Biaya Surat Utang Era Jokowi: Terbesar Dalam Sejarah dan Kemahalan

Biaya Surat Utang Era Jokowi: Terbesar Dalam Sejarah dan Kemahalan
Jokowi/Net

PENERBITAN surat utang dimulai pada era Habibie, dan semakin masif digunakan sebagai sumber pembiayaan pada era SBY dan Jokowi.

Tabel di bawah menggambarkan struktur surat utang: tenor, pokok, dan biaya bunganya, yang diterbitkan era Habibie hingga era Jokowi.

Sumber perhitungan berasal dari dokumen Outstanding SBN tahun 2002 hingga tahun 2020, yang diterbitkan oleh DJPPR Kementerian Keuangan. Simbol (T) berarti "tradable" atau dapat diperdagangkan, sedangkan (NT) berarti "non-tradable" atau tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder.


Dapat dilihat dari tabel, pemerintahan Gus Dur adalah yang paling sedikit menerbitkan surat utang, hanya Rp 24,6 triliun dengan menghasilkan bunga (majemuk) Rp 17,6 triliun (71 persen dari pokok). Sedangkan pemerintahan yang paling banyak menerbitkan surat utang adalah Jokowi, sebesar Rp 1.903,4 triliun dengan menghasilkan bunga Rp 1.842,1 triliun (96,8 persen dari pokok).

Menariknya, apa yang dicapai Jokowi dalam 5,5 tahun sudah jauh melewati capaian era SBY selama 10 tahun.

Yang paling istimewa juga, selama pemerintahan Jokowi, ternyata bunga (imbal hasil/yield) surat utang Indonesia selalu ketinggian 2-2,6 persen bila dibandingkan dari negara-negara tetangga yang peringkat kreditnya (credit rating) sama atau di bawah Indonesia. Terutama bila dibandingkan dengan Vietnam dan Filipina.

Di bawah ini adalah grafik yield surat utang bertenor 10 tahun ketiga negara, disertai juga tabel perbandingan credit rating atau peringkat surat utang. Bila dirata-ratakan selama 5.5 tahun (2014-2020(est)), yield surat utang 10 tahun Indonesia 7,5 persen, Vietnam 5,4 persen, dan Filipina 4,8 persen.



Berdasarkan perbandingan credit rating dengan Filipina dan Vietnam selama 5 tahun terakhir, ternyata surat utang Indonesia berperingkat setara (dengan Filipina) atau bahkan lebih baik (dari Vietnam). Artinya mungkin saja Indonesia mendapatkan bunga 2-2,6 persen lebih murah dari yang sekarang.

Saya mencoba menghitung, berapakah biaya bunga yang dapat dihemat Indonesia bila seandainya selama pemerintahan Jokowi berhasil mendapatkan bunga 2-2,6 persen lebih murah. Ternyata hasilnya adalah, bila bunga (untuk surat utang Rp) turun 2,3 persen (rata-rata) saja, Indonesia bisa mendapatkan selisih penghematan bayar bunga Rp 330,7 triliun.[***]

*Penulis adalah peneliti Pergerakan Kedaulatan Rakyat (PKR).

Top