Aktivis Perempuan Katolik Mengutuk Keras Kekerasan Seksual Anak Altar di Gereja Santo Herkulanus Depok

Aktivis Perempuan Katolik Mengutuk Keras Kekerasan Seksual Anak Altar di Gereja Santo Herkulanus Depok
Ilustrasi/Net

KATTA - Kelompok Perempuan Katolik Penggiat HAM dan Kemanusiaan mengutuk keras kejahatan seksual terhadap anak-anak putra altar di lingkungan Gereja Santo Herkulanus, Depok, Jawa Barat. Selain sebagai pembina putra altar di gereja tersebut, Syahril Parlindungan Marbun, diduga pelaku, diketahui berprofesi sebagai pengacara.

"Kami mengutuk keras kejahatan yang diduga dilakukan oleh Syahril Parlindungan terhadap anak-anak putra altar di lingkungan Gereja Herkulanus. Sebagai seorang melek hukum, ternyata menjadi pelaku kejahatan serius terhadap anak-anak yang harus  dilindungi," demikian pernyataan sikap Kelompok Perempuan Katolik Penggiat HAM dan Kemanusiaan yang diterima redaksi, Senin (29/6/2020).

Pernyataan sikap disampaikan perempuan katolik penggiat HAM dan kemanusiaan dari berbagai daerah, antara lain Nunuk P. Murniati (Yogyakarta), Francisia Seda (Jakarta), Agnes Karicamelia Kirani (Semarang), Adriana Venny (Bandung), Ermelina Singereta (Bogor), Redemta Tete Bato (Sumba Barat Daya), Selviana Yolanda (Ruteng, Flores), Veronika Ata (Kupang).

Mereka menyesalkan lingkungan gereja yang semestinya menjadi tempat suci dan aman untuk semua umat terutama anak-anak justru dimanfaatkan pelaku menjadi lokus dalam melakukan kejahatannya.

Kasus kejahatan seksual terhadap putra altar di Paroki Herkulanus Depok diketahui berawal dari laporan keluarga bahwa pada bulan Maret 2020, anak laki-laki mereka mengalami tiga kali kejahatan seksual. Pihak keluarga kemudian melaporkannya kepada Pastor Paroki, dan ditindaklanjuti pelaporan oleh tim hukum gereja ke Polres Depok pada 8 Juni 2020.

Syahril Parlindungan saat ini sudah ditahan di Mapolres Depok dan dijerat dengan Pasal 82 Undang-Undang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjara serta denda paling banyak Rp 5 miliar.

Hasil penelusuran tim hukum internal gereja menyebutkan bahwa, pelaku melakukan aksinya sejak tahun 2002 dan menemukan fakta setidaknya ada 21 anak yang menjadi korban, dan kemungkinan ada korban-korban lain yang belum menyampaikan pengakuan.

"Kami juga menyesalkan kejadian serupa pernah terjadi sebelumnya pada tahun 2014, namun kasus tersebut diselesaikan secara kekeluargaan (mediasi) oleh pihak gereja. Pelaku tidak dihentikan dari posisinya sebagai pembina  putra altar, tetapi malah tetap dipertahankan sehingga kejadian serupa terulang kembali," demikian pernyataan sikap Kelompok Perempuan Katolik Penggiat HAM dan Kemanusiaan.[]

Top