Stasiun Para Politisi

Stasiun Para Politisi
Ilustrasi/Net

ANDA yang bepergian menggunakan kereta akan merasakan pelayanan istimewa dari stasiun. Bangunan tertata rapih dengan fasilitas modern, serasa berada di bandara di tanah air. Tidak seperti sebelumnya, stasiun kereta kumuh dan semrawut.

Stasiun kereta adalah cerminan manusia modern Indonesia, pelayanan adalah pertama selebihnya terserah Anda. Apakah akan menjadi modern sesungguhnya atau hanya larut dalam cita rasa.

Demikian juga dengan para politisi yang kini duduk manis di stasiun. Berkuasa seperti fungsi stasiun yang memberikan pelayanan bagi siapa saja yang datang, tanpa membedakan status sosial.

Kebanyakan politisi memandang kekuasaan adalah pencapaian terakhir dari jerih payah kontestasi. Berpolitik adalah seni menggunakan nalar kreatif untuk meraih kekuasaan, meski harus menghalalkan segala cara.

Idealnya, berkuasa adalah momentum mementingkan publik dengan segala cita rasa membahagiakan. Bukan menjadi ajang pamer bahkan kesempatan untuk menarik keuntungan materi karena modal berpolitik tidak murah.

Namun tak bisa dipungkiri, stasiun politisi akhirnya tidak seindah stasiun kereta dewasa ini. Kebanyakan dari mereka yang sukses mendapatkan kue kekuasaan cendrung mempatkan kepentingan publik di karpet merah. Mereka lebih senang menjadikan karier politik sebagai cara untuk meraih sebanyak mungkin keuntungan buat pribadi dan golongannya.

Berkuasa adaalah amanah paling berat dalam hajat hidup insan di muka bumi. Bahkan untuk kekuasaan paling dekat dalam diri kita; kekuasan untuk berkata dan berbuat dengan raga. Semuanya akan ada pertanggungjawaban baik di dunia maupun di hari kelak.

Setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya, yang jika dia tidak bisa berhasil memimpin jiwa raganya maka akan paralel dengan kepemimpinan selanjutanya, dari keluarga, masyarakat hingga negara bangsa.

Politisi yang sepintas di ruang publik sukses mentereng belum tentu dalam memimpin dirinya amanah. Banyak terjadi politisi gagal mengendalikan hawa nafsu hingga akhirnya tertangkap melanggar norma hukum.

Stasiun politisi kita boleh jadi terjebak pada cita rasa di ruang publik. Tapi sepi dari kosakata pengabdian pada masyarakat, yang pada gilirannya satu saat nanti akan terlihat terang benderang. Apakah dia berhasil ataukah akhirnya terkuat topengnya.[]

Top