Kesepakatan Dagang Terbendung Defisit, IHSG Cuma Naik 0,52 Persen

Kesepakatan Dagang Terbendung Defisit, IHSG Cuma Naik 0,52 Persen
Ilustrasi/Net

KATTA - Sentimen dari keberhasilan AS dan China menyegel kesepakatan dagang parsial tahap pertama sepertinya telah direspon dengan setara oleh  investor di pasar valuta. Hal ini terlihat dari pola gerak nilai tukar sejumlah mata uang utama dunia yang membukukan penguatan signifikan terhadap Dolar AS, Selasa (17/12/2019).

Akibatnya, indeks Dolar AS kembali terpangkas tajam dalam dua hari sesi perdagangan terakhir. Pantauan menunjukkan, indeks Dolar AS yang bahkan sempat menginjak kisaran 96,8 pada sesi perdagangan awal pekan kemarin, namun kemudian sedikit berbalik menguat untuk kini bertengger di kisaran 97,0.

Sejumlah laporan yang beredar menyebutkan, pelaku pasar yang memberikan perhatian besar pada keberhasilan penyegelan kesepakatan dagang AS-China. Laporan lebih jauh menyatakan, kesepakatan dagang AS-China yang telah mencakup banyak persoalan sensitiv, seperti kesediaan China memborong produk pertanian AS hingga senilai $50 miliar per tahunnya.

China juga disebutkan bersiap melipat gandakan impor produk dari AS dalam dua tahun ke depan. Kesepakatan juga menyangkut komitmen China melindungi hak kekayaan intelektual, serta membuka pasar domestiknya pada  investor dari luar.

Sementara sebagai imbalannya, Washington bersedia membatalkan rencana penaikkan tarif masuk yang sedianya mulai efektif pada 15 Desember lalu. Washington bahkan telah memotong tarif masuk atas produk China yang selama ini berlaku menjadi sebesar 7,5% dari sebelumnya sebesar 15% untuk produk China senilai $120 miliar.

Praktis kesepakatan tersebut mendapat sambutan hangat pelaku pasar, dan bursa saham global berlomba membukukan kenaikan indeks dalam taraf tajam.  Bahkan pada sesi perdagangan awal pekan kemarin di Amerika Serikat, indeks Wall Street masih mampu melanjutkan gerak naik tajamnya dengan bekal sentimen yang masih sama.

Kenaikan tajam pada  indeks Wall Street tersebut kemudian menjadi bekal bagi pelaku pasar di Asia dalam menjalani sesi perdagangan hari kedua pekan ini, Selasa 17 Desember.  Secara keseluruhan, investor di Asia terlihat masih menaruh sikap optimis di sepanjang sesi perdagangan.

Gerak indeks oleh karenanya mampu bertahan di zona hijau dalam rentang yang bervariasi setelah sempat mixed di sesi perdagangan pagi.  Pantauan hingga sesi perdagangan ditutup di Asia menunjukkan, kenaikan paling tajam yang dibukukan bursa saham Hong Kong, dengan indeks Hang Seng melompat 1,22% untuk berakhir di 27.843,71.

Lonjakan tajam juga dibukukan bursa saham Korea Selatan, dengan indeks KOSPI melambung 1,27% untuk terhenti di 2.195,68. Sedangkan pada bursa saham Jepang, indeks Nikkei hanya menguat 0,47% untuk singgah di 24.066,12. Dan pada bursa saham Australia, gerak indeks ASX 200 harus terpeleset di zona merah dengan menurun tipis 0,04% untuk parkir di 6.847,3 akibat terdera sentimen internal.

Dengan kepungan sentimen yang masih positif di sesi perdagangan Asia, gerak indeks harga saham gabungan (IHSG) di bursa saham Indonesia terlihat masih kesulitan untuk terangkat secara signifikan. Pelaku pasar di Jakarta terlihat masih terkungkung oleh sentimen internal suram dari rilis data neraca dagang yang membukukan defisit cukup besar pada November lalu.

Tekanan jual akhirnya masih muncul dan sekaligus menghambat sokongan sentimen positif dari pasar global. Gerak IHSG kemudian konsisten manapak rentang terbatas di sepanjang sesi hari ini. IHSG lalu menutup sesi hari ini dengan menguat signifikan 0,52% untuk singgah di 6.244,35.

Gerak IHSG yang terjebak di rentang sempit kali ini juga tercermin pada pola gerak harga sejumlah saham unggulan. Pantauan lebih rinci menunjukkan, sejumlah saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan berdasar nilai perdagangan yang masih berhasil bertahan di zona hijau, diantaranya adalah: BBCA, BBRI, TLKM, ADRO, UNTR, ICBP, KLBF, UNVR, CPIN, PGAS, serta SMGR.

Sedangkan sejumlah saham unggulan lain terpaksa terseok di zona merah, seperti: ASII, PTBA, serta BNLI.

Sentimen internal suram yang sama dari  defisit neraca dagang juga berimbas di pasar valuta. Sentimen internal yang suram ini sekaligus mampu menepis sentimen positif dari pasar global dengan runtuhnya posisi indeks Dolar AS.

Gerak nilai tukar Rupiah akhirnya terjebak di rentang terbatas dan cenderung melemah di sepanjang sesi hari ini. Sokongan dari runtuhnya indeks Dolar AS gagal menjadikan Rupiah untuk kembali mengandangkan Dolar AS di kisaran Rp13.900-an. Dolar AS yang lagi terpuruk oleh sentimen tersegelnya kesepakatan dagang AS-China, kini terhadang  oleh nasib Rupiah yang lebih buruk akibat sentimen defisit neraca dagang.

Hingga sesi perdagangan sore ini berlangsung, Rupiah terlihat mulai berupaya menjangkau zona penguatan dengan ditransaksikan di kisaran Rp13.985 per Dolar AS atau menguat 0,11% dibanding posisi penutupan sesi perdagangan hari sebelumnya.[]

Top