Berdaya Dalam Bahaya

Berdaya Dalam Bahaya
Ilustrasi

PANDEMI Covid-19 atau yang kita kenal dengan Virus Corona merupakan sebuah musibah global yang tidak dapat dielakkan oleh negara manapun. Per tanggal 27 Maret 2020, tercatat sebanyak 18 pasien positif Covid-19, 130 PDP, dan 1174 ODP (Tirto.id dan CNBC Indonesia). Angka tersebut mengalami kenaikan tiga kali lipat dibandingkan hari sebelumnya.

Hal yang menimbulkan kekuatiran adalah persebaran Covid-19 ini sangat masif dan begitu mudah ditularkan hanya dengan pertemuan fisik manusia melalui droplet cairan/butiran ludah yang dihantarkan secara langsung melalui percakapan, batuk ataupun secara pasif melalui sentuhan pada benda-benda asing seperti furnitur, baju, sentuhan tangan dan lain sebagainya yang kemudian berpindah dari satu pribadi ke pribadi lainnya.

Melakukan physical distancing atau menjaga jarak dari orang lain, tetap berada di rumah masing-masing, gerakan cuci tangan, menjaga kebersihan diri dan tempat tinggal, serta mengenakan masker atau penutup mulut merupakan upaya terbaik yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko persebaran virus Covid-19 yang masif.

Dalam sebuah survei yang digelar secara mandiri di Kota Yogyakarta, kami, Rotary Club of Jogja Merapi, menemukan bahwa kesadaran masyarakat untuk menjaga diri dalam pencegahan persebaran Virus Covid-19 masih sangat rendah. Terdapat 3 dari 10 orang di jalanan yang mengenakan masker medis maupun non medis.

Kegelisahan ini juga menjadi semakin meningkat ketika kami melihat bahwa 1 dari 100 penjual makanan di Yogyakarta juga tidak menerapkan pola antisipasi dengan tidak menggunakan masker ataupun siaga cuci tangan dalam menjalankan usahanya.

Melalui survei dan penelitian singkat itu, Rotary Club of Jogja Merapi berinisiatif memulai sebuah program mitigasi untuk mengurangi persebaran virus Covid-19 di titik-titik strategis pangan. Titik-titik strategis tersebut diantaranya penjaja makanan dan jajanan siap saji, warung-warung makan, hingga pelaku usaha pangan industri rumahan, serta pabrik tahu-tempe. Mereka tidak dapat menghentikan usahanya meski karena berkaitan dengan nafas ekonomi mereka, dimana “tidak berproduksi atau tidak bekerjasama dengan tidak ada makanan bagi keluarga mereka”.

Mengapa Terfokus Pada Titik Pangan?

Pangan merupakan esensi keberlanjutan masyarakat. Meski dalam situasi kebencanaan, ketersedian pangan masyarakat menjadi tumpuan utama. Upaya menjaga kesehatan para pelaku yang terlibat dalam supply chain pangan menjadi langkah kritis. Ini sebagai upaya mitigasi yang bertujuan menjaga ketersediaan pangan masyarakat, utamanya yang berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pasar Tiban sendiri merupakan titik temu antara penyuplai hasil tani, pedagang, dan pembeli. Pasar Tiban didatangi tidak hanya warga dari desa setempat, tetapi juga orang-orang dari berbagai wilayah DIY dan sekitarnya, termasuk sekitar Jawa Tengah. Sehingga jika tidak ada langkah pencegahan sebaran virus Covid-19, supply chain pangan di DIY dan sekitarnya dapat terganggu bahkan berpotensi terpapar.

Berdaya Dalam Bahaya

Berdaya Dalam Bahaya merupakan program strategis yang digagas Rotary Club of Jogja Merapi. Program ini ditujukan pada kelompok rentan yang menjadi bagian dalam supply chain pangan di DIY. Program ini diawali dari pilot project yang menyasar PasarTiban, industri tahu dan tempe, penjaja makanan/warung di Desa Ngestiharjo, Sleman. Program akan dilaksanakan pada hari Minggu, 29 Maret 2020 di Pasar Tiban Desa Ngestiharjo, Ngemplak, Sleman pada pukul 17.00 - hingga selesai. Aktivitas selama di Pasar Tiban antara lain pembagian masker, tempat cuci tangan portabel, serta kampanye edukasi mengenai perlunya tidakan pencegahan seperti mencuci tangan, berjualan dan berproduksi secara higienis, dan lain sebagainya.

“Membangun kesadaran tentang pentingnya menjaga higienisitas diri dan meminimalisir penularan Covid 19 menjadi arus utama, mengingat produsen dan pedagang merupakan tulang punggung dalam distribusi pangan kita. Melindungi diri sendiri merupakan upaya melindungi orang lain juga,” sebut Ratri, Presiden Rotary Club of Jogja Merapi.

Oleh: Risang Yuwono dan Anneke Putri Purwidyantari

 

Top