Dua Prediksi Rizal Ramli yang Terbukti Benar: Utang PLN Membengkak dan Rupiah Kembali Melemah

Dua Prediksi Rizal Ramli yang Terbukti Benar: Utang PLN Membengkak dan Rupiah Kembali Melemah
Ekonom senior, Rizal Ramli

KATTA - Permasalahan utang membengkak yang dialami PT PLN ternyata sudah pernah diprediksi oleh Rizal Ramli saat masih menjabat sebagai Menko Maritim dan Investasi di Kabinet Jokowi periode pertama. Kala itu, mantan Anggota Tim Panel Ekonomi PBB tersebut  langsung melancarkan kritik keras pada proyek kelistrikan 35 ribu megawatt (MW).

Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini-pun mengakui bahwa utang PT PLN (Persero) yang semakin membesar  dalam lima tahun terakhir hingga mencapai Rp 500 triliun digunakan untuk pembangunan infrastruktur kelistrikan. Salah satunya adalah pengerjaan proyek 35.000 MW. 

Zulkifli mengungkapkan, PT PLN melakukan utang karena tidak memiliki pendapatan yang cukup, sehingga membengkak setiap tahunnya.

"Lima tahun terakhir ini PLN membiayai investasinya itu dengan utang. Sehingga lima tahun yang lalu utang PLN secara minimal nggak sampai Rp 50 triliun. Tapi karena utang tiap tahun Rp 100 triliun Rp 100 triliun, ya maka utang PLN di 2019 kemarin mendekati Rp 500 triliun," kata Zulkifli dalam rapat dengar pendapat (RDP) di Komisi VI DPR RI, Kamis, (25/06/2020).

Saat utang PT PLN belum mencapai Rp 50 triliun pada 2014, Rizal Ramli sudah mengingatkan pemerintah untuk tidak melanjutkan mega proyek listrik 35 ribu megawatt (MW). Alih-alih, Rizal Ramli malah mendapat serangan dari Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri BUMN Rini Soemarno, dan Menteri ESDM Sudirman Said. 

Mereka kompak mengatakan bahwa Rizal Ramli tidak tahu apa-apa dan bukan menteri yang seharusnya urus masalah PLN. 

"Media mainstream TV, Koran dan media online ikut "menyerang" RR sebagai Menteri tukang heboh. Lucunya Presiden Jokowi yang "membujuk' RR menjadi Menko malah "tidak berani" membela RR dari serangan tersebut,” kenang Rizal Ramli. 

Kini, ibarat nasi sudah jadi bubur. Negara terlilit utang yang sedemikian besar, hampir seperempat APBN. Potensi gagal bayar bisa merontokkan negeri ini.

"Lalu siapa yang diminta pertanggungjawaban? Padahal sudah diingatkan oleh RR sewaktu menjabat Menko,” tegas Rizal Ramli.

Rupiah Kembali Melemah

Forecast Rizal Ramli tidak berhenti pada permasalahan utang saja. Pendiri lembaga think thank Econit itu juga sempat memberikan analisa soal kondisi perekonomian Indonesia, salah satunya soal penguatan nilai tukar rupiah di tengah tekanan ekonomi dalam negeri. Rizal mengatakan salah satu faktornya adalah karena Amerika Serikat (AS) sedang mencetak banyak uang karena memberikan stimulus ekonomi nasional hingga US$ 2 triliun.

Menurutnya hal ini membuat mata uang negara lain seperti Indonesia mengalami penguatan yang semu. 

"Semua indikator makro ekonomi ini negatif, tapi kok rupiah stabil? Menurut saya ini terjadi karena dua hal, satu di Amerika sana mereka sedang nyetak uang besar sekali. Stimulus terakhir di sana US$ 2 triliun, akibatnya mata uang dollar anjlok, mata uang lain jadi kuat. Ini stabilitas semu," ujar Rizal dalam diskusi publik The Magnificent Seven yang disiarkan di YouTube, Senin (29/6/2020).

Teryata benar saja, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami terjun bebas, pada Jum’at (3/7/2020). Diketahui, mata uang rupiah ditutup melemah 145 poin atau 1,01 persen menjadi Rp 14.523 per dolar AS dari sebelumnya Rp 14.378 per dolar AS. 

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Jumat menunjukkan rupiah melemah menjadi Rp 14.566 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp 14.516 per dolar AS.

Top