Pengkhianatan Novel Baswedan?

Pengkhianatan Novel Baswedan?
Novel Baswedan/Net

ENTAH apa yang bisa kita petik dari teriakan “pengkhianat” dari tersangka penyiram air keras ke muka Novel Baswedan. Apakah terkait dengan peran Novel mengungkap kasus yang melibatkan koleganya Djoko Soesilo terkait kasus simulator SIM? Atau pada kasus lain yang menyiratkan bahwa Novel telah ada kesepakatan tertentu, tapi ingkar janji.

Dalam nalar pemberantasan korupsi yang dilakukan KPK, motivasi berkhianat punya andil besar dalam menangkap aktor kakap dalam kasus korupsi. Bahkan bagi yang bersedia menjadi justice callabulator akan mendapat imbalan tertentu.

Semangat para pengkhianat dalam kasus korupsi punya makna positif, mengingat tanpa peran mereka para penegak hukum tidak bisa masuk ke jantung persoalan korupsi. Para penyusup sudah terlanjur banyak tercium oleh jaringan koruptor, sehingga yang paling memungkinkan menjadikan sel dari jaringan tersebut bisa memberikan informasi.

Satu sisi andil para pengkhianat tersebut membuat penegak hukum bisa sangat efektif, sehingga menjadikan standar moral menjadi pengkhianat tidak relevan. Mereka bukan dicaci maki, tapi malah dipuja karena sebagai penolong dalam sulitnya mengungkap jaringan korupsi.

Namun para pengkhianat tersebut tetap mendapat hukuman dari pihak yang dirugikan, karena bermuka dua; di depan mata setia tapi di belakang membongkar borok sendiri. Tiada ampun, sampai dalam beberapa drama banyak film laga, para pengkhianat sering diragang nyawa.

Jika yang terjadi pada diri Novel Baswedan adalah penghukuman oleh pihak yang selama ini merasa satu skoci dengan dirinya, maka dia masih beruntung tidak diragang nyawa. Ini seolah menitip pesan bagi para pengkhianat lainnya agar tidak bernasib sama dengan Novel Baswedan.

Mereka bisa dipuja dalam momen tertentu dalam lingkaran awalnya, ketika ditahbiskan sebagai aktor penyelamat. Tapi akan seketika dihukum oleh lingkaran dirinya, ketika secara terang benderang malah menjadi “penyanyi” bagi para komplotannya.

Perlu diwaspadai selain soal sisi positif seorang pengkhianat, adalah motivasi tertentu jika memang sebelumnya pernah ada kesepakatan dengan kelompok yang dikhianatinya. Peran ganda para pengkhianat ini boleh jadi mengecoh para penegak hukum, menjadi pahlawan di luar rumah sekaligus mendapat imbalan lumayan besar dari sang majikan.

Dalam dunia intelejen internasional, terbiasa membelot antara satu negara ke negara yang lain. Motivasi pertamanya adalah jaminan untuk penghidupan layak sekaligus keselamatan dirinya jika harus membelot. Pembelolatan adalah pintu kesekian dari karier seorang intelejen jika kondisi normal tidak menguntungkan bagi dirinya.

Jaminan menjadi pengkhianat dalam kasus korupsi sementara ini masih terbilang mewah, terutama dalam hal penghargaan dari publik, sekaligus imbalan hukum tertentu. Mereka sudah memperhitungkan posisinya sebagai pengkhianat dengan jaminan penghidupan dan keselamatan dirinya.

Namun kita belum menyaksikan fakta di mana para pengkhianat tersebut telah berada dalam dua kaki. Satu sisi mereka terlihat selalu menjadi pembuka dari jaringan kejahatan korupsi, tapi boleh jadi mereka juga menjual lagi pada kelompok lain dengan harapan ada imbalan lain.

Pola dua kaki ini memungkinkan terjadi selama kasus yang ditangani memungkinkan untuk dijalani dengan membawa kepentingan beragam. Di ruang publik boleh jadi deklarasi sebagai pahlawan, dari dalam ruang sempit dan sunyi tetap menjadi pialang kasus korupsi.

Kemungkinan buruk ini bisa saja terjadi, karena menjadi pengkhianat itu punya banyak cara dan kesempatan untuk memutar turbin kepentingan. Saat yang sama posisi para penghianat tersebut sudah mendapat jaminan dari  kedua belah pihak; baik penegak hukum maupun jaringan yang dibongkar oleh dirinya.

Kepribadian ganda para pengkhianat seyogyanya menjadi perhatian di masa mendatang. Karena boleh jadi pemberantasan korupsi hanya menjadi cara mendapatkan keuntungan tertentu, meski mempertaruhkan nyawa sekalipun.

Jika ini yang terjadi, maka apa yang terjadi karena ulah pengkhianat tersebut bukan wujud dari penegakan hukum yang ideal. Penegakan hukum hanya satu cara untuk membenarkan telah terjadi penghkuman, meski secara substansial apa yang telah dikorupsi belum tentu terungkap secara mendalam.

Sangat tragis jika para pengkhianat itu adalah mata rantai dari orang dan atau kelompok yang pandai mencing ikan di air keruh. Bermaksud mendapatkan keuntungan melimpah ruah dari nestapa korupsi yang telah menyengsarakan rakyat.[]

Top