Milenial Jadi Rebutan

Milenial Jadi Rebutan
Ilustrasi/Net

DALAM jagat politik mutakhir kita semua dikejutkan dengan kreasi anak muda belia. Mereka mampu menyuguhkan kebutuhan publik hampir di semua lini. Tidak ketinggalan, ada sebagian pos penting kenegaraan dipercayakan pada mereka.

Rupanya generasi ini punya modal brilian berupa jaringan digital. Lewat semangat pendiri facebook, mereka dengan cepat bisa hadir dalam perubahan negeri ini.

Jokowi sendiri merasa harus menyerahkan kementrian pada pendiri Gojek. Pos yang secara prinsipal dihadirkan untuk membentuk mind set anak bangsa; dari pola lama menjadi lebih adaptif dengan perubahan mutakhir.

Kepercayaan tersebut bukan hal mudah di tengah platform pendidikan kita masih mengandalkan sistem yang sudah lama terbangun. Butuh keberanian mendobrak cara mendidik yang selama ini terbangun mapan di masyarakat.

Ini hanya satu sekian banyak fakta bahwa generasi milenial menjadi rebutan banyak orang. Fenomena ini sangat menarik di tengah harapan perubahan bagi negeri ini.

Perubahan yang diharapkan banyak orang, akhirnya sekarang berlabuh pada generasi milenial. Tinggal kita menantikan apa yang selanjutnya terjadi tapi jangan lupa mengingatkannya.

Euforia akan harapan tersebut menyiratkan sisi positif terutama semangat untuk terus menyesuaikan dengan denyut perubahan zaman. Tapi sisi positif itu tidak berdiri sendiri, ia punya kaitan dengan apa yang selama ini telah dirintis sebelumnya.

Inilah yang dapat kita baca pada beberapa kritik tertentu pada generasi melenial. Senyatanya kritik itu harus dipahami secara produktif oleh semua pihak.

Generasi milenial bukan berarti bisa menyelesaikan semua persoalan kehidupan hanya karena mereka telah banyak menghasilkan prestasi. Siklus sejarah telah menunjukkan bahwa setiap zaman ada aktornya sekaligus risiko coba dan salah.

Eksperimentasi generasi milenial bukan tanpa ruang untuk dikritik, karena jika dibiarkan tanpa perbandingan dengan problem sosial yang sebelumnya lahir maka dia akan cendrung destruktif.

Problem sosial masyarakat yang telah terjadi merupakan cermin berharga di tengah harapan pada generasi milenial yang terus meningkat. Harapan itu boleh jadi membentur ruang hampa jika perubahan hanya soal gegap gempita dunia digital.

Kita semua memang memaklumi era digital telah melahirkan banyak mimpi baru, saat yang sama generasi milenial bisa memerankan diri dengan kreatifitas dan inovasi yang menjanjikan. Terutama kemudahan melakukan segala aktifitas yang selama ini cendrung dilupakan oleh cara-cara lama.

Semoga harapan besar pada generasi milenial bisa barjalan secara obyektif, bukan karena soal kemudahan melaksanakan aktifitas. Tapi mampu menyentuh aspek dasar kemanusiaan yang cendrung dilupakan ketika setiap orang bisa melakukan apa saja karena menguasai sumber daya komunikasi digital.

Penguasaan tersebut berpotensi melahirkan eksploitasi wajah baru yang selama ini menjadi sebab terjadinya ketimpangan. Setiap orang telah menjadi target ekploitasi ketika semua data sudah bisa diakses oleh penguasa sumber daya digital.

Boleh jadi prestasi generasi milenial adalah pintu masuk mengeksploitasi antar sesama dalam wajahnya yang sangat mempesona. Kita  semua jadi terlena, yang boleh jadi ujungnya seperti eksploitasi yang selama ini hadir dalam sejarah bangsa di dunia.

Eksploitasi memang barang lama yang akan mencari bentuk baru agar terasa lebih seksi, yang akhirnya membuat terlena seolah semua persolan akan selesai. Padahal kita semua tetap harus kritis atas semua perubahan yang terjadi dalam sejarah peradaban manusia.[]

Top