Indonesia Perlu Belajar Manajemen Informasi Corona dari Singapura

Indonesia Perlu Belajar Manajemen Informasi Corona dari Singapura
Foto: Ilustrasi/Istimewa

KATTA - Dalam situasi pandemik Corona yang telah berlangsung beberapa bulan terakhir ini, disinformasi mengenai penyakit tersebut sudah banyak beredar di masyarakat, mulai dari cara penularan, kota yang tertular, tokoh-tokoh yang tertular hingga perilaku berlebihan dari masyarakat.

Informasi palsu (hoax) pun menjadi tersebar luas di ranah media sosial sehingga menimbulkan kepanikan tersendiri bagi publik.

Menurut pakar ilmu komunikasi Universitas Islam Bandung Muhammad Fuady, hoax memang selalu massif penyebarannya dalam situasi krisis.

Publik berada dalam situasi ketidakjelasan dan membutuhkan informasi mengenai COVID-19 untuk memperoleh kepastian, terutama apa yang sebaiknya mereka lakukan dalam menanganinya.

“Dan sumber informasi yang paling mudah diakses adalah media sosial. Sayangnya kebiasaan mengonsumsi informasi tanpa melakukan cek dan ricek membuat netizen potensial terpapar hoax,” tuturnya dalam rilisnya, Selasa (24/03/2020).

Menurutnya, kemasan hoax bisa bermacam-macam. Bisa kelakar, tapi bisa berujung serius seperti hoax mengenai produk ponsel asal Cina yang menularkan virus Corona.

“Bila disusuri ada ratusan hoax tentang Corona yang beredar. Dan masyarakat kita mudah terpengaruh. Harusnya kita belajar dari pemerintah Singapura yang sangat ketat dalam urusan informasi sehingga masyarakatnya terhindar dari pengaruh berita palsu," ucapnya.

Pendapat ini pun diamini oleh Tatiana Gromenko, pendiri SGB, digital platform yang khusus membahas tentang Singapura bagi pelancong asal Indonesia.

Menurutnya, pemerintah Singapura mengelola informasi dengan sangat ketat untuk mencegah ketakutan dan kepanikan di tengah masyarakat.

“Takut dan panik bisa merusak banyak hal, tidak saja dari ekonomi namun juga psikologis. Karena itulah pemerintah sangat berhati-hati dalam menyebarkan informasi. Meski demikian, informasi yang disampaikan tetap terbuka dan yang terpenting adalah akurat. Tidak ada data apapun yang dibagikan ke masyarakat kecuali sudah melewati proses verifikasi yang ketat,” tutur wanita Rusia yang fasih berbahasa Indonesia tersebut.

Tatiana menambahkan, keterbukaan informasi di Singapura tentang Corona memungkinkan publik untuk mengetahui di mana klaster-klaster yang beresiko tinggi, namun tentu dengan tetap merahasiakan identitas pasien.

“Misalnya riwayat kontak dan penularan. Termasuk setiap kasus penyembuhan juga diumumkan," ujarnya.

Edukasi secara massif pun dilakukan pemerintah Singapura untuk meminimalisir potensi masyarakat tertular seperti upaya pencegahan seperti apa yang perlu dilakukan, termasuk prosedur apa yang harus dijalankan saat mulai terlihat gejala-gejala mengidap Corona.

“Intinya, manajemen komunikasi sama pentingnya dengan manajemen penanganan pasien. Ini sudah menjadi standar operasional pejabat pemerintah di Singapura,” ucapnya.

Selain itu, tutur wanita yang pernah tinggal di Indonesia ini, pemerintah Singapura menjaga sumber informasi dari satu pintu. Tidak ada kesimpangsiuran antara satu pejabat dengan pejabat lain yang menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat.

“Biasanya ini disebabkan karena adanya ego sektoral, dan juga ketidaksensitifan pemegang kebijakan terhadap isu Corona ini sehingga semua ingin berbicara," katanya.

Tatiana pun menyarankan agar masyarakat Indonesia tidak panik yang berlebihan dan selektif dalam menerima informasi dari sumber-sumber yang tidak kredibel.

“Kuncinya ada pada sumber informasi yang kredibel, terbuka, transparan dan edukatif,” pungkasnya.[rls]

Top