Rizal Ramli: Jangan Cetak Uang di Saat Tingkat KKN Tinggi dan Tim Ekonomi Tak Kredibel!

Rizal Ramli: Jangan Cetak Uang di Saat Tingkat KKN Tinggi dan Tim Ekonomi Tak Kredibel!
Ilustrasi

KATTA - Ekonom senior Rizal Ramli mengingatkan bahwa kebijakan cetak uang atau printing money disaat tingkat korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) tinggi dan tim ekonomi pemerintah tidak kredibel justru akan memperburuk ekonomi Indonesia.

"Printing money (cetak uang) saat pemerintah tidak kredibel, banyak KKN, abuse of power (penyalahgunaan kekuasaan) itu printing money bisa bahaya sekali. Itu bisa inflasi, nilai tukar rupiah bisa Rp20 ribu per dollar AS. Kecuali pemerintah saat ini kredibel," ujar Rizal Ramli beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, Badan Anggaran DPR RI mengusulkan kepada pemerintah dan Bank Indonesia (BI) untuk mencetak uang hingga Rp 600 triliun. Tujuannya untuk menyelamatkan ekonomi Indonesia dari dampak pandemi Virus Corona atau Covid-19.

Ketua Badan Anggaran MH Said Abdullah mengatakan pemerintah telah mengambil langkah langkah dalam penanganan untuk mengatasi pandemi virus corona, baik penanganan yang berkaitan dengan penanganan kesehatan masyarakat, maupun penanganan akibat dampak ekonominya.

"Namun melihat besarnya kebutuhan pembiayaan yang diperlukan, Badan Anggaran DPR RI memperkirakan skenario penganggaran yang direncanakan pemerintah tampaknya kurang mencukupi," ujarnya dalam keterangan tertulis.

Menurutnya hal itu berdasar pada dua hal yakni ancaman terhadap keringnya likuiditas perbankan sebagai akibat menurunkannya kegiatan ekonomi, sehingga menurunnya kemampuan debitur membayar kredit.

Kedua membesarnya kebutuhan pembiayaan APBN yang tidak mudah ditopang dari pembiayaan utang melalui skema global bond, maupun pinjaman internasional melalui berbagai lembaga keuangan.

Atas dua hal itu Badan Anggaran DPR RI merekomendasikan kepada Bank Indonesia dan pemerintah beberapa hal. Salah satunya cetak uang dengan jumlah Rp 400-600 triliun.

Respon Bank Indonesia

Menanggapi usulan Banggar DPR-RI terkait cetak uang, Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, pencetakan uang artinya bank sentral menambah uang beredar. Jika tidak mampu akibat kelebihan likuiditas, maka likuiditas tersebut tidak bisa diserap kembali.

"Seperti dulu waktu BLBI kan bank sentral mengedarkan uang. Sebagai gantinya dikasih surat utang pemerintah yang tidak tradeable dengan suku bunga mendekati nol persen. Waktu inflasi naik, bank sentral tidak menggunakan SOP ini," kata Perry dalam RDP virtual dengan komisi XI DPR RI, Kamis (30/4/2020).

Dia mengungkapkan, pada periode 1998 angka inflasi mencapai 67% akibat pencetakan uang. Hal ini berbeda dengan operasi moneter dan penambahan likuiditas di perbankan.

"Nah penambahan likuiditas yang BI lakukan sekarang Rp 503,8 triliun disebut quantitative easing (QE). Semoga ini menjelaskan hal yang kompleks dan berbeda antara pencetakan uang dengan QE," tutur Perry.

Sebelumnya, untuk pemulihan ekonomi nasional BI telah melakukan quantitative easing antara lain terdiri dari Rp386 triliun yang berasal dari kebijakan BI pada Januari hingga Maret 2020 salah satunya penurunan GWM rupiah 50 basis poin (bps) sedangkan sisanya sejumlah Rp 117,8 triliun melalui kebijakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) 13-14 April salahsatunya penurunan GWM sebesar 200 bps.

"Quantitative easing dari Januari hingga April 2020 jumlahnya Rp386 triliun, sumbernya kami beli SBN dari pasar sekunder yang dijual oleh asing, kalau asing jual BI beli dapat SBN dan tambah likuiditas edarkan uang jumlahnya Rp166,2 triliun," kata dia.

Perry menambahkan, pasokan likuiditas juga bertambah dari term repo perbankan yaitu underlying yang dimiliki bank untuk digunakan BI. Hal tersebut juga menambah likuiditas Rp137,1 triliun.

Penambahan berikutnya berasal dari penurunan GWM rupiah pada periode Januari dan April yang jika menambah likuiditas Rp53 triliun dan juga melalui swap valas Rp29,7 triliun.

"Apa yang ditambah di awal Mei akan ditambahkan sesuai keputusan RDG lalu seperti yang tadi disampaikan pemangkasan GWM 2% itu bakal tambah Rp102 triliun. Kami juga tidak mewajibkan bank dalam 1 tahun ini untuk tidak penuhi rasio intermediasi pada Mei jadi total setelah RDG April Rp117,8 triliun. Dan total keseluruhan Rp386 triliun ditambah Rp117,8 triliun jumlahnya Rp503,8 triliun," tukas Perry. 

Quantitative Easing di Mata Rizal Ramli

Rizal Ramli sangat jeli melihat banyaknya permintaan dari sejumlah pihak mengenai kebijakan cetak uang tersebut. Yang berbeda yaitu kali ini dilakukan dengan cara penyampaian dan permintaan dengan bahasa yang berbeda, namun memiliki makna yang sama yakni, cetak uang.

“Banyak kampanye agar dilakukan Quntitative Easing (QE). Istilah mah keren, nyontek dari US. QE itu mah money printing (Cetak Uang). Amerika, EC dan Jepang kuat, bisa macro-pumping. Kalau RI bakal jadi sumber bancakan baru ala BLBI (Recovery hanya 25%). Siapa yang tanggung-jawab?” ujarnya seperti dikutip dari akun Twitternya @RamliRizal.

Quantitative Easing atau mencetak uang sering kali mengudang kontroversi. Sebagian beranggapan merupakan solusi, tetapi sebagian lainnya justru menganggapnya sebagai masalah seperti diungkapkan oleh Rizal Ramli.

Akibat Cetak Uang, Indonesia Bakal Seperti Zimbabwe

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, menilai, jika mencetak uang hingga ratusan triliun rupiah ada potensi inflasi tinggi yang menghantui apabila prosesnya tak dilakukan dengan cermat.

"Mencetak uang tanpa ada underlying asset yang jelas ini bisa menimbulkan dampak pada inflasi tinggi," kata Bhima sebagaimana dilansir detikfinance.com, Kamis (30/4/2020).

Dampak itu bukanlah ancaman semata. Negara lain seperti Zimbabwe sudah mengalaminya langsung akibat cetak uang terus-menerus. Berdasarkan catatan, Zimbabwe pernah mengalami inflasi hingga 11,250 juta persen bahkan pernah menyentuh 231 juta persen pada 2008.

Salah satu pemicu ledakan inflasi adalah suplai yang berlebihan. Presiden Robert Mugabe yang memimpin Zimbabwe selama 37 tahun itu mencetak uang yang berlebihan guna mendanai kampanye pemilu. Saat kepemimpinannya, kondisi perekonomian terus-terusan jatuh.

Akibat itu, tingkat pengangguran di sana mencapai 80-94%. Banyak pabrik-pabrik manufaktur yang tutup sementara suplai makanan juga langka.

Banyak pekerja yang tak merasakan dampak dari gajinya karena harga-harga sangat tinggi akibat stok barang di toko-toko sangat langka.

Tingginya inflasi di Zimbabwe membuat negara ini pernah melakukan redenominasi mata uang, dengan menyederhanakan uang 10 miliar dolar Zimbabwe menjadi 1 dolar Zimbabwe atau menghilangkan 10 angka nol.

Top