Natalius Pigai Bentengi Tito Karnavian dari Kritik Yos Ngarang

Natalius Pigai Bentengi Tito Karnavian dari Kritik Yos Ngarang
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian/Ist

KATTA - Kritik bernada menjatuhkan yang dialamtkan terhadap Tito hanya karena pemberian penghargaan Lomba Inovasi New Normal Life kurang fair, jika bukan disebut salah alamat.

Natalius Pigai, mantan ketua Tim Aparat Penegak Hukum di Komnas HAM, tidak setuju bila dikatakan Tito Karnavian tidak profesional memimpin Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Dia menganggap kurangnya dukungan informasi publik yang bagus memunculkan kritik dan kesan Tito berkinerja kurang baik di publik.

Pernyataan Pigai ini merespon opini Sekjen Pergerakan Kedaulatan Rakyat, Yos Ngarang. Dalam artikel berjudul "Tito Karnavian Kurang Profesional, Sebaiknya Jokowi Segera Reshuffle", Yos menyebut Tito tidak profesional dan tidak menjalankan tugas pokok Kemendagri, yakni memberikan pembinaan kepada kepala daerah. Alih-alih itu, menurut Yos, Tito secara vulgar menggiring Kemendagri dalam politik praktis.

Yos menyebut pemberian dua penghargaan Lomba Inovasi New Normal Life kepada Provinsi Jawa Timur sebagai bukti. Angka kasus Covid-19 di Jatim tertinggi dibandingkan daerah lain seperti Jakarta tetapi justru menerima penghargaan. Apalagi Presiden Jokowi juga telah menegur dan mendatangi Jatim.

"Soal Kemendagri, Mendagri Pembina Kepala Daerah tetapi independen. Jadi penghargaan itu satu kreatifitas Pak Tito agar kepala daerah terpacu bekerja untuk kepentingan umum (bonum commune) yaitu pemberantasan Covid-19. Soal teknis penghargaan dan siapa yang dapat itu urusan pejabat internal Kemendagri, belum tentu Pak Tito," kata Natalius Pigai melalui pesan elektronik kepada KATTA beberapa saat lalu, Minggu (28/6/2020).

Pigai meyakinkan mungkin saja banyak hal progresif yang dilakukan Tito dibanding menteri lainnya tapi sering tidak didukung informasi publik yang bagus sehingga terkesan kinerja Tito kurang baik di mata rakyat. Diantaranya kesan yang dimunculkan Yos.

"Saya harap tidak hanya satu menteri yang dikritik. Jika menteri lain juga dikritik satu per satu akan jauh lebih buruk dari Kemendagri," kata Pigai.

Pigai menyebut tulisan Yos kritis sebagai opini dan tentu sah-sah saja. Namun Pigai juga tidak sependapat dengan kesan yang dimunculkan Yos bahwa Tito sudah bekerja tidak profesional dan minim prestasi saat masih memimpin Polri.

Yos di dalam tulisannya menyebut tidak ada legacy yang ditinggalkan Tito. Menurut dia, meski bergelar profesor-doktor, Tito tidak punya legacy jempolan misalnya mendirikan Badan Lemdikpol Polri, PTIK, Tipikor, BNN, BNPT seperti yang didirikan kapolri-kapolri sebelumnya. Dan malah Tito menjadikan Polri tidak netral dalam arus politik elektoral.

"Tidak membela, tapi sejauh yang saya pahami bahwa Pak Tito pimpin Polri di saat turbulensi politik tinggi. Gesekan vertikal dan horisontal 2016-2019. Ada visi dan misi promoter yang berjalan di institusi polisi. Beda dengan Kapolri lain yang memimpin dalam suasana negara lagi stabil jadi kalau ada legasi seperti PTIK, BNN, BNPT, Lemdikpol dan lain-lain," beber Pigai.

"Salah satu prestasinya adalah Indonesia pernah menempati negara teraman nomor 9 di dunia di tahun 2019," demikian kata Pigai.[]

Top