Dicecar Kenapa Prioritaskan SNI HTP, Komtek Tembakau Saling Lempar

Dicecar Kenapa Prioritaskan SNI HTP, Komtek Tembakau Saling Lempar
Foto/net

KATTA - Kementerian Perindustrian kedapatan lebih memprioritaskan pembahasan SNI produk tembakau yang dipanaskan (HTP). Padahal, produk itu masih terbilang baru dengan jumlah konsumen yang jauh lebih sedikit dibandingkan vape. 

Saat hal tersebut ditanyakan kepada sejumlah anggota Komisi Teknis (Komtek) Tembakau, mereka memilih saling lempar. Komtek ini yang terlibat dalam perumusan Standar Nasional Indonesia (SNI). 
Nilawaty dari PT STTC meminta mengonfirmasi ke pihak lain saat ditanya soal itu. 

"Mohon maaf. Mungkin bisa dikonfirmasi hal ini ke personel yang lebih memahami," ujarnya saat dikontak, Selasa (7/7).

Sementara itu Sekjen Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) Willem Petrus Rewu, beralasan pembahasan SNI HTP didahulukan karena tidak serumit membahas SNI vape. 

"Jadi tahun 2021 baru akan bahas vape. Gitu. Prinsipnya semua produk harus punya SNI," ujarnya saat dikontak, Selasa (7/7). 

Namun demikian saat dicecar lebih jauh, ia pun meminta wartawan menanyakannya kepada Kepala Subdirektorat Program Pengembangan Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Mogadishu Djati Ertanto. Mogi, sapaan akrab Mogadishu, juga menjabat Wakil Ketua Komtek. 

"Tanya Pak Mogi saja, lebih kompeten," ujarnya. 

Saat mencoba mengonfirmasi ke Mogi, lagi-lagi wartawan "dilempar". Dia meminta wartawan menanyakan kepada Direktur Industri, Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kemenperin Supriadi, yang menjabat Ketua Komtek. 

"Kontak ke Pak Dir Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar saja," tutur Mogi. 

Supriadi sendiri berdalih keterbatasan waktu sebagai alasan untuk mendahulukan SNI bagi produk HTP.

"Dengan pertimbangan masalah waktu, kondisi nasional dan global pandemi Covid-19, ketersediaan sumber daya, karakteristik industri, karakteristik produk, dan kondisi industri di dalam negeri, pada 2020 ini baru akan disusun RSNI produk HTP, sementara rokok elektrik direncanakan pada 2021,” ungkap Supriadi.

Sebagai informasi, produk rokok elektrik memiliki banyak jenis, tetapi yang baru dipasarkan secara massal di Indonesia adalah vape, sementara produk HTP masih diedarkan dalam jumlah terbatas. Urgensi pembahasan SNI HTP, oleh karenanya, mengundang banyak pertanyaan. Langkah pemerintah yang lebih berpihak kepada kepentingan pengguna mayoritas sangat diharapkan. []

Top