Sayang Banget, Sektor Potensial Tak Direspon Kebijakan Memadai

Sayang Banget, Sektor Potensial Tak Direspon Kebijakan Memadai
Didik J Rachbini/Net

KATTA - Corona atau Covid-19 benar-benar ganas. Virus yang pertama kali muncul di Cina akhir tahun lalu itu membuat pertumbuhan ekonomi RI menukik semakin kritis. Meski begitu, sebenarnya, peluang menggenjot ekonomi bisa dilakukan dalam beberapa sektor.

 

"Krisis ini pada dasarnya adalah masalah yang cukup berat sekaligus peluang yang luar biasa bagi yang berdaya pikir dalam dan panjang ke depan. Masalahnya tidak dapat dihindari oleh pemerintah, tetapi peluangnya dibiarkan begitu saja dan tidak dikembangkan," kata ekonom senior Didik J Rachbini, Rabu 5 Agustus 2020.

Ia mengatakan wabah Corona merupakan kenyataan yang tidak bisa dihindari. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi RI tercatat tumbuh negatif 5,32% di kuartal II-2020. Namun Didik melihat peluang ekonomi di sejumlah sektor tidak diperhatikan. Terhadap sektor-sektor potensial ini respons kebijakan pemerintah sangat tidak memadai.

Pendiri Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) ini mencontohkan, sektor transportasi, jasa pergudangan, akomodasi, makanan minuman dan jasa-jasa lainnya terkena dampak paling parah sehingga tumbuh -15-22%. Tetapi peluang pertumbuhan pesat pada sektor informasi dan komunikasi (infokom) tidak diperhatikan sehingga hanya tumbuh  3,44%. Padahal peluang pertumbuhan sektor ini luar biasa besar karena hampir keseluruhan yang tidak bisa dilakukan dengan transportasi digantikan oleh sektor ini.

"Mengapa sektor ini secara keseluruhan hanya tumbuh 3,44%?  Jawabannya karena kebijakan diam di tempat, miskin ide dan inovasi. Karena tuna kebijakan, sektor ini tumbuh sangat rendah, tumbuh seadanya seperti sekarang. Ingat bahwa tingkat elektrifikasi kita sudah di atas 90% yang artinya siap menjadi penopang sektor infokom," tambahnya.

Lebih lanjut Didik mengatakan krisis ini adalah peluang bagi "sektor drakula" penghisap devisa, yaitu sektor kesehatan. Kebutuhan sektor kesehatan hampir mutlak didatangkan dari luar negeri, sektor pengimpor mutlak dari negara lain, yang juga ditingkahi setan monopoli dan rente yang luar biasa.

"Sektor ini adalah sektor neraka bagi ekonomi karena menghisap devisa, melemahkan rupiah, menggerus perolehan ekspor, dan memelihara hutan rente ekonomi, yang menyakitkan. Jadi, krisis ini adalah peluang untuk merontokkan  drakula dan setan rente yang menyebabkan biaya kesehatan dan harga obat mahal," jelasnya.

Selain sektor kesehatan, peluang krisis saat ini ada pada sektor pendidikan. Hampir tidak pernah mendapat hambatan dalam mengajar, menguji, dan praktek. Kuncinya adalah mekanisme pendidikan normal baru secara daring.

"Tetapi pendidikan di kota dan Jakarta berbeda dengan pendidikan di desa dan luar Jawa yang macet karena tidak ada jaringan internet. Jaringan internet tidak ada karena pemerintah kurang daya pikir padahal di sini peluang itu ada," demikian kata Didik J Rachbini.[]

Top