura diterima Anita. Terkait ini, Boyamin enggan membuka data yang dipegannya.

"Saya tidak bisa buka nilainya berapa, kira-kira akomodasi hotel segala macam," pungkas Boyamin.

Jaksa Pinangki ramai dibicarakan setelah fotonya bersama Djoktjan beredar. Dia diduga terlibat dalam pengajuan Peninjauan Kembali (PK) buron Kejagung 11 tahun tersebut.

Kejagung telah memberikan sanksi kepada Pinangki berupa pencopotan dari jabatan struktural sebagai kepala Subbagian Pemantauan dan Evaluasi II Biro Perencanaan Jaksa Agung Muda Pembinaan, lantaran terbukti bepergian sembilan kali ke luar negeri tanpa sepengetahuan atasan.[]

Top