Donatus dan Nawir Selamat, Polisi Masuk Angin?

Donatus dan Nawir Selamat, Polisi Masuk Angin?
Ilustrasi/Net

PENUNTASAN kasus korupsi dana program gerakan nasional peningkatan produksi dan mutu kakao (Gernas Kakao) dipertanyakan. Pasalnya hingga kini, berkas penyidikan dua tersangka atas nama Donatus Marru dan Mohammad Nawir belum juga rampung. Padahal, keduanya sudah ditetapkan tersangka sejak 2015 silam.

Angin segar sempat berhembus Juli 2018 karena berkas keduanya dirampungkan kepolisian. Namun, berkas dikembalikan jaksa untuk diperbaiki alias P19. Berkas perkara mestinya diperbaiki dan kembali dikirim kepada jaksa 14 hari setelah dinyatakan P19. Namun sayangnya, hingga saat ini hal itu tidak pernah dilakukan.

Disebut-sebut pemberkasan tidak dapat diproses karena Donatus sakit. Anehnya, pemberkasan atas nama tersangka Nawir juga tidak dilanjutkan dan dibawa ke meja hijau. Apakah Nawir juga sakit? Sakit apa? Apakah sudah mau 2 tahun masih sakit? Sangat tidak jelas pangkal ceritanya. Benar-benar aneh.

Ada dugaan berkas dua Nawir dan Donatus bolak-balik belum P21 akibat penyidik tidak membuat BAP atas kesaksian Jusuf Yogianto yang namanya banyak disebut dalam BAP sejumlah pejabat Dinas Perkebunan Tolitoli yang sudah divonis pengadilan dan menjalani hukuman penjara.

Jusuf diketahui merupakan owner PT Supin Raya. Sementara Donatus dan Nawir masing-masing menjabat direktur dan manajer teknis di PT Supin Raya.

Berdasarkan berkas perkara, setiap pencairan dana proyek Gernas Cacao Tolitoli masuk ke rekening Jusuf, baru dibayarkan ke pihak lain.

Donatus dan Nawir ditetapkan tersangka masing-masing pada Oktober dan November 2015 berdasarkan SP.Sidik/10//I/ 2015 dan SP. Sidik/12/I/2015 tahun 2015. Medio 2018 BAP kedua tersangka dinyatakan raib. Lantas pada Juli 2018 penyidik menerbitkan Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) yang baru.

Setelah terhenti cukup lama, penyidik Tipikor Polres Tolitoli mengirim SPDP baru ke Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Tolitoli pada awal Juli 2018. Namun cerita lanjutan penyidikan tidak pernah berujung.

AKBP Hendro Purwoko selaku Kapolres Tolitoli sempat memberikan jawaban. Ia mengatakan kasus korupsi Gernas Cacao akan tetap disidik. Hanya saja salah satu tersangka sakit sehingga belum bisa dimintai keterangan.

"Penyidik harus tunggu surat keterangan dokter, dan itu yang bikin lama. Kalau dibilang lama ya iya karena dari tahun 2015, dan kita hanya melanjutkan. Dan justru sekarang progress sudah bagus," katanya.

Dia menjanjikan tidak akan menerbitkan SP3 untuk perkara yang menjerat Donatus dan Nawir.

"Maaf kalau dalam penetapan tersangka saja minimal ada dua alat bukti dan semua sudah terpenuhi bagi kedua tersangka," tambahnya.

Kasi Pidsus Kajari Tolitoli Rustam Efendi mengatakan BAP dua tersangka dikembalikan ke penyidik Tipikor Polres Tolitoli karena tidak lengkap, sehingga pihak kejaksaan Negeri Tolitoli menerbitkan P18/P19 sejak 21 Agustus 2018. Pihaknya hingga saat ini menunggu pelengkapan berkas dari kepolisian.

"Belum ada di kirim lagi BAP oleh penyidiknya. Saya tunggu saja dari penyidik," kata Rustam Efendi kepada KATTA.

Penyidikan keterlibatan Nawir dan Donatus sudah dilakukan empat tahun, atau lima kali Kapolres Tolitoli mengalami pergantian. Namun sayangnya, keduanya tidak pernah duduk sebagai terdakwa dan menjalani persidangan.

Proyek Gernas menghabiskan dana Rp 11.2 miliar pada tahun 2013. Akibat korupsi, ditemukan kerugian uang negara sekitar Rp, 6 miliar. Dengan Donatus dan Nawir, ada 6 orang yang ditetapkan sebagai tersangka namun hingga sekarang hanya empat orang yang sudah divonis dan menjalani hukuman.

Kapan Donatus dan Nawir duduk di persidangan? Kapan juga Jusuf Yogianto diperiksa sebagai saksi bahkan dijadikan tersangka karena namanya banyak muncul dalam berkas perkara? Apakah penegak hukum masuk angin? Sepertinya kita masih harus bersabar menunggu kerja kepolisian dalam mengusut dan menyeret semua orang yang terlibat dalam korupsi Gernas Cacao Tolitoli..[]

Top