Jalan Terjal Pemakzulan Trump

Jalan Terjal Pemakzulan Trump
Foto/Net

RAMAI sudah kabar pemakzulan Donald Trump. Presiden gaek sekaligus senior itu harus mempersiapkan diri di sidang senat. Apakah benar-benar jatuh atau tetap bertahan?

Sistem berjenjang ini menyampaikan pesan betapa tidak mudah menggulingkan presiden dalam iklim demokrasi negeri Paman Sam. Karena dia dipilih langsung oleh rakyat pada satu sisi dan diduga melanggar sumpah jabatan oleh DPR pada sisi lain.

Irisan kepentingan tersebut sengaja didisain untuk menjaga ritme politik agar jangan sampai menanggalkan kedaulatan pemilih karena lebih mementingkan atensi dari wakil rakyat di DPR. Kadar keterpilihan langsung dianggap lebih kuat dibandingkan dengan suara dari para wakil rakyat di DPR.

Jika menengok pada peristiwa pemakzulan Gus Dur, Donald Trump tidak lebih mungkin dijatuhkan dari kursi presiden. Pasalnya klausul menyatakan Gus Dur bersalah meski tidak sederajat dengan pelanggaran yang dilakukan Donald Trump, tapi suasana batin berdemokrasi sangat berbeda.

Kekecewaan penyokong Gus Dur yang pada akhirnya balik badan punya harapan besar di saat suasana politik nasional yang sangat dinamis. Berbeda dengan di Amerika sekarang yang lebih disebabkan oleh rasa kurang berkenan dengan gaya kepemimpinan Donald Trump yang mendapat dukungan sebagian besar anggota DPR.

Masih terdapat jalan terjal memperjuangkan diktum pemakzulan Donald Trump dari waktu proses yang ada sampai awal tahun 2020 kala senat akan menyidangkannya. Masih akan ada kejutan lain, yang boleh jadi batal turun dari tahta gedung putih.

Waktu yang relatif singkat untuk meyakinkan senat akan menjadi kendala utama pendukung pemakzulannya. Bukan perkara mudah menggalang dukungan dari senat untuk memuluskan klausul pemakzulan.

Secara organik keberadaan anggota senat tidak otomatis akan satu arah dengan kepentingan DPR. Mengubah arah angin hanya dengan narasi gaya memimpin Donald Trump dalam waktu singkat tidak akan seperti sesingkat Gus Dur dijebak dengan akhirnya keluarkan Dekrit pembubaran DPR.

Belum terbayangkan cara selain menebar narasi kebencian atas kepemimpinan Donald Trump, yang lebih efektif bisa mempengaruhi anggota senat lainnya. Kadar kebencian tersebut tidak sebanding dengan posisi Donald Trump yang nyata-nyata terpilih secara langsung oleh rakyat Amerika.

Penggiringan opini yang terus disemburkan memang terasa meriah di ruang publik, saat di mana media sosial begitu atraktif. Tapi itu pun belum tentu efektif karena akibat langsung yang merugikan rakyat Amerika tidak terlalu istimewa.

Boleh jadi narasi kebencian tersebut hanya milik segelintir elit yang sangat mudah terbaca oleh anggota senat. Segelintir elit tersebut merasa terancam dengan kehadiran presiden yang pada praktiknya suka membuat kegaduhan.

Memberhentikan presiden karena nafsu segelintir elit memang menjadi efektif ketika terjadi di tanah air. Gus Dur yang pada akhirnya tidak terbukti secara hukum menyalahgunakan sumbangan dari Brunai akhirnya keluar dari Istana negara.

Sementara Donald Trump yang dihukum DPR tidak serta merta menjadikan senat begitu semangat seperti suasana MPR RI ketika Gus Dur dilengserkan. Anggota MPR RI sangat mudah digiring saat yang sama ketua MPR RI punya hubungan organik dan fungsional dengan segelintir elit yang dikecewakan Gus Dur.

Akan sangat beresiko bagi senat menelan bulat keputusan DPR. Selain tidak kepentingan organik dan fungsional dengan segelintir elit pembenci Donald Trump, juga mempertimbangkan suara rakyat yang telah memilih Donald Trump.

Kemungkinan besar senat berkeyakinan memilih yang terburuk di antara yang terjelek. Keburukan dengan tidak melengserkan Donald Trump tidak sebanding dengan keterpilihannya yang waktu pemilu menengarai presiden terpilih ternyata kontras dengan suasana batin pemilu sebelumnya.

Kemenangan Donald Trump yang penuh dengan intrik tajam dan liar, menjadikan banyak pengamat kebakaran jenggot. Politisi yang gemar menebar kosakata yang boleh dikatakan kasar ternyata berhasil terpilih.

Kemungkinan besar Donald Trump akan tetap menjabat. Tunggu saja![]

Top