Negara Butuh Figur Breakthrough

Negara Butuh Figur Breakthrough
Rizal Rami/Ist

SINGAPURA dinyatakan masuk jurang resesi usai minus selama dua kuartal secara beruntun. Pada kuartal I-2020 ekonomi Singapura tercatat minus 3,3 persen. Kemudian pada kuartal II-2020 terperosok hingga minus 41,2 persen. Secara tahunan ekonomi Singapura mengalami konstraksi hingga 12,6 persen.

Kemelut ekonomi juga melanda Thailand. Menteri Keuangan Thailand Uttama Savanayana beserta tim ekonomi, kompak mengundurkan diri pada Kamis (16/7). Tidak sampai di situ, pada Sabtu (18/7), Bangkok juga diguncang demonstrasi besar-besaran yang menuntut pengunduran diri pemerintahan dan pembubaran parlemen. Demonstrasi tersebut merupakan yang terbesar sejak kudeta militer 2014.

Bahkan, Thailand diramal akan segera masuk jurang resesi menyusul Singapura. Sektor Pariwitasa dan sektor lainnya yang merupakan penopang perekonomian telah tergerus secara signifikan oleh Covid-19. Ekonomi Thailand pada kuartal I-2020 mencetak minus 2,2 persen dan pada kuartal II-2020 juga diperkirakan kembali minus 2,2 persen.

Kondisi yang terjadi baik di Singapura dan Thailand bukan tidak mungkin akan segera menular ke Indonesia. Perlu diingat bahwa krisis multidimensi yang melanda Indonesia pada 1997/1998 merupakan imbas dari krisis yang terjadi Thailand. Dimulai dari krisis moneter, kemudian melebar ke krisis ekonomi dan akhirnya menghujam ke krisis politik. Presiden Soeharto yang sudah bertahta selama 32 tahun (1966-1998), dipaksa turun tahta oleh gerakan mahasiswa.

Peristiwa yang terjadi pada 22 tahun silam harus diwaspadai. Berawal dari krisis mata uang di Thailand kemudian menjalar ke Indonesia. Sejatinya saat ini kondisi perekonomian Indonesia tidak jauh berbeda dengan Thailand. Bahkan sebelum adanya Pandemi Covid-19, perekonomi Indonesia juga sudah menyala kuning. Pada kuartal IV-2019, pertumbuhan ekonomi turun menjadi 4,97 persen secara tahunan.

Memasuki 2020 ekonomi Indonesia makin melambat. Apalagi sejak awal Maret 2020 ditemukan kasus positif Covid-19. BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2020 turun tajam menjadi 2,97 persen. Capaian tersebut merupakan yang terendah sejak 2001 (yakni saat pemerintahan Gus Dur) dimana pada kuartal I-2001 pertumbuhan ekonomi mencapai 3,87 persen, setelah anjlok terdalam pada minus 13,13 persen pada 1998.

Saat ini BPS sedang menghitung pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2020. Namun sejumlah pihak memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2020 akan semakin memburuk. Bappenas memproyeksikan minus 6 persen, BPS minus 4,8 persen, BI minus 4 persen, dan CORE antara minus 4 persen sampai dengan minus 5 persen, sedangkan Kementerian Keuangan memproyeksikan minus 4,3 persen.

Pertumbuhan ekonomi yang suram, sejatinya merupakan potret kesuraman pada berbagai indikator. Defisit APBN 2020 melonjak hingga 6,34 persen atau Rp. 1.039,2 triliun. Total kebutuhan utang untuk menambal APBN 2020 mencapai Rp. 1.647,1 triliun. Jumlah utang pemerintah menurut dokumen APBN KITA edisi Juni 2020 mencapai Rp. 5.258,57 triliun.

Bappenas memproyeksikan pada 2020 jumlah orang miskin meningkat hingga 4 juta orang, dari 24,79 juta orang melonjak menjadi 28,7 juta. Dan, jumlah tingkat pengangguran terbuka juga meningkat 4 juta hingga 5,5 juta orang, sehingga total pengangguran terbuka mencapai rentang 10,7 juta hingga 12,7 juta orang.

Kesulitan ekonomi sudah di depan mata, Indonesia butuh sosok breakthrough untuk mengatasinya agar tidak terjadi krisis sebagaimana yang terjadi pada 1997/1998. Pada saat itu Indonesia mengalami keterpurukan ekonomi paling dalam sepanjang sejarah yaitu minus 13,13 persen.

Namun keterpurukan tersebut secara cepat dapat diperbaiki hingga kembali mencetak pertumbuhan positif. Tahun 1999 pertumbuhan ekonomi melaju sebanyak 0,79 persen. Tahun 2000 meningkat ke 4,92 persen. Dan pada 2001 masih melaju 3,64 persen.

Capaian pertumbuhan ekonomi dari 1999 hingga 2001 bisa dibilang sangat fantastis. Era transisi yang masih dipenuhi gejolak politik ternyata mampu mencetak pertumbuhan ekonomi yang membanggakan.

Saat itu adalah masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid dengan tim ekonomi yang dikomandoi Dr. Rizal Ramli. Sebagai nahkoda ekonomi, Rizal Ramli mampu menggerakkan dengan kencang kapal perekonomian di tengah gelombang politik yang ingin menumbangkan Gus Dur.

Itulah masa-masa yang menentukan, pertumbuhan ekonomi terjaga stabil hingga mengantarkan pada kestabilan ekonomi untuk masa 20 tahun.

Sayang, setelah 20 tahun, masa kestabilan terganggu oleh pertumbuhan ekonomi yang mulai menukik ke bawah. Sejumlah korporasi dilaporkan banyak yang mulai limbung. Beberapa BUMN juga harus disuntik PMN agar tidak terjerumus pada lubang kebangkrutan.

Menghadapi berbagai problem yang ada saat ini, tidak berlebihan bila negara memanggil kembali Rizal Ramli. Rekam jejak Rizal Ramli sebagai sosok breakthrough tidak perlu diragukan lagi.

Saat menjadi menteri ekonomi/keuangan di era Gus Dur, Rizal Ramli berhasil menaikan pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Sebelum kabinet Gus Dur terbentuk pada kuartal 3 tahun 1999 pertumbuhan ekonomi Indonesia -1,7 persen. Di tangan Rizal Ramli pertumbuhan ekonomi mampu digenjot hingga 6,6 persen menjadi 4,9 persen.

Rizal Ramli sukses melakukan turn around dalam bidang makro ekonomi. Indikator ketahanan eksternal makro ekonomi, yaitu transaksi berjalan (current account) selama era Gus Dur surplus rata-rata 5 persen dari PDB. Tax ratio rata-rata di kisaran 12,7 persen.

Selain dikenal ahli ekonomi makro, Rizal Ramli juga sudah teruji di bidang korporasi. Tangan dinginnya terbukti mampu menghadirkan perubahan besar.

Saat menjadi menteri ekonomi/keuangan di era Gus Dur, Rizal Ramli behasil menyelamatkan PLN dan IPTN/PTDI dari kebangkrutan, menyelamatkan BII dari rush tanpa bailout satu rupiah pun.

Saat menjadi Kepala Bulog, Rizal Ramli memperbaiki institus tersebut dan berhasil membuat Bulog mencatatkan keuntungan Rp 5 trilun.

Saat menjadi Presiden Komisaris Semen Gresik, keuntungan penjualan grup ditingkatkan berkali kali lipat. Saat menjadi komisaris BNI, Rizal Ramli membuat BNI hampir menyalip BCA.

Itu hanya beberapa prestasi Rizal Ramli. Masih banyak yang lainnya. Tapi sederhananya, kolaborasi keahlian di bidang ekonomi makro dan korporasi tentu akan menjadikan sentuhan Rizal Ramli lebih bertaji memperbaiki keterpurukan ekonomi. Cara-cara konvensional yang malah melahirkan skandal ekonomi dan keuangan bukan lagi jawaban. Situasi saat ini benar-benar butuh kehadiran sosok breakthrough Rizal Ramli.[]

*Penulis adalah alumnus Ekonomi Islam UIN Syarif Hidayatullah.

Top