Bantuan Likuiditas Lewat Himbara

RR: Mohon Maaf, Ini Strategi Sangat-sangat Berbahaya

RR: Mohon Maaf, Ini Strategi Sangat-sangat Berbahaya
Rizal Ramli/Net

KATTA - Para bank milik negara atau Himbara ditunjuk pemerintah untuk menyalurkan bantuan likuiditas. Hal itu justru dinilai strategi salah dan malah bisa memicu masalah baru yang lebih besar.

"Dikasih ke bank-bank pemerintah, Himbara, 30 triliun dengan harapan bank Himbara ini bisa jadi payung yang melindungi bank-bank kecil yang bermasalah, bank buku 1, 2, 3. Mohon maaf, sekali lagi saya mohon maaf, strategi ini sangat sangat berbahaya. Bank bagus digondoli bank bermasalah, nasabahnya kabur malah, takut. Iya kan?" kata ekonom senior Rizal Ramli dalam program Ngopi (Ngobrol Perkembangan Indonesia) Bareng RR, Jumat 17 Juli 2020.

RR, demikian Rizal Ramli disapa, mengingatkan apa yang terjadi pada tahun 1998. Ada 16 bank kecil bermasalah kemudian ditutup oleh Menteri Keuangan Marie Muhammad atas saran International Monetary Fund (IMF).

"Begitu ditutup rakyat kita panik, ambil uang ramai-ramai dari bank, tidak percaya bank, terjadi rush. Bayangin total akhirnya 60 bank kolaps. BCA yang gede rontok, apalagi orang tahu ini banknya Soeharto, pasti kalau Soeharto jatuh nggak ada duit, mereka ambil semua dananya. Apalagi bank-bank lainnya," tutur mantan penasihat ekonomi Perserikatan Bangsa Bangsa itu.

Untuk itu, ekonom yang saat menjadi Menko Ekuin era Pemerintahan Gus Dur berhasil menggenjot pertumbuhan ekonomi tumbuh 4,9 persen di tahun 2000 dari minus 3 saat ditinggalkan Habibie ini meminta Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mempertimbangkan matang soal pencegahan dan penanganan krisis sistem keuangan yang bisa muncul akibat kebijakan tersebut.

"Jadi mohon maaf saya ingin sampaikan kepada KSSK hati-hati dengan kebijakan ini. Jangan bank yang sudah bagus ditongkrongin bank masalah. Nasabah tidak percaya. Contoh Bank Bukopin (yang saat ini bermasalah) ditempelin bank Himbara tadi. Dia (nasabah) tahu ngambil duit di Bukopin tidak ada duitnya, tiba-tiba ambil ramai-ramai ke bank BUMN ini. Kalau ambilnya ramai-ramai kan tidak ada duitnya hari itu. Akhirnya terjadi rumor macam-macam, bisa kolaps seperti 98," demikian kata Rizal Ramli.[]

Top