Rocky Gerung: KPU dan KPK Layak Dikubur Bersamaan

Rocky Gerung

KATTA - Pengamat Politik Rocky Gerung menilai, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) layak dikubur secara bersamaan. Alasan, kedua lembaga itu sudah sekarat dan sudah bukan lagi menjadi lembaga yang mulia.

Pandangan tersebut disampaikan Rocky Gerung menjawab pertanyaan konsultan media dan politik Hersubeno Arief. Video dialog kedunya diuplod ke Youtube oleh Rocky Gerung Official.

"Itu campuran dari segala macam ironi, satire, komedi, tragedi, itu yang namanya KPK. Jadi kalau digabung KPK itu ya kimianya itu semua," ucap Rocky Gerung.

Selanjutnya, Hersubeno Arief menanyakan pendapat Rocky Gerung soal pernyataan Anggota Dewan Pengawas KPK Syamsuddin Haris yang mengatakan betul bahwa KPK sedang dilemahkan.

"Syamsuddin itu saya kenal baik, jadi kalau Syamsuddin yang ngomong, dia orang baik, orang jujur, yang harus diuji kenapa dia kebaikan dan kejujurannya dia serahkan ke lembaga yang dari awal seharusnya dia paham itu sedang dilemahkan, atau dia punya intensi memperkuat kembali, dan itu gabungan antara ironi dan ilusi," ujar Rocky Gerung.

Kemudian Rocky Gerung pun sangsi ada orang yang bisa mengubah KPK menjadi seperti dulu lagi.

"Karena memang KPK direndahkan statusnya dari lembaga yang disebut independen, lembaga pembantu yang punya kemuliaan, sekarang ada di bawah presiden, jadi kepresnya dibikin begitu," ucapnya.

Ia pun menyebut kalau Syamsuddin Haris sepertinya baru menyadari hal itu sekarang.

"Jadi memang diniatkan untuk dilemahkan, jadi kalau Pak Syamsuddin baru ngeh sekarang, itu dia terlambat, bukan hati nuraninya yang terlambat, tapi akalnya yang terlambat menyadari.

"Hati nuraninya pasti bagus, hati nuraninya saya tidak ragu tapi kalkulasi dia terlalu sederhana waktu menerima tawaran dewas," jelas Rocky Gerung.

Selain itu, Rocky Gerung juga mengatakan kalau dirinya tak terkejut dengan apa yang terjadi di KPK saat ini.

"Nggak, apalagi sejak kasus Wahyu kita cuma ingin dipastikan bahwa kasus itu membenarkan bahwa presiden memang tidak ingin KPK berfungsi maksimal, jadi kan dikatakan udah ada perpres, kepres tentang prosedur, iya tapi itu kan wilayah normatif, tapi prakteknya tidak demikian," kata Rocky Gerung lagi.

Ia pun menegaskan kalau KPK saat ini sudah ditakdirkan jadi alat presiden untuk tidak memberantas korupsi.

"Jadi bukan memberantas, tapi tidak memberantas korupsi," tegas Rocky Gerung.

Rocky Gerung juga menilai kalau sudah saatnya mengucapkan selamat tinggal pada KPK dan KPU.

"Ya mesti ada pestanya itu, jadi pesta perpisahan dan pesta bukan pembunuhan tapi pesta pengakhiran reformasi. Karena dulu ada dua lembaga yang kita unggulkan waktu reformasi, yaitu KPU dan KPK. Nah dua lembaga itu sekarang berhenti kemuliaannya itu, jadi ada upcara penurunan bendera dari setengah tiang terus sekarang penuh," bebernya.

Kemudian Rocky Gerung juga menyebut kalau Pemilu 2019 menjadi momentum terburuk KPU.

"Kalau KPK iya sekarang, ya itu dua peristiwa yang agak berjauhan, KPU punya problem dengan perhitungan yang kita sebut buruk, KPK juga sekarang dilemahkan. Dua-duanya sebetulnya sudah sekarat, nanti kita makamkan sama-sama saja itu," ungkap Rocky Gerung.

"Momentumnya jadi ketemu ya?," tanya Hersubeno Arief.

"Memang, politik itu ada hukum yang kadang orang gak bisa paham sesuatu akan menyeret yang lain, jadi pas momentumnya," jawab Rocky Gerung.

Kemudian Rocky Gerung pun menyarankan kita untuk percaya akan adanya perubahan saja.

"Kita percaya pada perubahan saja, satu-satu yang kita percaya adalah perubahan itu niscaya akan tiba dan mungkin dia tiba dalam keadaan yang nggak pernah kita perhitungkan. Mungkin akan copot kekuasaanya," kata Rocky Gerung.

Bukan tanpa alasan, Rocky Gerung menyebut demikian karena menurutnya Presiden Jokowi sedang mempersiapkan itu.

"Tentu kita tidak ingin presiden berhenti di tengah jalan, tapi paradoksnya kita lihat dia memang sedang mempersiapkan diri untuk berhenti di tengah jalan, karena kontradiksi kebijakan, inkonsistensi di dalam janji. Jadi sebetulnya bukan saya inginkan pak jokowi tidak sampai 2024, tapi dia sendiri yang sedang berencana untuk tidak sampai melalui segala macam kekacauan," tandasnya.[]

Top