PBNU: Meninggal Akibat Corona Syahid

PBNU: Meninggal Akibat Corona Syahid
Ilustrasi/Net

KATTA - Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengeluarkan keputusan tentang hukum fiqih pemulasaran jenazah pasien Covid-19 atau virus corona. Salah satu keputusannya yakni orang yang meninggal  akibat Covid-19 statusnya adalah syahid.  

"Pertama, Covid-19 merupakan wabah (tho'un). Karena itu orang yang meninggal  akibat Covid-19 statusnya adalah syahid fil akhiroh. Sebab kedudukan syahadah (mati syahid) tidak hanya didapat oleh mereka yang gugur di medan perang.  Mereka yang meninggal karena wabah penyakit (tho'un) juga dapat meraih kedudukan syahadah," demikian bunyi keputusan batsul masail PBNU.

Batsul masail pemulasaran jenazah pasien Covid-19 didasarkan pada kondisi bahwa memandikan jenazah pasien Covid-19, yang mana kalau dilakukan dengan standar normal diduga kuat dapat menimbulkan bahaya bagi yang hidup, terutama bagi yang melaksanakannya, yaitu penularan virus. Sementara menolak bahaya merupakan salah satu tujuan syariat.

Keputusan kedua, jenazah pasien Covid-19 muslim memiliki kedudukan dan perlakuan sama dengan jenazah muslim pada umumnya, yaitu wajib dimandikan, dikafani, dishalati, dan dimakamkan.

Tiga, cara memandikan jenazah pasien Covid-19 dengan menggunakan peralatan yang bisa mencegah penularan penyakit tersebut. Memandikan dilakukan oleh orang  yang profesional atau petugas kesehatan dengan harus melindungi diri dan  memastikan keamanannya (menggunakan pakaian pelindung, sarung tangan, masker, dan desinfeksi diri) agar tidak tertular virus dari jenazah.

"Setelah dimandikan, jenazah pasien Covid-19 dibungkus kain kafan kemudian  dibungkus sejenis plastik sehingga tidak mudah tercemar," demikian petikan keputusan batsul masail.

Terakhir, untuk protokol atau teknis mengkafan jenazah pasien Covid-19 secara ekstra dan pemakamannya harus mengikuti arahan dari para ahli medis.[]

Top